Selama bertahun-tahun, mengamati, menganalisis dan memberitakan dinamika sosial adalah bagian dari napas hidup Bayu. Sebagai seorang jurnalis, ia terbiasa berdiri di balik layar—menjadi saksi yang mewartakan berbagai peristiwa, termasuk potret buram dunia pendidikan. Namun, ada satu kesadaran yang terus mengusik benaknya: berita yang terbit di media belum tentu otomatis menyelesaikan akar masalah di lapangan.
“Mengangkat persoalan ke ruang publik itu penting, tetapi turun tangan langsung untuk menyelesaikan masalah adalah panggilan nurani,” ujar Bayu.
Panggilan untuk membawa perubahan nyata itu akhirnya menemukan jalannya. Melangkah dari kenyamanan ruang berita, Bayu memutuskan untuk mengambil peran sebagai Fasilitator Daerah Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) KREASI Ketapang.
“Pertimbangan utama saya sederhana: keinginan untuk berkontribusi secara langsung,” ungkap Bayu tegas. “Saya percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan ruang belajar yang aman dan nyaman dalam mendukung tumbuh kembang mereka bebas dari perundungan, kekerasan, maupun diskriminasi.”
Menjawab Realitas: Menggeser Sanksi Menjadi Budaya
Urgensi kehadiran BSAN di Kabupaten Ketapang dan sekitarnya bukanlah hal yang diada-adakan. Menatap realitas maraknya kasus perundungan dan kekerasan yang melibatkan anak usia sekolah dalam beberapa waktu terakhir, Bayu menyadari bahwa masalah ini tak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan hukum atau sanksi semata.
Ia menyoroti bahwa kekerasan seringkali berakar dari sistem, pola komunikasi, dan iklim lingkungan yang belum mendukung perlindungan anak secara utuh. BSAN hadir sebagai jawaban atas pendekatan yang lebih preventif dan partisipatif.
“Perlindungan anak bukan hanya soal menangani kasus ketika masalah sudah muncul. Yang jauh lebih krusial adalah bagaimana kita menciptakan ekosistem sekolah yang mampu mencegah masalah itu hadir sejak awal,” terang Bayu.
Kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitator Daerah BSAN KREASI Ketapang pada 8-12 Juni 2026 yang telah diikutinya kian membuka cara pandang baru bagi Bayu: penguatan sekolah bukan sekadar memoles prestasi akademik, melainkan membangun kualitas relasi antar-manusia di dalamnya. Ketika anak merasa dihargai dan dilindungi, ruang kelas menjadi bahagia, dan proses belajar akan berdampak langsung pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Ketapang.
Mengawal BSAN Agar Tak Sekadar Jadi Jargon
Satu tantangan besar dalam setiap program baru adalah risiko berakhir menjadi beban administrasi belaka. Berbekal potensi jejaring publik dan kedekatannya dengan media, Bayu bertekad mengawal agar BSAN benar-benar “hidup” dan dihidupi oleh warga sekolah.
Ia mendorong pentingnya penguatan jaringan publik untuk menggemakan praktik-praktik baik (good practices) dari sekolah-sekolah ke ruang luas. Bahkan, Bayu memberi gagasan strategis agar Pemerintah Daerah melibatkan kolaborasi elemen Fasda dan Media ke dalam Pokja BSAN guna mengoptimalkan fungsi Monitoring dan Evaluasi (Monev) secara lebih transparan dan kualitatif.
“Sebuah program akan hidup jika manfaatnya dirasakan langsung oleh pelaksana. Jika guru, murid, dan orang tua sudah merasakan dampaknya, maka BSAN akan tumbuh menjadi budaya masyarakat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.”
Investasi Masa Depan dari Tapak Sekolah
Mengakhiri komunikasinya dengan penuh kehangatan, Bayu menitipkan pesan mendalam untuk pendidik di sekolah dampingannya yan akan di mulai ditingkatkan kapasitasnya Juli mendatang.
Bagi para guru di pelosok dan sudut-sudut Ketapang, ia menegaskan kehadirannya bukan untuk menghakimi, melainkan untuk berjalan beriringan. Perubahan mungkin tak terjadi dalam semalam, tetapi keterbukaan dan konsistensi akan membuka jalan menuju sekolah yang ramah anak.
“Komitmen saya adalah mendampingi dengan sepenuh hati, mendengar dengan empati, serta bersama-sama mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Sebab pada akhirnya, setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini adalah investasi besar bagi masa depan anak-anak kita,” pungkas Bayu.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Ketapang dikelola Save the Children dan diimplementasi Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Ketapang dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Afriyandi Nur Huda | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Afriyandi Nur Huda/KREASI/Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah/Save the Children