Skip to content Skip to footer

Dari Ruang Kelas ke Ruang Harapan: Menyalakan Api Literasi dan Numerasi Kontekstual di Pesisir Barat

oleh Aziz Setiawan

Di sebuah ruang kelas sederhana di Kabupaten Pesisir Barat, suara anak-anak yang tertawa sambil bernyanyi menjadi musik yang tak ternilai. Dulu, saya menganggap keheningan di kelas adalah tanda pembelajaran yang sukses. Tapi, kini saya tahu: suara tawa, gerakan lincah, dan rasa ingin tahu yang menyala adalah tanda sejati bahwa proses belajar sedang benar-benar terjadi. 

Nama saya Aziz Setiawan. Sudah lebih dari sepuluh tahun saya mengajar, dan baru belakangan saya merasa benar-benar menjadi seorang pendidik. Momen perubahan itu datang ketika saya menyadari bahwa pendekatan saya selama ini belum benar-benar memfasilitasi anak untuk aktif, berpikir, dan merasa bahagia dalam belajar. Saya seperti “ditampar lembut” oleh kesadaran bahwa belajar tak cukup hanya dengan mengisi lembar kerja. Anak-anak perlu terlibat, bermain, dan merasa senang untuk benar-benar belajar. 

Kondisi yang Menggugah Perubahan; Realita yang kami hadapi di Pesisir Barat cukup menantang. Banyak anak usia dini belum mengenal huruf dengan baik saat memasuki usia enam tahun. Tak sedikit pula yang kesulitan memahami konsep dasar bilangan 1–10 secara bermakna. Hal ini tidak lepas dari pendekatan pembelajaran yang masih sangat tradisional: berpusat pada guru, mengandalkan hafalan, dan menjadikan lembar kerja sebagai satu-satunya alat ukur. 

Lebih jauh lagi, kesenjangan pemahaman guru tentang bagaimana anak usia dini belajar menjadi tantangan utama. Banyak guru PAUD dan SD kelas awal belum terbiasa menggunakan pendekatan belajar aktif, seperti permainan edukatif, bercerita, atau aktivitas kontekstual yang menyenangkan. 

Menjadi Bagian dari Perubahan; Saya merasa mendapat kesempatan besar ketika terpilih sebagai salah satu Master Trainer dalam Program KREASI, yang digagas oleh Save the Children Indonesia dengan mitra pelaksana Lokal Yayasan Guru Belajar (YGB). Di Kabupaten Pesisir Barat. Program ini dirancang untuk menciptakan agen perubahan di tingkat local, guru-guru yang tak hanya mengajar, tapi juga menginspirasi rekan-rekan sejawat di wilayahnya. 

Dalam pelatihan, kami mendapatkan materi dan praktik langsung tentang pembelajaran berbasis bermain, pendekatan literasi melalui storytelling, strategi numerasi kontekstual, hingga asesmen formatif berbasis observasi. Lebih dari sekadar teori, pelatihan ini mengubah cara kami melihat kelas dan memahami anak. 

Metode pelatihan yang interaktif seperti peer teaching, praktik langsung di kelas, serta diskusi reflektif membuat proses belajar kami sangat menyenangkan dan bermakna. Saya merasakan kembali semangat belajar seperti anak-anak yang saya ajar. 

Dampak Nyata di Kelas dan Komunitas; Setelah pelatihan, saya mulai menerapkan pendekatan baru di kelas. Saya menggunakan cerita rakyat sebagai pintu masuk literasi, mengajak anak-anak memasak untuk mengenalkan urutan dan konsep bilangan, serta menyisipkan lagu dan permainan tradisional untuk pembelajaran numerasi. Hasilnya luar biasa anak-anak lebih antusias, lebih aktif, dan bahkan lebih cepat memahami konsep yang dulunya terasa sulit. 

Tak hanya di kelas saya, perubahan ini mulai menyebar ke rekan-rekan di Kelompok Kerja Guru (KKG). Kini, ada 14 guru yang ikut menerapkan metode play-based learning dan storytelling. Salah satu dari mereka, Pak Vitadi guru kelas 2 mengatakan, “Saya jadi tahu bahwa mengenalkan angka bukan hanya dengan menulis, tetapi juga lewat bermain dan bercerita.” 

Refleksi dan Harapan; Dari pengalaman ini saya belajar bahwa literasi dan numerasi bukan hanya soal bisa membaca atau berhitung, tapi soal bagaimana anak merasa nyaman, senang, dan terlibat secara aktif dalam proses belajar. Pembelajaran yang bermakna hanya bisa terjadi ketika guru juga mau terus belajar dan berubah. 

Saya berharap, inisiatif seperti Program KREASI bisa terus diperluas, menjangkau lebih banyak guru di daerah-daerah tertinggal. Dukungan terhadap komunitas praktik guru, penyediaan buku cerita anak, dan alat permainan edukatif akan sangat membantu memperkuat perubahan ini. 

Perubahan tak selalu harus besar. Kadang, satu cerita yang dibacakan dengan cinta, satu lagu berhitung yang dinyanyikan bersama, atau satu permainan sederhana yang membuat anak tertawa itu semua bisa menjadi awal dari masa depan yang lebih cerah. Dan itu semua, dimulai dari satu guru… yang berani melangkah.

Penulis: Aziz Setiawan (Guru di Pesisir Barat) dan Rikson Simanjuntak (District Representative Pesisir Barat)