Skip to content Skip to footer

Dari Desa di Nias Utara, Tumbuh Praktik Baik Kepemimpinan Kepala Sekolah

Pagi di salah satu desa di Nias Utara, dimulai dengan langkah-langkah kecil anak-anak menuju sekolah. Sebagian berjalan kaki melewati jalan desa yang telah beraspal, sebagian lainnya mengayuh sepeda, dan ada juga yang diantar orang tua menggunakan sepeda motor. Bagi mereka, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan harapan untuk membuka peluang masa depan yang lebih baik.

Di tengah desa berdiri sebuah SD. Sekilas, sekolah ini tampak seperti sekolah desa pada umumnya bangunan sederhana dengan halaman luas dan suara riuh anak-anak saat jam istirahat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perubahan perlahan mulai tumbuh. Proses pembelajaran tidak lagi hanya mengandalkan papan tulis dan buku pelajaran. Media pembelajaran digital mulai hadir di kelas, membuat suasana belajar lebih interaktif dan menarik.

Perubahan ini tidak terjadi secara kebetulan. Di baliknya, ada peran kepala sekolah, Talibudi, yang meyakini bahwa sekolah di desa pun mampu berkembang dan beradaptasi dengan zaman.

Talibudi bukanlah sosok yang asing dengan kondisi desa ini. Ia tumbuh besar di lingkungan yang sama dan merasakan langsung perjuangan untuk memperoleh pendidikan. Sejak sekolah dasar, ia harus berjalan kaki sekitar dua kilometer setiap hari. Saat melanjutkan ke jenjang SMP, jarak tempuhnya bahkan mencapai enam kilometer. Pengalaman hidup tersebut membentuk ketekunan dan daya juang yang kuat dalam dirinya.

Perjalanannya menjadi pendidik dimulai setelah lulus SMA pada tahun 1998, ketika ia bekerja sebagai guru honorer. Awalnya, profesi guru bukanlah cita-cita utamanya. Namun, interaksi dengan siswa dan pengalaman mengajar perlahan mengubah pandangannya. Ia menemukan makna dalam proses belajar mengajar dan memutuskan untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan. Pada tahun 2005, ia diangkat sebagai pegawai negeri sipil, dan pada tahun 2022 dipercaya menjadi kepala sekolah di SD ini.

Saat mulai memimpin, ia menghadapi tantangan dalam proses pembelajaran yang masih cenderung konvensional. Guru lebih banyak menyampaikan materi secara satu arah, sementara pemanfaatan teknologi masih terbatas pada kebutuhan administrasi. Padahal, siswa yang mereka ajar adalah generasi yang tumbuh di era digital.

Upaya perubahan sebenarnya telah mulai ia lakukan bersama para guru. Namun, keterlibatannya dalam program KREASI memberikan ruang belajar baru yang semakin memperkaya perspektifnya sebagai pemimpin pembelajaran. Melalui proses pengimbasan dari kepala sekolah dampingan KREASI serta partisipasinya dalam berbagai kegiatan pelatihan, Talibudi memperoleh pengalaman dan praktik baik yang kemudian ia adaptasi sesuai dengan kebutuhan dan konteks sekolahnya.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa perubahan pembelajaran perlu didorong secara kolaboratif dan berkelanjutan. Bahkan, sebelum terlibat dalam program KREASI, ia telah mengambil langkah strategis dengan menginisiasi forum belajar guru bernama Wordusaming. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap minggu setelah jam pelajaran.

Pengalaman dan praktik baik tersebut kemudian ia bagikan kepada para kepala sekolah dampingan KREASI dalam berbagai kesempatan, khususnya pada kegiatan pelatihan dan penulisan praktik baik di sekolah. Melalui berbagi pengalaman ini, ia berharap dapat mendorong lahirnya inisiatif serupa di sekolah lain.

Pada hari Jumat, kepala sekolah memberikan penguatan materi terkait pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Sementara pada hari Sabtu, guru belajar dalam kelompok kecil melalui pendekatan tutor sebaya. Guru yang telah lebih dahulu memahami teknologi membantu rekan-rekannya untuk belajar dan berkembang bersama.

Melalui Wordusaming, guru didorong untuk saling berbagi praktik dan mencoba hal-hal baru dalam pembelajaran. Secara bertahap, para guru mulai mampu membuat media pembelajaran digital sederhana dan memanfaatkan berbagai aplikasi untuk mendukung proses belajar mengajar.

Hasilnya mulai terlihat. Sekitar 80 persen guru kini mampu menggunakan perangkat digital secara mandiri. Berbagai aplikasi seperti Canva, Padlet, dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dimanfaatkan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih variatif dan menarik. Di kelas, siswa menjadi lebih aktif, berani bertanya, dan terlibat dalam proses belajar.

Bagi Talibudi, Wordusaming bukan sekadar program peningkatan kapasitas, tetapi juga upaya membangun budaya belajar di kalangan guru. Ia meyakini bahwa perubahan dalam pendidikan dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kepada para guru, ia selalu menanamkan semangat untuk terus berkembang:

“Bergeraklah terus, jangan pernah berhenti belajar.”

Sementara kepada siswa, ia menanamkan keyakinan sederhana:

“Dengan berlatih, pasti berhasil.”

Di desa ini, perubahan mungkin tidak terjadi secara instan. Namun melalui kepemimpinan yang reflektif dan kolaboratif serta dukungan pengalaman belajar dari berbagai pihak langkah-langkah kecil tersebut telah menghadirkan dampak nyata. Praktik baik ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari sekolah mana pun, termasuk dari desa kecil di Nias Utara, selama ada komitmen untuk terus belajar dan bergerak bersama.

_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education (GPE), dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Kementerian Agama (Kemenag) dalam konsorsium Mitra Pendidikan Indonesia (MPI). KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Article 33 Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Utara. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Calvin Telaumbanua | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Calvin TelaumbanuaKREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children