Skip to content Skip to footer

KREASI Perkuat Kapasitas Literasi dan Pengembangan Profesional Guru (TPD)

Save the Children melalui KREASI mengadakan lokakarya untuk memperkuat kapasitas, pemahaman literasi, serta strategi pendampingan kelas bagi para fasilitator daerah dan Mitra Pelaksana Lokal (MPL) . Kegiatan ini melibatkan para Staf Pengembangan Profesional Guru (Teacher Profesional Development/TPD Officer) dan Pelatih Utama Daerah, koordinator, dan fasilitator dari delapan kabupaten intervensi Program KREASI.

Pelatihan ini bertujuan sebagai persiapan dan pembekalan untuk implementasi program tahun kedua.

Lokakarya ini tidak hanya berfokus pada penguatan pemahaman teknis terkait pembelajaran literasi, tetapi juga mendorong pendekatan fasilitasi yang partisipatif, pendidikan inklusif, serta perencanaan tindak lanjut yang berkelanjutan untuk implementasi di sekolah.

Membangun Lingkungan Belajar yang Partisipatif dan Inklusif

Sejak hari pertama, peserta menunjukkan keterlibatan aktif dan antusiasme dalam setiap sesi. Fasilitator menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan kolaboratif sehingga peserta merasa percaya diri untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mencoba strategi baru.

Beberapa sesi awal membahas Universal Design for Learning (UDL), Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), serta Disiplin Positif. Dalam sesi refleksi, peserta dan fasilitator menekankan pentingnya mengaitkan materi tersebut secara langsung dengan konteks nyata guru dan sekolah agar lebih mudah diterapkan di lapangan.

Lokakarya ini juga memperkuat pemahaman peserta tentang pendidikan inklusif melalui pengenalan tiga model disabilitas, yaitu charity model, medical model, dan social model. Pendekatan ini bertujuan mendorong guru untuk tidak lagi menggunakan pendekatan berbasis rasa kasihan, melainkan memastikan akses dan kesempatan belajar yang setara bagi semua peserta didik.

Selain itu, jenjang kompetensi disiplin positif dari tingkat pemula hingga mahir telah dimasukkan ke dalam lembar observasi sebagai panduan pengembangan praktik pengelolaan kelas yang lebih efektif dan berpihak pada anak.

Memperkuat Pembelajaran Literasi dan Keterampilan Fasilitasi

Pada hari kedua dan ketiga, workshop berfokus pada penguatan pembelajaran literasi, termasuk pengenalan literasi, pengembangan kosakata, kelancaran membaca, kesadaran fonologis, pemahaman bacaan, serta praktik microteaching.

Partisipasi peserta terlihat sangat kuat dan merata. Dinamika kelompok berjalan seimbang dengan dominasi yang minimal, sehingga seluruh peserta memiliki kesempatan untuk berkontribusi secara aktif. Sesi simulasi dan pemodelan yang difasilitasi bersama oleh TPD Officer, koordinator, dan Pelatih Utama Daerah dinilai sangat efektif dalam membantu peserta memahami penerapan strategi pembelajaran di kelas.

Peserta juga menyoroti pentingnya penggunaan padanan istilah dalam Bahasa Indonesia untuk memudahkan pemahaman guru di tingkat akar rumput. Selain itu, refleksi lokakarya menunjukkan perlunya pengarusutamaan isu perubahan iklim melalui pemilihan bahan bacaan dan contoh pembelajaran yang relevan.

Selama sesi microteaching, peserta memberikan umpan balik yang konstruktif dan saling mendukung. Budaya belajar yang positif ini membantu peserta berkembang tanpa merasa dihakimi, sekaligus memperkuat kemampuan refleksi dan evaluasi diri.

Meski demikian, lokakarya juga mengidentifikasi adanya variasi tingkat keterampilan dan kesiapan peserta. Beberapa peserta masih membutuhkan pendampingan lebih lanjut, terutama dalam memahami konsep asesmen dan menerapkan pendekatan fasilitasi partisipatif.

Memperkuat Pemahaman Asesmen dan Implementasi di Kelas

Hari keempat difokuskan pada praktik asesmen, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan learning journey. Peserta mengikuti simulasi dan praktik penggunaan alat asesmen literasi secara langsung.

Dalam refleksi harian, peserta menyampaikan bahwa hubungan antara cakupan dan capaian pembelajaran dengan pendekatan asesmen masih perlu diperjelas. Selain itu, petunjuk teknis seperti penghitungan kata dan penggunaan asesmen membutuhkan panduan yang lebih rinci agar tidak menimbulkan kebingungan saat implementasi di sekolah.

Lokakaryajuga menekankan pentingnya membedakan aspek yang bersifat negotiable dan non-negotiable dalam pelaksanaan program. Kejelasan ini diharapkan dapat membantu Fasilitator Daerah menjaga kualitas implementasi sekaligus tetap mampu menyesuaikan pendekatan dengan konteks lokal.

Selain itu, buku ditegaskan sebagai komponen inti program. Fasilitator didorong untuk tidak hanya menggunakan buku sebagai contoh dalam pelatihan, tetapi juga aktif membangun budaya membaca dan menciptakan lingkungan belajar yang kaya teks di sekolah.

Mempersiapkan Pelatih Daerah untuk Implementasi Berkelanjutan

Hari terakhir lokakarya berfokus pada teknik fasilitasi, simulasi praktik, serta penyusunan rencana tindak lanjut (RTL). Peserta menunjukkan kesiapan yang kuat, baik secara mental maupun teknis, untuk melaksanakan pelatihan di tingkat kabupaten.

Salah satu refleksi penting menunjukkan bahwa beberapa Pelatih Utama Daerah dengan latar belakang dosen masih cenderung menggunakan pendekatan ceramah. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan lanjutan untuk memperkuat keterampilan fasilitasi partisipatif dan interaktif.

Lokakarya ditutup dengan penegasan mengenai peran dan tanggung jawab Pelatih Utama Daerah dan Fasilitator Daerah. Setiap pihak didorong untuk menyusun rencana fasilitasi, jadwal coaching, dan timeline pelatihan sebagai bagian dari implementasi pascalokakarya.