KREASI Nias Utara bersama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nias (UNIAS) melaksanakan Remoting Test dua modul “Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan” di ruang kelas FKIP UNIAS, Kota Gunungsitoli. Kegiatan ini bertujuan menguji dan menyempurnakan modul yang dikembangkan bersama FKIP untuk digunakan sebagai bahan pembelajaran, sekaligus memperkuat kapasitas mahasiswa calon guru dalam menerapkan pendekatan pembelajaran ramah anak pada masa transisi dari PAUD ke sekolah dasar.
Kegiatan dibuka oleh Dekan FKIP UNIAS, Yaredi Waruwu, yang menyampaikan apresiasi kepada KREASI Nias Utara atas kemitraan yang terjalin dalam pengembangan modul. Ia menegaskan pentingnya pelatihan ini dalam memperluas wawasan mahasiswa mengenai pembelajaran yang humanis dan menghargai perkembangan anak di setiap tahapannya. Pada kesempatan itu, Yaredi menyampaikan, “Harapan kami, melalui kegiatan ini para mahasiswa dapat memperoleh ilmu yang berguna dan mampu menularkannya kepada peserta didik di masa depan.”
Menanggapi hal tersebut, Advocacy Officer KREASI Nias Utara, Ryan, menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi masyarakat sipil untuk mewujudkan praktik transisi PAUD–SD yang inklusif dan menyenangkan.
Uji coba modul ini menghadirkan dua pemateri utama: Kepala Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP UNIAS, Eka Periaman Zai, menyampaikan Modul 1, dan Wakil Dekan II FKIP UNIAS, Noveri Harefa, yang membawakan Modul 2.
Pada implementasi Modul 1 berjudul Pembelajaran yang Mendukung Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan & Pembelajaran Terdiferensiasi, mahasiswa diperkenalkan pada konsep transisi yang tidak berfokus pada tes membaca, menulis, dan berhitung. Materi menekankan tiga fokus utama gerakan transisi: penghapusan tes calistung dalam penerimaan siswa baru SD, penerapan masa perkenalan selama dua minggu pertama, dan pengembangan enam kemampuan fondasi sebagai dasar kesiapan anak. Peserta juga menyaksikan video refleksi tentang kisah seorang anak bernama Ines yang mendorong diskusi mengenai pentingnya pendekatan yang hangat dan tidak menakut-nakuti anak pada hari pertama sekolah. Melalui diskusi, mahasiswa menegaskan bahwa kesiapan sekolah ditentukan oleh perkembangan kemampuan fondasi, bukan oleh kemampuan calistung.
Sementara itu, Modul 2 bertema Arah dan Kebijakan Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan dipandu oleh Noveri Amal Jaya Harefa. Mahasiswa diajak memahami alasan mendasar mengapa anak berhak mengalami transisi yang menyenangkan, serta bagaimana pembelajaran perlu disesuaikan dengan irama perkembangan setiap anak. Peserta kemudian mempraktikkan penyusunan tujuan pembelajaran, aktivitas kelas, dan asesmen sederhana. Dalam sesi tanya jawab, beberapa mahasiswa menyampaikan perlunya waktu tambahan untuk memahami modul secara utuh, namun mengapresiasi wawasan baru yang mereka peroleh. Banyak peserta menilai kegiatan ini sangat membantu mempersiapkan diri menjadi calon guru yang lebih siap dan sensitif terhadap kebutuhan anak.
Rangkaian Remoting Test ditutup dengan pelaksanaan post-test sebagai evaluasi akhir, setelah sebelumnya peserta mengikuti pre-test, penyampaian materi, dan diskusi reflektif. Pendekatan interaktif ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata tentang praktik pembelajaran yang menyenangkan, responsif, dan menghargai perkembangan anak di setiap tahap.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Article 33 Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Utara. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Nias Utara dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Calvin Telaumbanua | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Calvin Telaumbanua/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children