Upaya meningkatkan kualitas pendidikan tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan ruang yang mempertemukan berbagai pihak untuk saling mendengar, menyusun langkah, dan berbagi tanggung jawab. Semangat itulah yang hadir dalam Forum Jejak KREASI: Pengesahan dan Aktivasi Konsorsium Pendidikan yang diselenggarakan pada 1 Juli 2026.
Forum Jejak KREASI ini melanjutkan diskusi yang telah dilaksanakan pada 25–26 Mei 2026. Para pemangku kepentingan telah dipertemukan melalui Rembuk Pendidikan dan Sesi Pemetaan Pemangku Kepentingan. Dalam dua forum tersebut, peserta bersama-sama memetakan tantangan pendidikan di Pesisir Barat, mengidentifikasi aktor-aktor yang memiliki peran strategis, serta menyusun gambaran awal bagaimana kolaborasi dapat dibangun untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan di daerah.
Berbekal proses tersebut, Forum Jejak KREASI menjadi ruang untuk mengubah hasil diskusi menjadi langkah yang lebih nyata. Jika pada pertemuan sebelumnya para peserta menyepakati pentingnya bergerak bersama, kali ini mereka mulai menyusun wadah kolaborasi yang akan mewadahi kerja sama tersebut melalui pembentukan Konsorsium Pendidikan. Dengan demikian, gagasan yang telah dirintis bersama tidak berhenti sebagai kesepahaman, tetapi mulai diterjemahkan menjadi struktur, pembagian peran, dan rencana kerja yang dapat dijalankan secara berkelanjutan.
Kegiatan ini mempertemukan 23 perwakilan dari berbagai organisasi perangkat daerah, organisasi profesi, organisasi masyarakat sipil, hingga pemangku kepentingan pendidikan lainnya. Forum menjadi bagian dari rangkaian advokasi Program KREASI untuk membangun ekosistem kolaborasi yang lebih kuat dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan dasar di Kabupaten Pesisir Barat. Sebelumnya, proses ini telah diawali melalui Lokakarya Penyesuaian Fokus Ekosistem dan Pemetaan Pemangku Kepentingan yang menghasilkan kesepahaman mengenai pentingnya kerja sama lintas sektor.
Salah satu hal yang menjadi pembeda dalam forum kali ini adalah peran aktif pemerintah daerah, bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai fasilitator utama. Seluruh proses diskusi dipandu oleh Plt. Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bapperida Kabupaten Pesisir Barat Eman Sulaeman. Keterlibatan ini menjadi langkah penting karena menunjukkan tumbuhnya kepemilikan pemerintah daerah terhadap proses penguatan ekosistem pendidikan. Sejak awal, forum tidak lagi diposisikan sebagai agenda program semata, melainkan sebagai ruang bersama untuk merancang masa depan pendidikan di Pesisir Barat.
Sepanjang kegiatan, peserta diajak mendiskusikan berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi daerah. Mulai dari terbatasnya kesempatan anak melanjutkan pendidikan, perlunya peningkatan kualitas guru, hingga tingginya perhatian terhadap isu anak putus sekolah menjadi bagian dari pembahasan bersama. Beragam perspektif tersebut memperlihatkan bahwa setiap institusi memiliki pengalaman dan perhatian yang berbeda, namun semuanya bermuara pada tujuan yang sama: menghadirkan layanan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak Pesisir Barat.
Diskusi kemudian berkembang menjadi proses menyusun struktur kepengurusan Konsorsium Pendidikan beserta mekanisme kerja yang akan dijalankan. Menariknya, proses ini berlangsung dengan semangat partisipatif. Peserta tidak hanya mengusulkan instansi yang dianggap tepat mengisi suatu bidang, tetapi juga secara sukarela menyatakan kesiapan organisasinya untuk terlibat sesuai dengan kapasitas dan keahlian masing-masing. Suasana tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi tumbuh bukan karena penunjukan, melainkan karena kesadaran bersama bahwa setiap pihak memiliki peran dalam memperbaiki kualitas pendidikan.
Hasil forum menghasilkan struktur kepengurusan Konsorsium Pendidikan yang melibatkan berbagai unsur pemerintah, organisasi profesi guru, organisasi masyarakat sipil, hingga lembaga pendidikan. Bersamaan dengan itu, peserta juga menyepakati mekanisme koordinasi, dokumen komitmen bersama, serta rencana kerja awal sebagai pijakan untuk menjalankan kolaborasi dalam beberapa bulan ke depan. Forum juga menetapkan mekanisme pertemuan rutin dan saluran komunikasi agar koordinasi antarpihak dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Pembentukan konsorsium ini menjadi awal dari proses yang lebih panjang. Setelah forum ini, anggota Konsorsium Pendidikan akan mengikuti serangkaian penguatan kapasitas untuk meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi, mengawal, dan mengadvokasi berbagai isu strategis pendidikan di Kabupaten Pesisir Barat. Penguatan ini diharapkan dapat membantu konsorsium menjalankan perannya secara lebih efektif sebagai ruang kolaborasi lintas sektor yang mampu mendorong perubahan secara berkelanjutan.
Ke depan, Konsorsium Pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi wadah koordinasi antarpemangku kepentingan, tetapi juga mampu berpartisipasi aktif dalam berbagai forum strategis daerah, termasuk Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Dengan demikian, berbagai tantangan pendidikan, mulai dari peningkatan mutu pembelajaran hingga penanganan isu anak putus sekolah, dapat semakin terhubung dengan proses perencanaan dan pengambilan kebijakan di tingkat daerah. Melalui langkah ini, kolaborasi yang telah dibangun tidak berhenti sebagai komitmen bersama, tetapi terus bertumbuh menjadi gerakan yang memberi dampak nyata bagi pendidikan di Pesisir Barat.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pesisir Barat dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Yayasan Guru Belajar, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Clara Sidharta | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Clara Sidharta/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children