Skip to content Skip to footer

Kusno dari Ketapang dan Cerita Mengubah Supervisi Menjadi Ruang Tumbuh Bersama

Sebagai pimpinan yang telah tujuh tahun memimpin salah satu Sekolah Dasar Negeri di Muara Pawan, Ketapang, kegiatan supervisi akademik merupakan agenda rutin bagi Kusno. Namun, keterlibatannya dalam pelatihan program KREASI memberikan penguatan baru terhadap cara beliau mendampingi para guru.

Selama ini, supervisi di sekolah kerap dipersepsikan sebatas kewajiban administrasi atau penilaian formal. Melalui materi supervisi dan fasilitasi dari KREASI, Kusno mencoba menggeser pola tersebut menjadi proses pendampingan. Fokusnya dialihkan dari sekadar mencatat kekurangan menjadi lebih banyak mendengarkan, mengajukan pertanyaan reflektif, dan mengapresiasi hal-hal baik yang sudah berjalan di kelas. Pendekatan ini membuat hubungan kerja menjadi lebih terbuka dan kolaboratif demi perbaikan kualitas pembelajaran siswa.

“Supervisi itu bukan seberapa banyak catatan kesalahan guru yang kita tulis, melainkan bagaimana kita mendampingi mereka lewat diskusi yang reflektif agar guru menemukan solusinya sendiri,” ujar Kusno.

Penerapan di Kelas: Membangun Percakapan Reflektif

Pendekatan baru ini diterapkan Kusno saat melangsungkan supervisi pada kelas yang menerapkan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Setelah sesi observasi selesai, Kusno tidak langsung memberikan evaluasi searah, melainkan membuka ruang diskusi dengan memberikan apresiasi dan mengajukan pertanyaan sederhana:

“Bagian mana dari pembelajaran tadi yang menurut Ibu sudah berjalan sesuai harapan? Jika pembelajaran ini diulang kembali, bagian mana yang ingin Ibu perbaiki?” tanyanya.

Melalui pertanyaan tersebut, guru diajak untuk merefleksikan proses mengajar yang baru saja dilakukan. Guru dapat mengidentifikasi sendiri kendala yang dihadapi, seperti masih minimnya kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi. Dari diskusi ini, Kusno dan guru bersama-sama menyusun langkah perbaikan yang praktis dan realistis. Pola komunikasi yang tidak menghakimi ini membuat proses supervisi terasa lebih nyaman bagi guru.

Mengubah Dinamika Diskusi Rapat Sekolah

Prinsip fasilitasi yang diperoleh dari pelatihan juga diterapkan dalam forum rapat dinas sekolah. Kusno mulai memberi ruang lebih luas bagi para guru untuk menyampaikan kendala maupun pengalaman mengajar mereka di kelas.

Dengan memberikan pertanyaan terbuka, suasana rapat menjadi lebih dinamis. Salah satu guru muda yang biasanya pasif, berani menyampaikan gagasan mengenai penggunaan media pembelajaran digital sederhana. Usulan tersebut memicu tanggapan dari guru-guru lainnya. Forum rapat yang sebelumnya didominasi arahan pimpinan kini mulai diisi oleh diskusi interaktif antar-guru

Dampak Bertahap pada Budaya Kerja

Bagi Kusno, perubahan yang terjadi di sekolahnya merupakan proses berkesinambungan. Hasil yang paling terasa adalah tumbuhnya keterbukaan guru dalam menerima masukan dan keberanian untuk mengevaluasi praktik mengajar mereka sendiri.

“Dunia pendidikan terus berkembang, sehingga pendekatan kepemimpinan kita juga perlu disesuaikan. Kepala sekolah tidak hanya berperan sebagai administrator, tetapi juga sebagai pendamping pembelajaran bagi para guru. Ketika guru terbiasa berrefleksi dan mengembangkan kapabilitasnya, proses pembelajaran di kelas pun secara bertahap akan menjadi lebih baik, ” ujar Kusno.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Ketapang dikelola Save the Children dan diimplementasi Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Ketapang dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Afriyandi Nur Huda | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Afriyandi Nur Huda/KREASI/Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah/Save the Children