KREASI Halmahera Utara bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku Utara melaksanakan Supervisi Kepala Madrasah pada 13-15 Januari 2026. Sebanyak 39 kepala madrasah di Kabupaten Halmahera Utara dilibatkan sebagai peserta. Kegiatan diikuti oleh kepala madrasah yang terdiri dari MI: 21, RA: 13, MTs: 2, MA: 3. Kegiatan supervisi ini merupakan yang pertama dilakukan di Halmahera Utara setelah diselenggarakan terakhir pada tahun 2021.
Pelatihan ini merupakan terobosan perdana di Maluku Utara yang berfokus pada implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan penguatan kompetensi manajerial kepala madrasah. Modul yang digunakan dalam kegiatan ini juga berdasarkan standar dari Kementerian Agama, kegiatan ini membekali 39 peserta dengan pemahaman baru mengenai teknik supervisi guru yang selama ini belum dikuasai secara mendalam.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ketua Pokjawas Madrasah Nasional Kemenag RI, Zurni, bersama Ketua Pokjawas Provinsi Maluku Utara, Ridwan Husein, dan Ketua Pokjawas Kabupaten Halmahera Utara, Yusri Siraju.
Agenda utama mencakup pembahasan supervisi manajerial, peran strategis kepala madrasah, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, hingga sosialisasi pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) sesuai Permen No. 73 Tahun 2024.
Selain penguatan kapasitas kepemimpinan, pelatihan ini menekankan pentingnya karakter siswa yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan toleransi. Kepala madrasah diarahkan untuk mengintegrasikan pendekatan kurikulum berbasis cinta guna menciptakan budaya sekolah yang positif, moderat, serta inklusif.
Salah satu hal yang menarik dalam kegiatan ini adalah bagaimana praktik panca cinta diterapkan langsung oleh pemateri dan peserta kegiatan. Peserta diwajibkan untuk melepas sepatu dan menyusun secara rapi di luar ruang pertemuan. Sebelum melakukan kegiatan, peserta diminta untuk melakukan persiapan diri dan berdoa agar fokus dalam mengikuti pelatihan.
Selain itu, pada sesi coffee break, peserta diminta untuk duduk bersama di lantai, lalu makanan dan minuman disajikan oleh peserta. Hal ini mendukung belajar mengenai etika dan menghargai suatu proses bagaimana makanan dihidangkan dan dapat dikonsumsi. Bukan hanya adab dan etika yang diajarkan dalam prosesi ini, melainkan juga disampaikan cerita dari segelas teh atau kopi dan sepiring jajanan pasar yang disajikan di hadapan peserta.
Fasilitator menarasikan bagaimana segelas teh tersebut dapat dihidangkan berkat para petani yang menanam dan memetik teh, diolah oleh pekerja pabrik, didistribusikan oleh distributor, dijual oleh pedagang, dimasak oleh staf hotel, dan disajikan oleh sesama peserta. Hal ini mengajarkan kepada peserta bahwa setiap tetes minuman yang diminum mengisyaratkan bahwa ada banyak orang yang berkontribusi, sehingga harus dihargai dengan tidak membuang makanan atau minuman.
Begitu juga untuk sajian makan siang, peserta juga diceritakan narasi terkait bagaimana makan siang tersebut dapat terhidang di hadapan peserta kegiatan. Setelah makan siang, peserta juga diminta untuk mencuci peralatan makan yang digunakan. Hal ini mengajarkan adab terkait kebersihan.
Salah seorang kepala sekolah madrasah ibtidaiyah negeri, Numaira, merasa kegiatan ini sangat membantu kebutuhan manajerial dan berharap program serupa terus berlanjut. Menurutnya, kegiatan ini melibatkan aspek spiritual dan emosional dalam setiap aktivitas untuk menciptakan budaya kerja yang lebih humanis.
Materi yang disampaikan dinilai krusial bagi kepemimpinan madrasah, terutama dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Fokus tidak hanya pada aspek praktis, tetapi juga memberikan teknik konkret bagi kepala madrasah dalam mensupervisi guru. Penerapan nilai melalui tindakan nyata seperti memulai dengan doa, menikmati hidangan dengan kesadaran penuh, serta mandiri dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan merupakan hal yang perlu diterapkan oleh Kepala Madrasah agar dapat menjadi teladan bagi sivitas madrasah.
Edukasi langsung mengenai pengelolaan sampah dan penggunaan tumbler untuk mengurangi limbah plastik, juga merupakan bentuk mengasihi lingkungan dan Upaya pencegahan dampak negatif perubahan iklim, yang bisa berdampak pada manusia itu sendiri.
Pada kegiatan ini disampaikan juga pentingnya pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kasus (TPPK) di madrasah. Selain untuk membentuk lingkungan belajar yang aman, kondusif, dan ramah bagi siswa, pembentukan TPPK ini bertujuan agar madrasah memiliki mekanisme penanganan kasus kekerasan dan pelecehan pada anak yang jelas dan transparan. Sering kali penanganan kasus kekerasan dan pelecehan pada anak berada di ranah abu-abu dan tabu untuk dibahas, yang pada akhirnya menimbulkan asumsi di masyarakat.
Pengawas madrasah, Yusri, mengungkapkan bahwa aspek krusial yang ditekankan pada sesi ini adalah urgensi pembentukan TPPK yang aktif dan terstruktur di setiap madrasah guna menjamin penyelesaian masalah yang lebih transparan dan tidak bias di masyarakat.
Lebih lanjut, Yusri menjelaskan bahwa muara dari kegiatan ini adalah internalisasi nilai “Panca Cinta” dan karakter melalui kegiatan kokurikuler serta penerapan konsep eco-theology dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sebagai rencana tindak lanjut (RTL), setiap kepala madrasah diwajibkan untuk segera menerapkan nilai-nilai tersebut di instansi masing-masing dan mensosialisasikannya kepada rekan sejawat. Pihak pengawas juga akan berkoordinasi dengan Kemenag untuk melakukan monitoring intensif serta menentukan madrasah piloting sebagai percontohan sukses bagi penerapan kurikulum yang humanis dan berkelanjutan ini.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI di Halmahera Utara dijalankan oleh Save the Children dan mitra pelaksana lokal Wahana Visi Indonesia didukung Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara Utara, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Devina Prim Kesumaningtyas; Yatno Punyia | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Dok. KREASI/Wahana Visi Indonesia/Save the Children