Upaya menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan terus diperkuat oleh Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat. Salah satunya melalui pelatihan peningkatan kapasitas bagi Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) sekolah, yang digelar selama dua hari di SDN 75 Krui. Kegiatan yang diikuti 32 guru TK dan SD dari Kecamatan Way Krui dan Pesisir Tengah ini mengusung tema “Responsif, Edukatif, dan Solutif: Penanganan Kekerasan pada Anak oleh Guru TPPK.” Pelatihan ini merupakan implementasi dari solusi yang ditawarkan dalam proposal ekosistem pendidikan Kelompok Kerja (Pokja) Perlindungan Anak atas dukungan penuh dari Program KREASI.
Bekal Guru untuk Cegah Kekerasan
Peserta mendapat materi seputar peran dan fungsi TPPK, jenis-jenis kekerasan di sekolah, prinsip perlindungan anak, hingga manajemen kasus. Metode pelatihan dirancang partisipatif melalui diskusi, studi kasus, hingga pemutaran film edukatif, sehingga guru tak hanya memahami teori, tetapi juga terlatih menghadapi situasi nyata.
Sinergi Pemerintah dan Sekolah
Narasumber pelatihan berasal dari unsur guru maupun pemerintah, di antaranya dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pesisir Barat: Ade Putri, Badriah, Nining Santi Suwarni, dan Zurya Nazzalal Zikri. Mereka berbagi tantangan lapangan, solusi praktis, serta contoh praktik baik dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak.
“Sekolah harus menjadi tempat yang memberi rasa aman dan nyaman bagi anak-anak kita. Melalui penguatan kapasitas TPPK, kami berharap guru bisa menjadi agen pelindung di satuan pendidikan,” ujar Nining Santi Suwarni mewakili Kepala DP3AKB Pesisir Barat.
Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pesisir Barat.
“Kami menyambut baik inisiatif ini karena sejalan dengan komitmen kami menghadirkan sekolah yang ramah anak. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penjaga keselamatan dan martabat anak. Kami berharap pelatihan ini menjadi langkah berkelanjutan dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas sekaligus melindungi anak dari segala bentuk kekerasan,” tegas Hadianca dari Disdikbud Pesisir Barat.
Suara Guru
Guru-guru peserta pun merasakan manfaat nyata dari kegiatan ini.
“Materi yang kami dapat membuka wawasan baru. Ternyata banyak hal sederhana yang bisa kami lakukan untuk mencegah kekerasan di sekolah, mulai dari cara berkomunikasi dengan anak sampai penanganan awal kasus,” ungkap Rizkon.
Hal senada disampaikan Rahmayanti.
“Selama ini kami sering bingung harus berbuat apa kalau ada kasus kekerasan. Setelah pelatihan ini, kami lebih percaya diri karena ada panduan yang jelas dan jaringan yang bisa kami hubungi,” ujarnya.
Perlindungan Anak di Sekolah Tanggung Jawab Bersama
Pelatihan ini menegaskan peran guru bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pelindung anak yang mampu bertindak cepat, tepat, dan berempati. Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat pun mengajak keluarga, sekolah, komunitas, hingga aparat pemerintah untuk bersama-sama memastikan setiap anak tumbuh, belajar, dan bermain tanpa rasa takut.
Dengan bekal baru ini, TPPK diharapkan dapat bekerja lebih profesional dalam mencegah sekaligus menangani kasus kekerasan di sekolah. Langkah nyata ini menjadi bagian penting dari gerakan ekosistem pendidikan di Pesisir Barat untuk mewujudkan sekolah yang benar-benar ramah anak. Konsistensi Pesisir Barat dalam memperkuat ekosistem pendidikan berbasis perlindungan anak menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang kelas, oleh guru, dengan dukungan komunitas. Jika semangat ini terus dijaga, Pesisir Barat berpotensi menjadi contoh inspiratif bagi kabupaten lain di Indonesia dalam membangun pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga melindungi setiap anak.
_____
Penulis: Zurya Nazzalal Zikri (Staf DP3AKB Pesisir Barat); Editor: Rikson Simanjuntak, Andika Ramadhan
Foto: Dok. KREASI/Save the Children