Skip to content Skip to footer

Kisah Rima: Membangun Sekolah Aman dan Nyaman Dimulai dari Guru yang Terus Belajar

Rima adalah fasilitator daerah Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sekaligus guru kelas satu di salah satu sekolah dasar dampingan KREASI Morotai.

Di sekolah tempat Rima mengajar telah terbentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), yang kini dikenal sebagai Tim Perlindungan Anak Sekolah (Tim PAS). Namun, pada saat itu para guru belum pernah mendapatkan pelatihan maupun sosialisasi khusus mengenai peran, tugas, dan tanggung jawab tim tersebut. Akibatnya, penanganan kasus sering kali dilakukan berdasarkan pemahaman dan pengalaman masing-masing guru.

Keterbatasan pemahaman itulah yang mendorong Rima mendaftar sebagai fasilitator daerah BSAN Program KREASI di Morotai. Ia melihat kesempatan tersebut sebagai ruang untuk belajar lebih banyak tentang perlindungan anak dan cara menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi seluruh siswa.

Melalui pelatihan fasilitator daerah BSAN, Rima mulai memahami bahwa menciptakan sekolah yang aman dan nyaman tidak cukup hanya dengan menegur atau menasihati anak ketika terjadi masalah. Sekolah juga perlu memiliki mekanisme yang jelas untuk mencegah, menangani, dan menindaklanjuti kasus kekerasan.

Materi tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman membantunya melihat kondisi sekolah dari sudut pandang yang berbeda. Ia belajar mengenali berbagai bentuk kekerasan, memetakan persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah, serta memahami pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam melindungi anak.

Pelatihan tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi Rima. Ia menyadari bahwa dalam upaya mendisiplinkan siswa, dirinya pernah menggunakan cara yang ternyata tidak tepat.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa menghentikan kekerasan tidak cukup hanya dengan niat baik. Dibutuhkan pengetahuan dan pendekatan yang tepat agar anak merasa aman sekaligus mendapatkan pendampingan yang sesuai.

Berbekal pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan, Rima berencana membagikan kembali materi yang ia pelajari kepada rekan-rekan guru di sekolahnya. Ia berharap semakin banyak guru yang memiliki pemahaman dan keterampilan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang setiap anak.

“Saya sudah banyak mencatat selama pelatihan. Nanti saya ingin berbagi dengan teman-teman guru supaya kami bisa belajar bersama,” katanya.

Bagi Rima, pelatihan ini tidak hanya menambah pengetahuan baru, tetapi juga membantunya memahami bahwa menghentikan kekerasan membutuhkan cara yang tepat. Pemahaman tersebut menjadi bekal penting untuk mendampingi anak-anak sekaligus mengajak lebih banyak guru membangun lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children