Apa yang membuat anak merasa aman dan nyaman di sekolah? Jawabannya tidak selalu sama. Karena itu, membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) perlu dimulai dengan melihat kondisi setiap sekolah dan mendengarkan suara anak.
Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pelatihan yang diberikan KREASI Morotai kepada Tim Perlindungan Anak Sekolah (PAS) di sekolah dampingan Kecamatan Morotai Selatan Barat pada 22–25 Juni 2026. Sebagai tim yang berperan dalam mendorong terwujudnya BSAN di sekolah masing-masing, Tim PAS dibekali pemahaman dan keterampilan yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah.
Kampanye BSAN menjadi salah satu tindak lanjut dari pelatihan tersebut. Sebelum menyiapkan kampanye, masing-masing Tim PAS berdiskusi dengan anak-anak di sekolahnya. Mereka menggali hal-hal yang dianggap penting oleh anak dalam lingkungan belajar mereka. Hasil diskusi tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan topik kampanye di masing-masing sekolah. Karena disusun berdasarkan kondisi dan hasil diskusi di setiap sekolah, topik yang diangkat pun berbeda. Setiap Tim PAS menyiapkan dan melaksanakan kampanye di sekolahnya sendiri, dengan anak menjadi bagian dari proses tersebut.
Kampanye BSAN dilaksanakan pada 27–29 Juli 2026 di delapan sekolah di Kecamatan Morotai Selatan Barat. Selain anak, kegiatan melibatkan Tim PAS dan kepala sekolah, orang tua, perangkat desa, perwakilan Kementerian Agama, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pengendalian Penduduk dan Catatan Sipil (Dukcapil) dan serta Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA).
Pelibatan berbagai pihak membuka ruang bagi sekolah dan orang dewasa di sekitar anak untuk memahami persoalan yang dihadapi anak dari sudut pandang yang lebih beragam. Bagi sekolah, proses ini juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali hal-hal yang sudah dilakukan serta apa yang masih perlu diperkuat.
Di salah satu sekolah, misalnya, hasil diskusi dengan anak mengarah pada topik perundungan. Fahima, kepala sekolah di sekolah tersebut melihat kampanye tersebut sebagai kesempatan bagi guru dan anak di sekolahnya untuk memahami lebih jauh tentang pencegahan perundungan.
“Kampanye di sekolah kami mengangkat topik perundungan. Melalui kampanye ini, kami jadi lebih memahami upaya pencegahan perundungan. Hal ini menarik bagi saya, guru-guru, dan anak-anak karena mereka jadi tahu bagaimana mencegah perundungan di sekolah dan apa yang perlu dihindari,” kata Fahima.
Selain melalui diskusi dengan anak, perhatian terhadap kebutuhan mereka juga diwujudkan melalui pendataan kepemilikan akta kelahiran yang dilakukan sebelum kampanye. Masing-masing sekolah mendata anak yang belum memiliki dokumen identitas tersebut untuk mengetahui siapa saja yang membutuhkan tindak lanjut.
Akta kelahiran merupakan bagian dari identitas anak dan salah satu dokumen penting dalam pemenuhan hak anak sebagai warga negara. Karena itu, kebutuhan yang ditemukan melalui pendataan tidak berhenti pada proses identifikasi.
KREASI Morotai berkolaborasi dengan Dinas Dukcapil untuk menindaklanjuti kebutuhan anak yang belum memiliki akta kelahiran. Kolaborasi ini menghubungkan kebutuhan yang ditemukan di sekolah dengan pihak yang memiliki kewenangan dalam penerbitan dokumen identitas anak.
Bagi KREASI Morotai, kampanye BSAN menjadi ruang bagi Tim PAS untuk menerapkan pemahaman yang diperoleh melalui pelatihan sekaligus mengajak lebih banyak pihak terlibat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak. Prosesnya dimulai dari mendengarkan anak, menentukan isu yang relevan di setiap sekolah, hingga menindaklanjuti kebutuhan yang ditemukan melalui kolaborasi. Dengan cara tersebut, BSAN tidak berhenti sebagai pemahaman bagi Tim PAS, tetapi mulai diterapkan dalam kehidupan sekolah melalui langkah-langkah yang berangkat dari kebutuhan anak.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor:Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children