Tak ada yang lebih rumit dari pada menuntun anak-anak dengan kebebasan berpikir, tanpa ikut membatasi cara mereka melihat dunia. Itu yang pertama kali disadari Murniati Zega setelah bertahun-tahun menjadi pengajar, terutama di sebuah PAUD di Lahewa, Nias Utara.
Sekolah itu berada di tepi jalan—ruangan sederhana berukuran sekitar empat kali enam meter yang setiap pagi berubah menjadi kelas, dan setelahnya menjadi garasi kendaraan keluarga. Sebelum anak-anak datang, Murniati dan guru lain selalu memastikan ruang kecil itu bersih, disapu, dan disusun kembali layaknya ruang belajar sungguhan.
Lulusan Sastra Inggris itu dulu akrab dengan dunia kata dan kisah: Hamka, Sutan Takdir, roman-roman lawas yang menyelinap ke benaknya saat anak-anak lain sibuk mengejar nilai. Tapi di kelas kecil yang riuh, semua teori seolah larut bersama partikel di udara. Mengajar anak usia dini, katanya, seperti “kembali menjadi anak-anak” — kembali bermain, kembali heran pada hal-hal kecil yang dulu dianggap sepele.
Selama tujuh tahun, rutinitasnya nyaris tanpa kejutan: menyusun RPP, memberi salam, menulis di papan tulis, menyanyi, lalu menutup pelajaran dengan doa. Ia mengikuti buku atau melihat cara mengajar langsung, seperti kebanyakan guru lain, dan malu-malu membicarakan mengapa anak-anak cepat bosan. “Kami hanya mengajar seperti yang kami tahu,” katanya suatu kali, “tanpa benar-benar mengerti bagaimana mereka belajar.”
Sampai datang sebuah ajakan: pelatihan dari Program KREASI, yang memperkenalkan pendekatan Project-Based Learning (PBL) untuk anak usia dini. Awalnya ia ragu — siapa yang menjamin metode baru ini bisa berjalan di PAUD kecil di desa? Tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari keraguannya. “Saya ingin tahu saja,” ujarnya.
Pelatihan itu membuatnya melihat cara baru dalam mengajar yang sebelumnya tak ia bayangkan. Para fasilitator datang dari berbagai kota: Jakarta, bahkan Makassar, membawa konsep yang bagi Murniati terdengar seperti repertoar pedagogis—pembelajaran berbasis proyek, enam fondasi anak, refleksi bersama. Di balik formulasi itu, ia menemukan satu pesan sederhana: “Kami sadar, saat anak-anak bermain, mereka tidak hanya bersenang-senang, tapi juga belajar memahami bentuk, warna, dan hubungan antar benda.”

Salah satu proyek pertama yang ia coba bersama muridnya adalah “banjir”. Ia ingin anak-anak tak hanya mendengar penjelasan, tapi melihat bagaimana air bekerja. Mereka membuat hujan buatan dari botol bekas, membangun jembatan dari karton, dan melihat sendiri bagaimana genangan terbentuk. Di tengah tawa dan cipratan air, anak-anak belajar sebab-akibat—sebuah pengetahuan yang lahir dari pengalaman, bukan dongeng belaka.
Tentu tidak semua berjalan lancar seperti yang diharapkan. Hari-hari awal penuh kebingungan; anak-anak tidak langsung paham apa itu “proyek”, ya, tentu saja, bukan? Bahkan ada yang patah semangat karena tak terbiasa. Tapi Murniati tahu, proses memahami butuh waktu. Ia memberi mereka ruang untuk mencoba, gagal, dan menertawakan kegagalan bersama. “Tiga hari pertama itu berat,” kenangnya, “tapi setelahnya, kelas terasa penuh energi.”
Kini, ia melihat hal berbeda di wajah anak-anaknya: lebih berani, lebih penasaran, dan lebih mandiri. Seorang murid yang dulu menangis setiap kali ditinggal orang tuanya kini sudah bisa bermain tanpa tantrum. “Dia bahkan sering memimpin doa sebelum belajar,” ujarnya sambil menunjuk anak perempuan berambut pendek yang nampak sedang asik bernyanyi sendiri.
Bagi Murniati, kemajuan anak-anak adalah cermin pertumbuhannya sendiri. Ia tak lagi berdiri sebagai pengajar yang harus serba tahu, melainkan pendamping yang ikut mencari tahu. “Dulu saya pikir tugas guru itu membuat anak paham,” katanya.“Sekarang saya lebih banyak bertanya bersama mereka, bukan sekedar memberi tahu.”

Sebagai Master Teacher (MT), Murniati kini memikul tanggung jawab yang lain: membagikan praktik baik itu ke guru-guru lain. Pertama kali ia diminta mengimbaskan pelatihan di sekolah, ia sempat canggung—apalagi peserta pelatihannya termasuk kepala sekolah sendiri. Tapi perlahan, rasa gugup berubah jadi keyakinan. Ia mengulang catatan-catatan dari pelatihan, mempelajari ulang materi yang dikirim lewat grup WhatsApp, dan berbagi kisah dengan sebaik-baiknya tanpa dilebihkan. “Saya tidak menilai diri sendiri,” ujarnya, “tapi mereka bilang, sudah bisa.”
Yang menarik, babak itu tak berhenti di ruang kelas. Bukan hanya Murniati yang merasakan perubahan itu. Orang tua mulai melihat hasilnya di rumah.
Martina, ibu dari dua murid PAUD, bercerita: “Anak-anak saya jadi suka bangun pagi, berdoa, dan buang sampah tidak sembarangan. Mereka juga mulai menulis, mencoret-coret, bahkan mengingatkan kami untuk berdoa sebelum tidur.”
Ia menambahkan, yang paling ia syukuri bukan soal akademik, melainkan sikap: anak-anaknya jadi lebih sopan dan berani bersosialisasi. “Kami mendukung sekali,” katanya. “Kalau anak malas ke sekolah, kami sendiri yang antar.”
Dalam percakapan itu, sorot mata Murniati nampak berbinar. Bagi dia, hal-hal kecil seperti itu yang membuatnya merasa usaha mereka para guru tidak sia-sia.
Kini, setiap kali ia menulis rencana pembelajaran, Murniati tidak lagi memulai dengan daftar kegiatan, tapi dengan satu pertanyaan: apa yang bisa membuat anak-anak ingin tahu hari ini?

Dan di antara suara tawa, gambar abjad, serta coretan krayon di dinding, ia menemukan jawaban yang terus berubah—seperti kondisi alam yang dulu mereka pelajari bersama.
Setiap hari, setelah kelas rampung, meja-meja kecil itu disingkirkan, papan tulis dirapatkan pada dinding, dan ruangan kembali menjadi garasi. Tapi bagi Murniati dan guru-guru lainnya, ruang itu tetap menyimpan gema kecil dan rasa ingin tahu yang setiap pagi lahir kembali di antara bangku-bangku mungil dan tempelan poster berbagai macam buah, hewan, serta warna-warni gambar di dinding.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Article 33 Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Utara. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Nias Utara dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Adzwari Ridzki | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Adzwari Ridzki/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children