Skip to content Skip to footer

Menguatkan Guru, Menghidupkan Literasi: Mempersiapkan Fasilitator Daerah di Pesisir Barat

Selama lima hari, pada 19–23 Mei 2026 di Krui, Pesisir Barat dipenuhi semangat belajar dari para guru yang datang sebagai calon fasilitator daerah Program KREASI. Sebanyak 20 fasilitator daerah (Fasda) mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas pengajaran literasi di kelas, sebuah langkah awal sebelum mereka nantinya mendamping 90 guru di 30 sekolah mitra tahun kedua program.

Pelatihan ini bukan sekadar ruang transfer materi. Sejak hari pertama, para peserta diajak memahami bahwa mereka adalah ujung tombak perubahan praktik belajar di sekolah. Dalam sambutannya, berbagai pihak dari Dinas Pendidikan, Kemenag, hingga tim KREASI menekankan pentingnya kolaborasi untuk memperkuat kualitas pendidikan dan literasi anak-anak di Pesisir Barat.

Selama pelatihan berlangsung, kegiatan berjalan intensif mulai pukul 08.00 hingga 16.00 setiap harinya. Namun suasana kelas jauh dari kesan kaku dan formal. Metode yang digunakan sangat aktif dan partisipatif. Peserta tidak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi juga terus terlibat dalam simulasi, role play, microteaching, diskusi kelompok, refleksi pengalaman pribadi, hingga praktik pendampingan guru.

Berbagai topik penting dibahas selama lima hari tersebut. Peserta belajar tentang kebiasaan membaca dan bagaimana menciptakan lingkungan kelas kaya literasi, melakukan asesmen membaca, memetakan kemampuan siswa, hingga memahami pembelajaran diferensiasi, kelas inklusi, dan pendidikan peduli iklim. Mereka juga mempraktikkan cara mengajarkan kosa kata, pemahaman bacaan, serta kelancaran membaca melalui pendekatan yang lebih menyenangkan dan sesuai kebutuhan murid.

Salah satu hal yang paling terasa selama pelatihan adalah bagaimana pengalaman pribadi para guru ikut dihadirkan dalam proses belajar. Saat sesi refleksi tentang pengalaman belajar membaca waktu kecil, beberapa peserta membagikan cerita yang begitu dekat dengan realitas pendidikan di lapangan. Ada yang mengaku baru lancar membaca saat kelas tiga karena merasa tertinggal dari teman-temannya. Ada juga yang belajar membaca karena takut dihukum orang dewasa. Dari cerita-cerita sederhana itu, peserta bersama-sama menyadari bahwa proses belajar anak seharusnya tidak dibangun dari rasa takut, melainkan dari rasa aman dan dukungan.

Metode learning by doing menjadi kekuatan utama pelatihan ini. Hampir di setiap sesi, peserta langsung mempraktikkan apa yang dipelajari. Mereka melakukan simulasi asesmen membaca, menyusun RPP, mempraktikkan pembelajaran interaktif, hingga melakukan simulasi pendampingan guru.

Para pelatih utama daerah, Ilona dan Pia, tidak hanya memberi materi, tetapi juga memberi contoh langsung bagaimana menciptakan pembelajaran yang reflektif, aktif, dan berpihak pada murid.

Suasana pelatihan terasa hangat dan penuh antusiasme. Para peserta aktif bertanya, berbagi pengalaman, bahkan saling memberi umpan balik secara reflektif. Di sela sesi, peserta juga beberapa kali memimpin ice breaking dan energizer secara mandiri agar energi belajar tetap terjaga. Meski sempat ada tantangan seperti kondisi ruangan yang panas dan fokus peserta yang menurun menjelang istirahat, secara umum pelatihan berjalan sangat hidup dan kolaboratif.

Dari berbagai diskusi yang muncul, terlihat bahwa para guru di Pesisir Barat memiliki kepedulian besar terhadap kondisi belajar murid di sekolah mereka. Mereka membahas rendahnya budaya membaca, keterbatasan buku, hingga tantangan menghadirkan pembelajaran yang sesuai kebutuhan anak. Namun di saat yang sama, pelatihan ini juga membuka harapan baru bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang konsisten dilakukan guru di kelas.

Menjelang akhir kegiatan, para fasilitator daerah mulai menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk pelatihan dan pendampingan guru di sekolah mitra. Mereka berdiskusi tentang strategi membangun komitmen guru, menjaga komunikasi dengan sekolah, hingga memastikan pendampingan berjalan tanpa mengganggu proses belajar murid di kelas.

Pelatihan ini diharapkan menjadi awal lahirnya lebih banyak praktik baik literasi di sekolah-sekolah Pesisir Barat. Para fasilitator daerah tidak hanya diharapkan mampu melatih guru, tetapi juga menjadi pendamping yang membantu guru berefleksi, bertumbuh, dan terus belajar bersama.

Melalui kolaborasi antara sekolah, guru, fasilitator, dan berbagai pihak dalam Program KREASI, harapannya semakin banyak anak di Pesisir Barat yang dapat merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan, inklusif, dan benar-benar mendukung perkembangan mereka.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pesisir Barat dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Yayasan Guru Belajar, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Clara Sidharta | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Clara Sidharta/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children