Skip to content Skip to footer

KREASI Kayong Utara Perkuat Kolaborasi untuk Mewujudkan Sekolah yang Aman

Mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak tidak cukup hanya dengan menghadirkan aturan. Diperlukan komitmen dan kerja bersama agar kebijakan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di satuan pendidikan. Semangat inilah yang menjadi dasar Lokakarya Persiapan Pembentukan Kelompok Kerja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (Pokja BSAN) Kabupaten Kayong Utara yang digelar pada 7 Juli 2026.

Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, menyampaikan bahwa upaya menciptakan ekosistem sekolah yang kondusif membutuhkan keterlibatan bersama. Ia berharap pembentukan Pokja BSAN dapat memperkuat komitmen berbagai pihak untuk mewujudkan sekolah dan madrasah yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak, sehingga mampu mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Pembahasan lokakarya ini kemudian diarahkan pada bagaimana kebijakan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam langkah konkret. Mengacu pada Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, peserta membahas empat aspek utama, yaitu pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital. Forum juga mendorong penyusunan rencana aksi yang memperjelas peran masing-masing pihak atau who does what dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.

Project Manager KREASI Kayong Utara, Rezky Farnanda, mengatakan Pokja BSAN diharapkan menjadi wadah kerja bersama yang mampu memperkuat koordinasi dalam mencegah dan menangani persoalan di lingkungan pendidikan. Kebutuhan tersebut berangkat dari sejumlah tantangan yang masih ditemukan, antara lain regulasi yang belum sepenuhnya membumi dalam praktik, pemahaman mengenai batas antara disiplin dan kekerasan yang belum seragam, kompetensi guru yang belum merata, keterlibatan orang tua yang masih perlu diperkuat, serta dukungan antar-OPD yang belum sepenuhnya terintegrasi.

Karena itu, persiapan pembentukan Pokja BSAN diarahkan pada tiga hal penting: menyamakan persepsi dan regulasi, memetakan potensi kerentanan di satuan pendidikan, serta membangun komitmen bersama dari sekolah, peserta didik, orang tua, dan komite sekolah. Dengan langkah tersebut, Pokja BSAN diharapkan tidak berhenti sebagai pemenuhan administrasi, tetapi menjadi bagian dari sistem yang memastikan setiap anak dapat belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembangnya.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Kayong Utara dikelola Save the Children dan diimplementasi Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Kayong Utara
 dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Arif Kudianta | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Arif Kudianta/KREASI/Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah/Save the Children