Skip to content Skip to footer

KREASI Morotai Gelar Pelatihan Pengasuhan Positif bagi Calon Mentor dan Anggota PATBM 

KREASI Morotai menggelar Pelatihan Pengasuhan Tanpa Kekerasan tingkat kabupaten pada 10–14 Juni 2025. Kegiatan ini berlangsung di SD Negeri Unggulan 1 dan menghadirkan para calon mentor dari berbagai desa, termasuk anggota Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).  

Pelatihan ini menjadi ruang belajar yang transformatif bagi para peserta, khususnya orang tua dan calon pendamping pengasuhan. Tidak hanya berorientasi pada pemberian pengetahuan teknis, pelatihan ini juga membuka ruang refleksi mendalam terhadap cara-cara lama dalam mengasuh anak. 

Salah satu peserta, Miranti, anggota PATBM, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberinya perspektif baru. “Saya jadi tahu ternyata mengasuh anak bisa dilakukan dengan cara positif, menciptakan komunikasi yang efektif, tanpa kekerasan. Ilmu ini sangat bermanfaat, terutama dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang tua,” ujarnya. 

Senada dengan Miranti, Firna seorang ibu yang juga aktif dalam kegiatan PATBM mengaku mengalami perubahan cara pandang dalam mendampingi anak-anaknya. “Awalnya saya suka ngomel. Tapi setelah mengikuti kegiatan ini, saya belajar menjadi ibu yang lebih sabar, yang mendekati anak dengan cara yang lebih positif dan mendengarkan mereka,” ungkapnya dengan penuh haru. 

Salah satu tujuan utama pelatihan ini adalah membentuk mentor lokal yang mampu mendampingi keluarga-keluarga di Morotai dalam menerapkan pola asuh tanpa kekerasan. Para peserta dibekali keterampilan untuk mendampingi orang tua dalam membangun komunikasi yang sehat dengan anak, memperkuat rasa percaya diri anak, serta mengenalkan hak-hak anak sejak dini. 

Namun, tantangan tidak kecil. Dalam sesi diskusi, para peserta mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Morotai masih memandang pengasuhan sebagai tanggung jawab ibu semata. Peran ayah kerap dikesampingkan, dan keterlibatannya dianggap tidak wajib. Hal ini menjadi catatan penting bagi KREASI Morotai dalam merancang pendekatan yang sensitif terhadap nilai-nilai sosial dan budaya setempat. 

Pelatihan ini bukan sekadar penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang bagi para peserta untuk merenung, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan. Proses belajar yang dilalui membawa kesadaran baru bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal mendisiplinkan, tetapi juga tentang membangun hubungan yang penuh kasih, hormat, dan komunikasi yang sehat dengan anak.  

Dengan semangat berbagi dan keberlanjutan, para mentor yang telah dibentuk diharapkan dapat menularkan praktik-praktik pengasuhan positif ke masyarakat luas. Sebab perubahan besar, dimulai dari rumah, dari cara kita memperlakukan anak-anak kita. 


Teks: Ayutama Putri Jordy (Penulis); Andika Ramadhan (Editor)