Di Pesisir Barat, dimana literasi numerasi masih menjadi pekerjaan bersama, ada Slamet yang berkomitmen untuk perbaikan mutu pendidikan. Ia adalah seorang pengawas madrasah yang telah mendampingi madrasah sejak 6 tahun lalu. Pengalaman panjang Slamet mendampingi guru dan sekolah membawa banyak refleksi pendidikan di Pesisir Barat.
Bagi Slamet, guru membawa peran signifikan dalam pendidikan. Di tangan guru, anak akan memiliki pengalaman belajar yang bermakna. Sayangnya, peningkatan kompetensi guru di Pesisir Barat masih perlu ditingkatkan secara mendalam. Apalagi menyoal metode belajar, pendekatan konvensional tidak lagi menjawab kebutuhan anak untuk memahami literasi numerasi. Guru perlu dibekali metode belajar yang lebih kontekstual.
Ketika kesempatan mengikuti Program KREASI muncul, Slamet menjadikannya sebagai langkah untuk memulai perubahan. Slamet terpilih sebagai master teacher. Peran yang baginya tidak hanya membekalinya tentang metode belajar yang lebih relevan, tetapi juga mengubah mindsetnya.
“Saya merasa mindset dalam memberikan dampingan ke sekolah berubah. Misalnya, cara menanggapi permasalahan dapat dilakukan sesuai dengan prosedur atau manajemen kasus yang lebih memanusiakan manusia,” ujarnya.
Setelah mengikuti banyak pelatihan literasi numerasi yang dilaksanakan KREASI, Slamet mulai mengimbaskan pengetahuan baru yang dimilikinya lewat mentoring kelompok kerja guru bersama dengan master teacher lainnya. Alih alih menggunakan pendekatan dari atas ke bawah, Slamet memfasilitasi diskusi dan terlibat membangun komunitas belajar yang lebih konstruktif.
“Signifikan sekali perubahannya. Sekarang guru-guru yang ikut program kelompok kerja guru jadi punya metode belajar yang lebih bervariasi. Mereka bahkan mulai berinovasi untuk membuat media belajar yang lebih menyenangkan untuk anak,” ucap Slamet.
Ia tahu, perubahan bukanlah hal yang instan. Meski begitu, Slamet yakin setiap langkah kecil memiliki arti tersendiri. Cahaya yang menyala mungkin tidak terlihat besar, tetapi cukup menerangi satu ruang kelas, satu sekolah.
“Saya berharap Program KREASI dapat lebih mengimbaskan ke banyak guru dan banyak sekolah di Pesisir Barat. Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah akan semakin menguatkan, terutama madrasah swasta yang masih tertinggal. Dengan pengimbasan yang lebih banyak dan dukungan dari banyak pihak pasti akan sangat membantu.” tambahnya.
Perjalanan yang dimulai oleh Slamet adalah cermin dari kolaborasi yang tidak bisa berjalan sendiri. Bahwa guru perlu ruang belajar dan saling menguatkan. Maka, keberadaan ekosistem yang berpihak pada anak dapat dimulai dari pengembangan komunitas belajar yang lebih ideal. Karena pada dasarnya, keyakinan dan kolaborasi akan menjadi buah pendidikan yang berkualitas. Guru yang berkembang akan menyalakan cahaya baru.
Teks: Putri Lalitaningtyas (Penulis); Andika Ramadhan (Editor)
Foto: Putri Lalitaningtyas/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children