Skip to content Skip to footer

Perjalanan Jemi Menemukan Kepercayaan Diri dalam Memimpin dan Membangun Budaya Growth Mindset di Sekolah

“Sebagai pemimpin, kita tidak perlu takut. Yang terpenting adalah bagaimana membangun komunikasi yang baik dengan para guru dan terus mengembangkan pola pikir bertumbuh,” kata Jemi.

Menjalankan amanah sebagai pelaksana tugas kepala sekolah di usia yang relatif muda bukanlah hal yang mudah. Tanggung jawab tersebut terasa semakin besar ketika sekolah yang dipimpin memiliki jumlah peserta didik yang banyak serta beragam tantangan dalam pengelolaannya.

Hal itulah yang dialami Jemi. Baru satu bulan mengemban amanah sebagai pelaksana tugas kepala sekolah, ia dihadapkan pada berbagai tantangan yang menuntut kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang matang. Meski sebelumnya pernah dipercaya sebagai wakil kepala sekolah dan memiliki hubungan yang baik dengan rekan-rekan kerjanya, posisi sebagai pemimpin tertinggi di sekolah menghadirkan tantangan yang berbeda.

Di satu sisi, ia harus memimpin guru-guru senior yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan. Di sisi lain, ia juga perlu mendampingi guru-guru muda dan tenaga pendidik yang masih terus mengembangkan kapasitas profesionalnya. Situasi tersebut sempat membuatnya berada dalam dilema antara mempertahankan pola kerja yang sudah berjalan atau mulai mendorong perubahan melalui pendekatan-pendekatan baru.

“Jujur, ada rasa canggung. Saya sempat bingung apakah harus mengikuti pola yang selama ini berjalan atau mulai membawa ide-ide baru. Karena waktu yang terbatas dan posisi yang masih baru, ada keraguan saat harus mengambil keputusan,” kenangnya.

Titik balik perjalanan kepemimpinan Jemi muncul ketika ia mengikuti pelatihan pengembangan profesional kepala sekolah yang dilaksanakan KREASI Ketapang. Melalui berbagai sesi pembelajaran dan diskusi bersama rekan-rekan kepala sekolah lainnya, ia memperoleh perspektif baru tentang peran seorang pemimpin dalam mengelola perubahan.

Pengalaman tersebut membantunya menyadari bahwa banyak kekhawatiran yang selama ini dirasakan berakar dari cara pandang yang kurang tepat terhadap kepemimpinan. Ia mulai memahami bahwa seorang pemimpin tidak harus memiliki semua jawaban atau berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan. Yang terpenting adalah membangun komunikasi yang terbuka, melibatkan tim, dan menciptakan ruang kolaborasi untuk mencari solusi bersama.

“Ternyata banyak pola pikir saya yang perlu diperbaiki. Melalui pelatihan ini, wawasan saya semakin terbuka. Saya belajar bahwa sebagai pemimpin kita tidak perlu takut. Yang paling penting adalah membangun komunikasi yang baik,” ujarnya.

Salah satu pembelajaran yang paling berkesan bagi Jemi adalah konsep pola pikir bertumbuh (growth mindset). Melalui pendekatan ini, ia belajar melihat tantangan sebagai peluang untuk berkembang dan memahami bahwa setiap individu memiliki potensi untuk terus belajar serta meningkatkan kemampuannya.

Pemahaman tersebut mengubah cara pandangnya dalam memimpin tim. Ia mulai melihat bahwa guru yang tampak kurang aktif atau belum menunjukkan keterlibatan optimal bukanlah masalah yang harus dihakimi, melainkan peluang untuk dibimbing, didengarkan, dan didukung agar mampu berkembang bersama.

Berbekal pembelajaran yang diperoleh, Jemi bertekad mengawali langkah kepemimpinannya dengan memperkuat komunikasi dan menyatukan visi seluruh warga sekolah. Ia berencana menggelar pertemuan bersama para guru untuk membangun kesepahaman mengenai arah pengembangan sekolah serta mendorong tumbuhnya budaya kerja yang lebih kolaboratif.

Perjalanan Jemi menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memberi arahan, tetapi juga tentang keberanian untuk terus belajar, merefleksikan diri, dan bertumbuh bersama. Dari rasa ragu yang sempat menyertai langkah awalnya sebagai kepala sekolah, kini tumbuh keyakinan baru bahwa perubahan dapat dimulai dari komunikasi yang baik, kemauan untuk belajar, dan keberanian untuk melihat setiap tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Ketapang dikelola Save the Children dan diimplementasi Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Ketapang dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Afriyandi Nur Huda | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Afriyandi Nur Huda/KREASI/Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah/Save the Children