Skip to content Skip to footer

Save the Children dan Kemendikdasmen Perkuat Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Save the Children melalui Program KREASI bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengadakan seminar yang mengambil tema Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) dengan topik “Penguatan Karakter dan Perlindungan Murid di Sekolah” pada 25 Mei 2026 di Kantor Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta Selatan. 

Acara ini dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti yang menyampaikan soal BSAN hadir sebagai upaya pencegahan terhadap perundungan. Ia melihat perundungan bisa berbagai bentuk, sehingga membangun budaya adalah upaya yang lebih struktural.

“Keberhasilan pendidikan itu salah satunya ditentukan oleh bagaimana kita mampu menciptakan lingkungan fisik dan sosial yang aman bagi anak-anak kita untuk dapat belajar sebaik-baiknya,” ujar Mu’ti.

“Berbagai hal harus kita lakukan untuk sekolah menjadi yang aman dan nyaman. Makanya kita memilih budaya, bukan sekadar kebijakan, bukan program. Sebab pendidikan itu kita baca dalam UU Sisdiknas tujuannya membangun budaya dan karakter,” sambungnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar menyampaikan bahwa melalui program KREASI, BSAN diintegrasikan ke dalam implementasi program.

“Save the Children percaya bahwa budaya sekolah tidak bisa dibangun secara instan, tetapi harus ditumbuhkan melalui nilai, kebiasaan, komitmen bersama, serta kolaborasi multisektor mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah hingga sekolah, melalui pendekatan program penguatan kapasitas guru dan tenaga pendidik, penguatan sistem perlindungan anak di sekolah, pelibatan keluarga dan komunitas, serta mitra pembangunan,” ujar Dessy.

Sesi diskusi seminar membahas regulasi dan implementasi BSAN yang menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan berpihak pada anak. 

Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T Kemendikdasmen, Rita Pranawati, menegaskan bahwa BSAN bertujuan menciptakan sekolah sebagai ruang tumbuh yang aman dan nyaman bagi anak. 

“Sekolah itu sebenarnya tempat tumbuh dan berkembang. Tempat yang harusnya anak-anak merasa aman dan nyaman,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, menjelaskan bahwa implementasi BSAN dilakukan melalui penguatan tata kelola sekolah, disiplin positif, dan keterlibatan seluruh warga sekolah. 

“Budaya sekolah aman dan nyaman ini sejatinya menjadi tanggung jawab semua guru, kepala sekolah, dan juga harus melibatkan murid,” katanya.

Menurut Plt. Deputi Pemenuhan Hak Anak KemenPPPA, Rini Handayani, menegaskan bahwa perlindungan anak harus menjadi gerakan bersama antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. 

“Sekolah itu adalah rumah kedua dari anak-anak,” ujarnya.

Selanjutnya, Senior Director Advocacy, Campaign and Government Relations Save the Children Indonesia, Tata Sudrajat, menekankan bahwa perlindungan anak tidak hanya soal mencegah kekerasan, tetapi juga memastikan adanya sistem pendampingan bagi anak. 

Sementara itu, Direktur Yayasan Keluarga Kita, Siti Nurandini, menyoroti pentingnya pengasuhan positif dan komunikasi hangat dalam keluarga untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak.