Program KREASI menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas Pengembangan Profesional Kepala Sekolah (Principal Profesional Development/PPD) dan Perlindungan Anak melalui Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang menghadirkan para fasilitator daerah dari 8 kabupaten pada 5-8 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas fasilitator dalam mendukung peningkatan literasi, numerasi, kepemimpinan pembelajaran, serta pembangunan budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
Melalui pelatihan berjenjang atau Training of Trainers (ToT), para fasilitator daerah diharapkan mampu mendampingi sekolah dan madrasah secara lebih efektif, baik dalam peningkatan kualitas pembelajaran maupun dalam memastikan keamanan dan kenyamanan anak di lingkungan pendidikan.

Dalam sambutannya, Chief of Party KREASI Save the Children, Alifah Sri Lestari, menekankan pendekatan yang terintegrasi dalam implementasi program.
“Pendekatan terintegrasi diperlukan agar pembelajaran anak–anak berjalan optimal sehingga perlu paket-paket seperti TPD, PPD, BSAN, yang akan diterapkan fasilitator daerah dan diharapkan meningkatkan literasi numerasi serta sistem integrasi untuk keamanan anak,” ujar Alifah.
Sementara itu, Co-Chair Mitra Pendidikan Indonesia yakni Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, dalam sambutan sekaligus pembukaan kegiatan menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan titik temu dari berbagai kekuatan besar pendidikan, yaitu kepemimpinan sekolah, BSAN, dan pembelajaran berdampak.
“Hari ini bukan sekadar pelatihan, tetapi titik temu kekuatan besar pendidikan: school leadership, BSAN, dan pembelajaran berdampak,” ujarnya.
Menurut Toni, Program KREASI merupakan contoh nyata bahwa transformasi pendidikan tidak dapat dilakukan sendiri. Transformasi pendidikan membutuhkan kerja kolaboratif, lintas sektor, serta komitmen pada keberlanjutan.
Ia menekankan pentingnya kepemimpinan sekolah dalam mendorong perubahan kualitas pembelajaran. Kualitas sekolah, menurutnya, tidak akan melampaui kualitas kepemimpinannya. Kepala sekolah memiliki peran penting sebagai pengarah budaya belajar dan penggerak guru dalam menjaga kualitas pembelajaran di kelas.

“Kita harus mempercepat peningkatan kualitas guru di sekolah. Pelatihan guru tidak lagi cukup hanya berbasis sertifikat atau dilakukan di hotel, tetapi perlu mengubah mindset pelatihan menjadi proses bereksperimen di kelas, tidak meninggalkan sekolah, dipantau oleh kepala sekolah dan pengawas, serta diikuti dengan refleksi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa perubahan kepemimpinan dan praktik pembelajaran tidak dapat dilakukan secara satu arah. Diperlukan pendampingan berkelanjutan di daerah sasaran serta proses pengimbasan agar ekosistem pendidikan yang lebih kuat dapat terbangun.
Dalam konteks tersebut, peran fasilitator daerah menjadi sangat strategis. Data perlu digunakan sebagai alat untuk memetakan kondisi setiap sekolah secara kontekstual, sehingga pendampingan dapat dilakukan sesuai kebutuhan nyata di lapangan.
“Peran coach seperti fasilitator daerah menjadi krusial. Data menjadi alat untuk memetakan kondisi setiap sekolah, agar intervensi yang dilakukan penting, tepat, dan kontekstual,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Toni menegaskan bahwa pembelajaran mendalam tidak akan terjadi di sekolah yang tidak aman. Karena itu, BSAN harus dipandang sebagai pondasi utama kualitas pembelajaran, bukan sebagai program tambahan.
“Tidak ada pembelajaran mendalam dalam sekolah yang tidak aman. Sekolah yang aman memungkinkan anak berpikir kritis dan berkreasi. BSAN bukan program tambahan, tetapi pondasi utama kualitas pembelajaran,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa Indonesia telah banyak melakukan pelatihan guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, serta perubahan kurikulum. Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa praktik pembelajaran di kelas benar-benar berubah. Ia berharap berbagai strategi prioritas yang dilakukan dalam tiga tahun ke depan dapat mendorong peningkatan literasi dan numerasi secara nyata.
Salah satu strategi yang didorong adalah Teacher Experiential Training (TET), yaitu pendekatan yang menempatkan guru sebagai peneliti di kelasnya sendiri. Melalui pendekatan ini, guru tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga melakukan diagnosis berbasis data, memetakan kelemahan siswa, menerapkan pendekatan teaching at the right level, mencoba strategi pembelajaran mendalam, serta melakukan refleksi bersama kepala sekolah dan pengawas.
“Siklus ini akan berulang. Jika refleksi rutin dilakukan, kualitas siswa dan guru akan meningkat. Inilah mesin perubahan pembelajaran,” ujar Toni.
Sementara, Kepala Sub Direktorat Kurikulum dan Evaluasi, Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, Abdul Basit, menekankan bahwa pembangunan BSAN tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan sekolah dan madrasah. Menurutnya, orang tua dan masyarakat juga perlu dilibatkan agar lingkungan belajar yang aman dan nyaman benar-benar dapat terwujud.

“Membangun BSAN tidak hanya cukup di lingkungan sekolah dan madrasah, tetapi harus melibatkan orang tua siswa. Dengan demikian, lingkungan yang aman dan nyaman dapat direalisasikan, termasuk mencegah munculnya kembali kekerasan yang saat ini definisinya juga terus berkembang,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kehadiran KREASI melalui pelatihan berjenjang hingga ke sekolah dan madrasah diharapkan dapat membangun persepsi yang sama di antara para pemangku kepentingan pendidikan. BSAN, menurutnya, tidak boleh dipandang sekadar sebagai program, melainkan sebagai bagian dari kultur dan tanggung jawab bersama.
“Ini bukan hanya program, tetapi upaya membangun budaya Satuan Pendidikan Aman dan Nyaman sebagai tanggung jawab bersama, dengan mempertimbangkan heterogenitas sekolah dan madrasah,” tambahnya.
Basit juga berharap para peserta dapat melakukan pengimbasan kepada sekolah dan madrasah lainnya. Hal ini penting karena tidak semua satuan pendidikan memperoleh kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan secara langsung.
Melalui kegiatan peningkatan kapasitas ini, KREASI berharap para fasilitator daerah dapat memperkuat perannya dalam mendampingi sekolah dan madrasah. PPD dan BSAN diharapkan mampu mendorong perubahan nyata dalam interaksi guru dan murid di kelas, sehingga kualitas pembelajaran meningkat dan pendidikan untuk semua dapat tercapai.
Kegiatan ini juga menggunakan pendekatan partisipatif melalui berbagai metode pembelajaran, seperti diskusi, studi kasus, refleksi, dan praktik. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadikan pelatihan lebih kontekstual, aplikatif, dan berdampak bagi peserta maupun satuan pendidikan yang akan mereka dampingi.