Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di ruang kelas, tetapi juga oleh seberapa kuat dukungan ekosistem yang mengelilinginya. Kesadaran inilah yang menjadi landasan pelaksanaan “Rembuk Pendidikan: Memetakan Peran, Menyatukan Gerak untuk Pendidikan Pesisir Barat” sebuah Lokakarya Penyesuaian Fokus Ekosistem yang diselenggarakan pada 25 Mei 2026 di Krui, Kabupaten Pesisir Barat.
Melalui rembuk pendidikan ini, KREASI menghadirkan 21 orang pemangku kepentingan yang terdiri dari perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), organisasi profesi guru seperti PGRI, IGI, K3S, K3M, dan KKG, serta organisasi masyarakat seperti Dharma Wanita Persatuan dan LPAI. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog partisipatif untuk membangun pemahaman bersama mengenai konsep ekosistem pendidikan, mengidentifikasi titik masuk awal advokasi, serta memperkenalkan rancangan awal peran konsorsium pendidikan yang akan dikembangkan bersama.
Kegiatan yang difasilitasi oleh Tim KREASI berlangsung secara aktif sejak pagi hingga sore hari.
Dalam sambutannya, Advocacy Coordinator KREASI Save the Children, Rikson Simanjuntak menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi perubahan pendidikan yang berkelanjutan.
Semangat yang sama juga disampaikan oleh para perwakilan instansi daerah yang hadir. Hudri dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pesisir Barat mengajak sekolah dan masyarakat memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar yang lebih hidup.
Erido R. dari DPRKPPLH mengingatkan bahwa isu lingkungan dan pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang dapat diperkuat melalui pendidikan.
Sementara itu, Rahmad Wahyudi yang mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Barat menyampaikan apresiasi terhadap Program KREASI serta komitmen pemerintah daerah untuk mendukung berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan.
Sepanjang kegiatan, peserta diajak merefleksikan kondisi pendidikan di Pesisir Barat, memetakan hubungan antaraktor yang selama ini terlibat, serta mengidentifikasi peluang kolaborasi yang dapat diperkuat. Diskusi yang berlangsung hangat dan terbuka menunjukkan bahwa setiap lembaga memiliki kepedulian yang sama terhadap masa depan pendidikan Pesisir Barat. Perbedaan latar belakang dan kewenangan justru menjadi kekuatan yang memperkaya perspektif dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas.
Rembuk Pendidikan ini tidak berhenti pada penyamaan pemahaman semata. Forum ini menjadi langkah awal untuk membangun gerakan kolektif yang lebih terstruktur. Hasil diskusi yang muncul pada tanggal 25 Mei 2026 kemudian ditindaklanjuti melalui kegiatan ”Sesi Pemetaan Pemangku Kepentingan untuk Keterhubungan Ekosistem Pendidikan Pesisir Barat” pada 26 Mei 2026. Kegiatan lanjutan tersebut melibatkan 24 peserta dari 17 organisasi dan instansi untuk melakukan pemetaan pemangku kepentingan secara lebih mendalam. Melalui metode Analisis 3A, pemetaan Power-Interest Grid, serta identifikasi dan klasifikasi pemangku kepentingan, peserta bersama-sama mengidentifikasi aktor-aktor strategis yang dapat berperan dalam mendorong perubahan pendidikan di Kabupaten Pesisir Barat.
Proses ini menghasilkan peta pemangku kepentingan yang tervalidasi, identifikasi aktor prioritas untuk dilibatkan, serta rancangan awal strategi pelibatan yang akan menjadi dasar pembentukan dan penguatan konsorsium pendidikan daerah. Hasil tersebut menjadi fondasi penting bagi upaya advokasi kebijakan dan penganggaran pendidikan yang lebih terkoordinasi, sekaligus memastikan bahwa setiap pihak dapat mengambil peran sesuai kapasitas dan kewenangannya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, para pemangku kepentingan tidak hanya dipertemukan dalam satu forum, tetapi juga diajak membangun kesadaran dan komitmen bahwa peningkatan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan pemahaman yang semakin selaras, peran yang semakin jelas, dan strategi kolaborasi yang mulai terbentuk, diharapkan seluruh sumber daya yang ada di Kabupaten Pesisir Barat dapat bergerak secara lebih terpadu untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran yang merata, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh anak.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pesisir Barat dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Yayasan Guru Belajar, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Clara Sidharta | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Clara Sidharta/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children