Skip to content Skip to footer

Bebatuan yang Menggerakkan Siswa

Pagi di Lotu, pusat Kabupaten Nias Utara, jarang benar-benar sunyi, juga tak pernah benar-benar ramai. Dari jendela kayu yang terbuka separuh, udara lembab membawa suara ayam, juga debu halus dari jalan rusak diam-diam menyusup, dan di antara semua itu, Henni Hedianti berdiri di depan kelas satu sekolah dasar—kelas yang dulu baginya hanya ruang kecil penuh pengulangan.

Tujuh belas tahun mengajar di sekolah dasar ini membuatnya hafal setiap urutan: salam, membaca, menulis, berhitung. Selesai. Tidak ada kejutan, tidak ada pertanyaan yang membuatnya berhenti berpikir.

“Dulu saya hanya tahu bagaimana membuat anak bisa membaca dan menulis,” katanya. “Itu saja sudah dianggap cukup.”

Tapi “cukup” lama-lama terasa sempit. Anak-anak datang dengan wajah bosan, mengulang hal yang sama setiap hari, dengan cara yang itu-itu saja. Beberapa terkantuk di atas meja. Yang lain hanya menatap kosong papan tulis. Ia mulai curiga: mungkin bukan anak-anaknya yang kehilangan semangat, tapi dirinya sendiri.

Pemahaman itu mulai berubah sejak Henni mengikuti Program KREASI—yang menjadi sebuah ruang belajar bagi guru-guru di utara Nias untuk bereksperimen dan saling mengingatkan bahwa belajar bisa juga dimulai dari rasa ingin tahu. Tidak dengan ceramah, tapi dengan pengalaman—membiarkan anak menemukan maknanya sendiri.

Awalnya Henni skeptis. Ia tidak terbiasa membiarkan anak-anak “bermain” di kelas. Tapi setelah mencoba satu-dua metode, ia menemukan sesuatu yang sederhana: anak-anak justru lebih cepat paham ketika belajar lewat pengalaman mereka sendiri. Mungkin beginilah para leluhur dulu belajar—menjadikan alam dan segala di sekitarnya sebagai kosmosnya.

Namun cerita ini bukan hanya tentang metode. Ini tentang dua anak yang membuatnya belajar kembali tentang arti mengajar.

Dhavy dan Wilson, dua murid di kelasnya yang disebut “anak istimewa.” Tidak ada label resmi, tidak ada diagnosis dari dokter. Tapi pengalaman Henni telah memberitahunya bahwa mereka berbeda. Dulu, setiap kali ia mulai menjelaskan pelajaran, keduanya akan menunduk, lalu pelan-pelan merebahkan kepala di meja. Kadang tertidur. Kadang hanya menatap langit-langit, seolah dunia di sekitarnya terlalu bising untuk dipahami, terlalu asing.

“Dulu saya tidak tahu harus berbuat apa,” ucapnya. “Saya bukan guru luar biasa, saya hanya guru SD biasa.”

Ia mencoba membangunkan mereka, memberi latihan tambahan, menegur dengan lembut—semua tidak berhasil. Sampai suatu hari, dalam sesi pelatihan KREASI, ia mendengar istilah pembelajaran mendalam dan joyful learning. Atau bermain sambil belajar, dan belajar dengan kesadaran.

Ia memutuskan mencoba. Hari itu, ia membawa anak-anak keluar kelas. Di halaman sekolah yang kering berdebu sebab hujan belum tiba, mereka mengumpulkan batu kecil.

“Ayo kita belajar menulis huruf dari batu,” katanya. Anak-anak tertawa. Termasuk Dhavy dan Wilson, yang biasanya hanya diam enggan terlibat. Mereka mulai beranjak menata batu satu per satu, membuat bentuk serupa huruf, lalu berusaha menyusun nama mereka sendiri.

“Waktu itu saya lihat, mata mereka penuh sorot ingin tahu,” katanya menceritakan kembali. “Mereka senang.”

Itu mungkin hal kecil bagi guru lain, tapi bagi Henni, itu seperti pintu yang terbuka. Ia melihat Dhavy dan Wilson bukan lagi sebagai murid yang “tidak bisa”, tapi anak-anak yang butuh cara berbeda untuk memahami dunia.

Sejak hari itu, kelasnya tidak pernah sama. Tidak ada lagi ceramah panjang. Anak-anak didorong menemukan sendiri jawaban dari sekitar mereka—bunga, daun, batu, buah, semuanya bisa jadi bahan belajar. Ia mengajarkan angka lewat piktogram dari benda sekitar, warna lewat bunga liar di halaman sekolah.

