Suharyo sempat merasa khawatir ketika mengikuti Pelatihan Peningkatan Profesional Fasilitator Kelompok untuk Pembelajaran Sejawat yang diadakan KREASI Kayong Utara. Ia belum pernah mengikuti pelatihan dengan pendekatan seperti ini. Namun, kekhawatiran itu perlahan berubah setelah ia memahami bahwa menjadi fasilitator bukan berarti harus menjadi orang yang paling banyak berbicara.
“Awalnya saya khawatir karena belum pernah mengikuti pelatihan seperti ini. Namun setelah hari pertama, saya menyadari bahwa kekuatan fasilitator bukan pada kemampuan mendikte materi, tetapi pada kemampuan mendengar dan menggali pengalaman rekan sejawat,” ujar Suharyo.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pelatihan yang dirancang Program KREASI Kayong Utara untuk memperkuat peran Fasilitator Kelompok (Faskel) dalam Pembelajaran Sejawat. Peserta tidak hanya mempelajari peran dan kompetensi fasilitator, tetapi juga memahami alur Pembelajaran Sejawat dalam Program KREASI serta tugas yang perlu dilakukan sebelum, selama, dan setelah kegiatan.
Pemahaman itu kemudian diuji melalui diskusi, refleksi, dan simulasi. Peserta berlatih memimpin diskusi, mengelola dinamika kelompok, menghadapi beragam karakter peserta, hingga menyusun tindak lanjut. Dari proses tersebut, fasilitator dipersiapkan bukan sekadar untuk menjalankan kegiatan, tetapi untuk menciptakan ruang belajar yang membuat guru dan kepala sekolah dapat saling berbagi, berefleksi, dan menemukan solusi dari praktik mereka sendiri.
Pada akhirnya, pelatihan ini membawa pesan sederhana: fasilitator yang baik tidak selalu menjadi pusat pembelajaran, tetapi mampu membuat orang lain menemukan pembelajaran dari pengalaman mereka sendiri. Kemampuan inilah yang diharapkan menjadi bekal fasilitaror saat mendampingi Pembelajaran Sejawat di sekolah.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Kayong Utara dikelola Save the Children dan diimplementasi Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Kayong Utara dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Arif Kudianta | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Arif Kudianta/KREASI/Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah/Save the Children