Wahid, salah seorang guru sekolah dasar di Kabupaten Pesisir Barat, masih ingat betul kondisi sekolahnya sebelum berkolaborasi dengan Program KREASI Pesisir Barat. Berbagai keterbatasan terasa nyata dan telah lama menjadi bagian dari keseharian.
“Kekurangan itu pasti ada,” ujarnya pelan. Namun, justru dari kondisi itulah ikhtiar-ikhtiar kecil mulai tumbuh.
Berangkat dari pelatihan penguatan lingkungan kaya literasi yang diselenggarakan KREASI Pesisir Barat, Wahid mulai membayangkan perubahan di ruang kelasnya. Ia teringat sudut kelas yang selama ini kosong dan jarang dilirik siswa. Sepulang dari pelatihan, Wahid bersama guru-guru lainnya menata sudut tersebut menjadi pojok baca. Bagi mereka, pojok baca bukan sekadar pelengkap kelas, melainkan ruang sederhana yang diharapkan dapat mendekatkan anak-anak dengan buku dan aktivitas membaca.
Wahid tidak hanya meminta anak-anak membaca, tetapi juga mengajak mereka menuliskan perasaannya. Jawabannya sering kali polos dan terbalik-balik antara perasaan dan kata baru yang mereka temukan. Wahid hanya tersenyum melihatnya. Baginya, itu bukan kesalahan. “Namanya juga anak-anak,” katanya.
Perubahan juga perlahan merambat ke dinding kelas. Dinding kelas yang sebelumnya polos kini dipenuhi hasil karya siswa. Wahid menyebutnya dengan nada bercanda, “Dulu kelas seperti wajah yang terlalu kinclong, sekarang mulai punya cerita.”
Seiring berjalannya waktu, Wahid bersama para guru terus memperkuat kebiasaan membaca. Sebelum pelajaran dimulai, anak-anak diajak membaca sejenak. Ada yang membaca berpasangan, ada pula yang memanfaatkan waktu istirahat.
Selain membaca di sekolah, Wahid juga berinisiatif membagikan tautan buku digital kepada wali kelas untuk diteruskan kepada orang tua. Ia menyadari bahwa tidak semua orang tua bisa mendampingi anaknya membaca di rumah. “Banyak keluarga yang tidak memiliki buku cerita,” ungkap Wahid.
Wahid tidak mengklaim semuanya sudah sempurna. Ia sadar masih banyak yang perlu diperbaiki. Namun, baginya, perubahan tidak harus besar. Cukup dimulai dari pojok baca, dari dinding kelas yang mulai berbicara, dan dari anak-anak yang perlahan berani mencoba. Di sanalah ia melihat harapan bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka dan nilai, tetapi tentang proses bertumbuh bersama.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI Pesisir Barat dijalankan oleh Save the Children bersama Yayasan Guru Belajar dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Michelle Gabriela | Editor: Nabila Aulia | Foto: Michelle Gabriela/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children