Skip to content Skip to footer

Tim Advokasi KREASI Perkuat Strategi Keberlanjutan Program di Daerah

KREASI menyelenggarakan Peningkatan Kapasitas Advokasi bagi Mitra Pelaksana Lokal Program KREASI, khususnya para Advocacy Officer yang didampingi para Program Manager, dari delapan kabupaten pada 8–12 Juni 2026 di Jakarta. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas mitra dalam mendorong keberlanjutan program peningkatan literasi dan numerasi melalui kebijakan daerah, penganggaran yang tepat, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Pelatihan ini menjadi ruang bersama bagi para mitra pelaksana lokal untuk menyamakan persepsi, merefleksikan capaian program, serta merumuskan strategi advokasi yang lebih terarah. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memastikan praktik baik dan pendekatan yang telah dikembangkan KREASI dapat masuk ke dalam sistem kebijakan daerah, sehingga dampak program tidak berhenti pada intervensi teknis di sekolah atau madrasah semata.

Chief of Party KREASI Save the Children, Alifah Sri Lestari, menegaskan bahwa perubahan di sektor pendidikan membutuhkan pendekatan yang lebih luas dan berkelanjutan. Menurutnya, intervensi teknis di sekolah perlu didukung oleh kebijakan yang tepat dan penganggaran yang baik.

“Perubahan di sektor pendidikan tidak cukup hanya melalui intervensi teknis di sekolah. Diperlukan kebijakan yang tepat dan penganggaran yang baik, sehingga advokasi menjadi strategi kunci untuk memastikan dampak program dapat berkelanjutan dan masuk ke dalam sistem kebijakan daerah,” ujarnya saat pembukaan acara.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari Kepala Subdirektorat Kurikulum dan Evaluasi, Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, yang mewakili Co-Chair Mitra Pendidikan Indonesia, Abdul Basit. Ia menyampaikan bahwa KREASI terus menunjukkan komitmennya melalui berbagai kegiatan, termasuk pelatihan advokasi yang mempertemukan mitra pelaksana lokal dari delapan kabupaten.

Abdul Basit menilai forum ini penting untuk menyamakan persepsi terkait program, sekaligus menjadi ruang brainstorming antardaerah yang memiliki semangat sama dalam mendukung pemerintah meningkatkan literasi dan numerasi.

“Kami mengapresiasi kegiatan KREASI yang terus bergerak melalui berbagai kegiatan, termasuk pertemuan penting ini untuk menyamakan persepsi terkait program. Diskusi ini dapat dimanfaatkan untuk brainstorming dari delapan kabupaten, karena kita memiliki semangat yang sama dalam mendukung pemerintah terkait peningkatan literasi dan numerasi,” ungkap Abdul Basit.

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi berbasis data untuk melihat dampak pendampingan yang telah dilakukan. Menurutnya, setelah satu tahun pendampingan, perlu dilihat apakah terdapat peningkatan capaian pada madrasah atau sekolah dampingan, antara lain melalui perbandingan baseline Rapor Pendidikan 2024 dan 2025.

“Setelah satu tahun didampingi, perlu dievaluasi apakah ada kenaikan nilai pada madrasah atau sekolah dampingan. Ini bisa dicek dari baseline Rapor Pendidikan 2024 dibandingkan dengan 2025, karena kita selalu bicara tentang output,” jelasnya.

Lebih lanjut, Abdul Basit menegaskan bahwa anggaran yang diberikan kepada mitra pelaksana lokal perlu dipastikan memberi dampak nyata. Salah satu caranya adalah dengan membandingkan capaian madrasah atau sekolah yang didampingi dengan yang tidak didampingi, sehingga terlihat posisi dan kontribusi program terhadap peningkatan literasi dan numerasi.

Ia juga mengajak para peserta untuk melakukan muhasabah atau introspeksi terhadap pendekatan yang selama ini dijalankan. Menurutnya, penguatan proses, sistem, dan kultur di sekolah maupun madrasah dapat dilakukan sepanjang kepala sekolah, guru, dan pendamping memiliki semangat yang sama.

“Kita perlu melakukan muhasabah, apakah pendekatan kita berdampak atau tidak. Penguatan proses, sistem, dan kultur di sekolah atau madrasah diyakini dapat dilakukan sepanjang kepala sekolah, guru, dan pendamping memiliki semangat yang sama,” tambah Abdul Basit.

Ia menambahkan bahwa tantangan pendidikan tidak semestinya hanya dilihat dari sisi administrasi atau keterbatasan infrastruktur. Kehadiran KREASI justru diharapkan dapat mendorong perubahan pada “isi” pendidikan, termasuk membangun pola pikir guru agar lebih berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran.

Melalui pelatihan ini, KREASI mendorong mitra pelaksana lokal untuk memperkuat strategi advokasi berbasis bukti, membangun dialog dengan pemerintah daerah, serta memastikan hasil pendampingan dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan dan penganggaran daerah. Dengan demikian, upaya peningkatan literasi dan numerasi di sekolah dan madrasah dapat terus berlanjut secara sistematis, terukur, dan berdampak luas.