Integrasi isu Perubahan Iklim ke dalam kurikulum pendidikan dasar diperkuat melalui pelatihan penguatan kapasitas master teacher. Pelatihan yang berfokus pada penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) terkait isu perubahan iklim ini diikuti oleh 14 Master Teacher pada tanggal 22–24 Oktober 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para guru dengan metode PBL dan Inkuiri yang relevan dengan tantangan lingkungan, baik secara global maupun lokal.
Pelatihan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan, District Representative, dan Provincial Support serta narasumber. Materi pelatihan berfokus pada dua pendekatan utama dalam pembelajaran yang pertama Project Based Learning (PBL) yaitu serangkaian kegiatan pembelajaran untuk menelaah tema dari masalah kontekstual yang menantang, yang bertujuan agar siswa melakukan investigasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan produk atau aksi. Yang Kedua Inquiry Based Learning (IBL) pendekatan belajar yang menekankan pada proses bertanya, mencari tahu, dan menemukan jawaban secara mandiri oleh peserta didik.
Narasumber Siti Amelia, menekankan peran guru dalam IBL “Dalam Inquiry Based Learning (IBL), guru bukan lagi pemberi informasi, melainkan pemandu eksplorasi. Pendekatan ini melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa” ujarnya.
Pelatihan ini secara spesifik membahas keterkaitan antara PBL dan IBL dengan isu-isu global, yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) dan Global Citizenship Education (GCED). SDGs dan GCED memberikan konteks nyata untuk inkuiri, guru didorong untuk menggunakan Real World Connection yaitu cara menghubungkan pelajaran di kelas dengan kehidupan nyata siswa agar pembelajaran terasa penting. Contoh penerapannya adalah mengaitkan SDG 12 (Konsumsi Bertanggung Jawab) dengan pertanyaan “Kemana perginya sisa makanan di sekolah?”.
Sebagai hasil konkret dari pelatihan, peserta merumuskan berbagai ide Sekolah Tanpa Sampah (Zero Waste School / ZWS) yang relevan untuk diterapkan di satuan pendidikan. Ide-ide tersebut mencakup aksi bersih pantai dan mengolah sampah plastik, pembuatan kompos dari sisa makan siang, pembentukan bank sampah sekolah “Tabe” yang diambil dari budaya sopan santun lokal Nias dan gerakan “satu murid satu tanaman”.
Penerapan PBL ditindaklanjuti dengan diskusi mengenai Penilaian Autentik (Authentic Assessment) yang menilai tugas yang merepresentasikan realitas kehidupan siswa, mulai dari perencanaan hingga penyajian data proyek. Diharapkan, 14 Master Teacher ini dapat mengimplementasikan perubahan signifikan dalam praktik pembelajaran di sekolah masing-masing, sehingga menghasilkan siswa yang sadar lingkungan dan mampu berpikir kritis.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI di Nias Selatan dijalankan oleh Save the Children bersama Ikatan Guru Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Afnidar Dakhi | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Afnidar Dakhi/KREASI/Ikatan Guru Indonesia/Save the Children