Dan dua anak istimewanya ikut di dalamnya. Mereka tidak lagi tertinggal, malah sering memimpin kelompok kecil saat belajar di luar. Wilson, yang dulu tidak mau menulis, kini memulainya meskipun kadang mencorat-coret kertas dengan bangga. “Bukan hanya sekadar tahu huruf,” ujar Henni, “tapi tahu bahwa dia bisa”.

Di Nias, pendidikan sering kali dilihat sebagai formalitas. Banyak orang tua, terutama di kampung sekitar, masih berpikir sekolah tinggi tidak perlu—terutama bagi anak perempuan. Ada juga yang tidak bisa membaca sama sekali, sehingga sulit membantu anak belajar. “Saya punya murid, orang tuanya dua-duanya buta huruf,” katanya. “Mereka tidak tahu cara menulis nama sendiri.”

Dalam situasi seperti itu, sekolah menjadi satu-satunya tempat anak-anak bisa mengenal dunia. Tapi guru pun terbatas. Pelatihan jarang, metode minim–apabila enggan dibilang tidak ada, dan ini benar-benar terjadi, di mana laporan sering lebih tebal dari panduan mengajar, guru belajar berimprovisasi dengan apa yang ada.

Boleh dikata dari keterbatasan itu, lahir sesuatu yang lebih penting: kesadaran bahwa belajar bukan hanya urusan kognitif, tapi juga hubungan manusia.

Henni mulai menyadari, mengajar bukan tentang memberi tahu, tapi menemani anak-anak mencari tahu. Ia tidak lagi sibuk dengan buku pelajaran, tapi lebih sering menatap wajah-wajah kecil di depannya, membaca rasa ingin tahu mereka. Kadang mereka belajar tentang angka lewat menghitung batu di halaman, kadang tentang kebersamaan lewat merangkai daun menjadi bentuk hati.

“Dulu saya pikir mengajar itu tidak lebih sekadar soal pekerjaan,” katanya sambil menatap isi ruang kelas yang telah kosong. “Sekarang saya tahu, ternyata tidak sesederhana itu.”

Setengah tahun terakhir, perubahan di kelasnya mulai terlihat jelas. Anak-anak yang dulu pendiam kini berebut menjawab. Mereka tidak takut salah. Bahkan Dhavy dan Wilson kini lebih percaya diri. “Kalau saya tanya, siapa mau maju ke depan?” ujarnya, “mereka langsung angkat tangan. Tanpa menunggu aba-aba langsung maju”.

Guru-guru lain sempat heran. “Dulu anak itu tidak naik kelas,” kata salah satunya. Tapi kini mereka menulis, berhitung, bahkan mengajak teman lain ikut bermain sambil belajar dengan caranya sendiri.

Perubahan itu menular

Guru-guru di kelas lain mulai tertarik. Mereka bertanya, metode apa yang dipakai, bagaimana caranya membuat anak-anak seaktif itu. Dari sana, lahirlah obrolan baru di ruang guru: tentang belajar yang menyenangkan, tentang anak-anak yang bisa tumbuh tanpa takut, tentang guru yang menemukan semangatnya kembali.

Siang itu, setelah kelas selesai, Henni duduk di bangku kayu sekolah sambil menyeka kacamatanya yang nampak berminyak. Suara anak-anak masih terdengar dari kejauhan, bercampur tawa dan bising mesin kendaraan. Ia menatap ke arah lapangan tempat mereka biasa belajar. Batu-batu kecil masih berserakan di sana, sisa pelajaran hari itu.

“Dulu saya pikir, saya yang mengajar mereka,” katanya pelan. “Tapi ternyata mereka yang mengajar saya.”

Belajar, ia pahami kini, bukan hanya urusan akademik. Melainkan cara manusia saling menemukan–di ruang sederhana seperti kelasnya di Lotu.

Dan mungkin, dari sanalah pendidikan di Nias Utara mulai berubah: bukan dari kurikulum besar, tapi dari satu orang guru atau siapa pun yang memutuskan untuk percaya bahwa setiap anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, bisa belajar–selama ada yang mendengarkan dan berjalan bersama mereka. Tanpa sadar, apa yang dijalani Henni adalah seperti yang pernah dikatakan Paulo Freire, filsuf dan pendidik asal Brazil yang pemikirannya dikenal tajam dan revolusioner: bahwa mengajar bukan tentang menuangkan pengetahuan ke kepala murid, tapi tentang membangun dialog antara dua kesadaran yang sama-sama tumbuh.

_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Article 33 Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Utara. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Nias Utara dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa. 
_____
Penulis: Adzwari Ridzki | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Calvin Telaumbanua, Adzwari Ridzki/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children