Suasana belajar yang lebih hidup kini terasa di kelas yang diampu Siti Rukhyati Ningsih, guru kelas 3 di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Tanggamus. Perubahan tersebut berawal dari keinginannya untuk meningkatkan minat baca murid setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan melalui Program KREASI Tanggamus.
Ningsih menyadari bahwa metode pembelajaran yang selama ini diterapkan masih cenderung berpusat pada guru dan kurang mampu menarik perhatian seluruh murid. Proses belajar biasanya berlangsung dengan pola yang sama, yaitu guru menjelaskan materi di depan kelas, menulis di papan tulis, kemudian meminta murid menyalin. Bagi anak-anak usia sekolah dasar yang masih membutuhkan ruang eksplorasi, aktivitas visual, dan pengalaman belajar yang menyenangkan, pendekatan tersebut sering kali membuat mereka cepat merasa bosan.
“Dulu interaksi di kelas sangat pasif. Perkembangan kemampuan membaca anak-anak berjalan lambat karena literasi masih dianggap sebagai tugas formal yang kaku, bukan sesuatu yang menyenangkan,” ungkap Ningsih.
Titik perubahan mulai terjadi ketika ia mengikuti pelatihan pengembangan kapasitas guru dalam Program KREASI. Melalui pelatihan tersebut, Ningsih memperoleh pemahaman baru mengenai pembelajaran literasi yang lebih berpusat pada kebutuhan anak. Ia belajar bahwa suasana belajar yang nyaman, menyenangkan, dan melibatkan unsur bermain dapat membantu anak lebih terbuka terhadap proses belajar.
Menurutnya, ketika anak merasa aman dan bahagia di dalam kelas, motivasi belajar akan tumbuh secara alami. Kondisi tersebut menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kemampuan literasi anak.
Berbekal pemahaman tersebut, Ningsih mulai melakukan perubahan di ruang kelasnya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menata sudut baca menjadi lebih menarik dan ramah anak. Sudut baca tersebut dihiasi dengan warna-warna cerah, ilustrasi yang menarik, serta koleksi buku cerita yang sesuai dengan usia dan minat murid. Penataan ini dirancang untuk membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus mendorong anak lebih sering berinteraksi dengan bahan bacaan.
Perubahan yang dilakukan tidak hanya sebatas mempercantik ruang kelas. Ningsih juga menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih terstruktur dan berdiferensiasi sesuai kebutuhan setiap murid. Dalam proses pembelajaran literasi, ia mengintegrasikan empat komponen utama, yaitu kesadaran bunyi, kosakata, kelancaran membaca, dan pemahaman bacaan.
Untuk memastikan setiap murid memperoleh dukungan yang tepat, Ningsih terlebih dahulu melakukan asesmen awal guna memetakan kemampuan literasi masing-masing anak. Hasil asesmen tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar murid, mulai dari yang masih memerlukan penguatan kesadaran bunyi hingga yang sudah siap mengembangkan kelancaran membaca dan pemahaman bacaan.
Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, murid kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok belajar. Menariknya, untuk menghindari stigma maupun perasaan minder pada anak yang kemampuan membacanya masih berkembang, setiap kelompok diberi nama hewan.
“Kami menggunakan nama hewan agar anak-anak tidak merasa dibeda-bedakan. Mereka justru merasa senang dan bangga dengan kelompoknya masing-masing. Dengan cara ini saya bisa memberikan pendampingan yang lebih sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok,” ujar Ningsih.
Pendekatan tersebut perlahan membawa perubahan positif di dalam kelas. Sudut baca yang penuh warna mulai menjadi tempat favorit murid untuk berkumpul, membaca buku cerita, melihat gambar, dan berdiskusi dengan teman-temannya. Tanpa harus selalu diarahkan, anak-anak mulai menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap kegiatan membaca.
Dalam beberapa bulan penerapan, perubahan suasana belajar mulai terlihat. Kelas yang sebelumnya cenderung pasif kini menjadi lebih hidup dan interaktif. Murid lebih aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran, sementara aktivitas membaca tidak lagi dipandang sebagai tugas yang membosankan.
“Sekarang proses belajarnya lebih santai dan menyenangkan. Anak-anak merasa lebih nyaman di kelas. Kelas yang dulu cenderung sepi sekarang menjadi lebih hidup. Alhamdulillah, meskipun baru berjalan beberapa bulan, perubahannya sudah mulai terlihat. Anak-anak tidak lagi enggan ketika diajak membaca,” kata Ningsih. Pengalaman Ningsih menunjukkan bahwa perubahan sederhana di ruang kelas dapat memberikan dampak yang berarti bagi proses belajar anak. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan murid, literasi tidak lagi menjadi sekadar target pembelajaran, melainkan bagian dari pengalaman belajar yang menyenangkan bagi setiap anak.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Tanggamus dikelola Save the Children dan diimplementasi LP Maarif NU, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Tanggamus dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Dony Eri Pratama | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Dony Eri Pratama/KREASI/LP Maarif NU/Save the Children