“Kalau kita mau merubah suasana belajar anak, kita sendiri yang harus memulai. Dari kardus bekas sampai cat tembok, yang terpenting adalah menghadirkan ruang yang hangat agar anak-anak betah bertumbuh,” ujar Mirna.
Menjalani peran sebagai guru kelas awal selama bertahun-tahun bukanlah hal yang mudah, terlebih ketika fasilitas belajar mengajar masih penuh keterbatasan. Hal inilah yang dialami oleh Mirna di sekolahnya. Sebelum intervensi Program KREASI Ketapang masuk, kelas yang diampunya memiliki dinding kuning kusam dan lantai semen yang berdebu. Metode mengajar pun masih terikat pola lama: membaca buku teks secara lisan di depan papan tulis yang sering kali gagal menyita perhatian anak-anak. Indikator Rapor Pendidikan sekolah yang masih berada di zona kuning menjadi penanda nyata bahwa pembenahan literasi harus segera dikejar.
Kehadiran serangkaian pelatihan Program KREASI menjadi titik balik penting bagi perjalanan mengajar Mirna. Keterbatasan bahan praktik di lapangan tak sedikit pun menyurutkan semangatnya. Saat bahan habis, beliau berinisiatif mencetak gambar hewan dan memanfaatkan kardus bekas untuk membuat media penggalan kata serta tebak huruf. Bahkan, bekas bungkus cat bertema astronot sukses ia sulap menjadi media permainan labirin angka yang interaktif.
“Saya ini jujur kurang kreatif kalau menggambar spontan. Tapi karena kehabisan bahan, saya minta printkan gambar, lalu saya garis dan tempel pakai kardus bekas. Sampai narasumbernya heran, ‘Kok Ibu bisa kepikiran?’ Ya pikiran saya gimana caranya media belajar ini jadi,” kenang Mirna.
Tidak berhenti pada media ajar, Mirna ingin merubah suasana belajar secara menyeluruh. Ia secara mandiri menyisihkan sisa alokasi uang transport pelatihan KREASI untuk membeli cat putih, kertas, hingga benang. Didukung oleh suaminya yang membantu mengecat dinding dan saudaranya yang menyumbang lukisan edukatif, ruang kelas berdebu itu berhasil diubah menjadi terang benderang. Pojok baca interaktif pun didirikan, lengkap dengan lampion, hiasan gantung buatan murid, dan beragam bacaan menarik.
“Dari uang transport ikut kegiatan KREASI, saya kumpulkan untuk beli cat putih. Dinding kelas kami kan tadinya kuning, diputihkan dulu supaya warna lukisan bagus. Suami saya yang ngecat, saudara yang pandai lukis bantu buatkan gambar. Jadi kelas ini hasil gotong royong,” ceritanya.
Perubahan fisik ruang kelas ini berbanding lurus dengan pendekatan mengajarnya di dalam kelas. Mirna mulai memadukan tayangan digital interaktif dengan metode cerita ber-Bahasa Ibu agar materi pembelajaran lebih mudah diserap siswa. Pojok baca kini menjadi magnet utama; anak-anak begitu betah berada di kelas, bahkan saat jam istirahat tiba. Bagi anak-anak yang mengalami keterlambatan membaca atau memiliki latar belakang keluarga rentan, Mirna menerapkan pendekatan personal (*one-on-one*) yang penuh rasa empati tanpa memarahi. Hasilnya, anak-anak yang awalnya tidak mengenal huruf mulai lancar mengeja hanya dalam hitungan bulan.
“Anak-anak sekarang itu mau selalu dipuji dan diperhatikan. Kalau ada anak yang nakal atau ketinggalan, tidak bisa kita langsung maki-maki di depan umum. Saya ajak ngomong berdua saja di lab, saya rangkul seperti anak sendiri. Sekarang jangankan berkelahi, tiap pagi mereka malah bangga pamer: ‘Bu, saya sudah baca dua buku hari ini!'” ujar Bu Mirna tersenyum.
Transformasi dari sudut kelas Mirna ini tak berjalan sendirian. Melihat kelasnya yang begitu hidup, pihak sekolah menetapkannya sebagai kelas percontohan. Penularan inspirasi terjadi secara alami; guru-guru lain mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 datang berdiskusi, belajar membuat pojok baca, hingga melukis dinding kelas mereka masing-masing.
“Alhamdulillah, kawan-kawan guru lain sudah banyak yang ngikut. Kalau mereka bilang tidak bisa buat media, saya bantu printkan. Saya bilang, ‘Kalau tidak ada alat laminating, kita pakai lakban saja biar tahan lama’,” tambahnya.
Di akhir tahun pertama Program KREASI, perjuangan ini membuahkan hasil manis: indikator Rapor Pendidikan sekolah resmi melompat naik ke warna hijau. Perjalanan Mirna menjadi bukti bahwa transformasi besar dalam pendidikan selalu diawali dari keberanian merawat ketulusan di satu ruang kelas.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Ketapang dikelola Save the Children dan diimplementasi Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Ketapang dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Afriyandi Nur Huda | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Afriyandi Nur Huda/KREASI/Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah/Save the Children