Selama hampir dua dekade, Najir mengabdikan dirinya sebagai guru di sebuah sekolah dasar di Pulau Morotai. Ketika dipercaya menjadi kepala sekolah pada tahun 2023, tanggung jawabnya pun bertambah. Ia mulai mencari berbagai cara untuk meningkatkan mutu sekolah, termasuk memanfaatkan data sebagai dasar menyusun program perbaikan.
Di tengah upaya tersebut, Najir menyadari masih ada hal yang perlu dipelajarinya. Selama ini, ia lebih memahami asesmen sebagai alat untuk mengetahui capaian belajar siswa. Namun, melalui pelatihan dan pendampingan yang diberikan KREASI, ia mulai memahami Rapor Pendidikan, laporan yang menyajikan gambaran mutu sekolah berdasarkan data Asesmen Nasional, termasuk capaian literasi dan numerasi siswa. Melalui pendampingan tersebut, ia belajar memanfaatkan Rapor Pendidikan sebagai dasar menyusun langkah-langkah perbaikan di sekolah.
“Sebelumnya saya belum terlalu paham bagaimana cara meningkatkan literasi dan numerasi dalam Rapor Pendidikan. Saya hanya memahami asesmen. Setelah mendapat pendampingan dari KREASI, saya jadi memahami bagaimana melakukan intervensi pada literasi, numerasi, hingga pendidikan karakter,” kata Najir.
Pemahaman baru itu tidak berhenti di Najir. Setiap materi yang diperolehnya selama pelatihan yang dilaksanakan KREASI, ia bagikan kembali kepada guru-guru di sekolah. Bersama-sama, mereka mulai menerapkan berbagai hal yang dipelajari, mulai dari menyusun Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP), mengembangkan perangkat pembelajaran seperti modul ajar, hingga mempelajari pendekatan Desain Pembelajaran Universal agar pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan setiap siswa.
Menurut Najir, metode pelatihan dan pendampingan yang dilakukan KREASI menjadi salah satu faktor yang membuat guru lebih mudah menerapkan hal-hal baru di sekolah. Sebab, keterbatasan akses internet di Morotai membuat pembelajaran maupun pelatihan yang bersifat mandiri secara daring sulit dijangkau oleh guru.
“KREASI hadir dengan pendekatan yang berbeda. Pelatihan dilakukan secara langsung, ada praktik, pendampingan, dan guru terus dibimbing dalam penerapannya. Pendekatan seperti ini yang menurut saya membuat perubahan lebih terasa,” kata Najir.
Pendekatan tatap muka ini membuat guru tidak hanya menerima materi, tetapi juga mendapat pendampingan dalam penerapannya di kelas.
Salah satu upaya untuk meningkatkan literasi dan numerasi yang diberikan KREASI kepada guru kelas rendah adalah Klub Bermain Literasi dan Numerasi (Catch Up Club/CUC). Setelah dibekali dalam pelatihan, guru dan kepala sekolah menindaklanjutinya menjadi kegiatan rutin di sekolah. Klub ini merupakan kelas tambahan bagi siswa kelas 1 hingga 3 yang masih mengalami kesulitan belajar literasi dan numerasi. Siswa dikelompokkan sesuai kemampuan masing-masing sehingga pembelajaran lebih tepat sasaran dan lebih mudah diikuti. Pembelajaran dikemas melalui pendekatan berbasis bermain dengan memanfaatkan berbagai media dan aktivitas yang membuat siswa lebih tertarik untuk belajar.
Menurut Najir, pendekatan tersebut membantu guru memberikan pendampingan yang lebih sesuai dengan kemampuan setiap siswa. Di sekolahnya, pendekatan ini kemudian turut diadopsi hingga kelas 5.
Berbagai upaya yang dijalankan secara konsisten mulai menunjukkan hasil. Pada Rapor Pendidikan 2023 dan 2024, sebelum sekolah didampingi KREASI, indikator literasi dan numerasi masih berada pada kategori merah. Pada 2025, tahun pertama KREASI hadir di Morotai dan menjadikan sekolah Najir salah satu sekolah dampingan, indikator literasi berada di warna kuning, sementara numerasi mencapai kategori hijau. Kini, pada 2026, setelah didampingi KREASI, kedua indikator tersebut telah berada pada kategori hijau.
Bagi Najir, capaian tersebut bukan hasil kerja satu orang, melainkan hasil kekompakan sekolah dalam menerapkan hal-hal yang telah dipelajari secara konsisten.
“Kalau hanya saya sendiri, dampaknya tidak akan terlalu besar. Pengetahuan yang saya dapatkan saya bagikan kepada guru-guru, lalu kami menerapkannya secara konsisten. Hasilnya bisa kami rasakan bersama,” kata Najir.
Melihat perubahan tersebut membuat Najir semakin yakin bahwa pendampingan yang diterima benar-benar membawa dampak bagi sekolahnya.
“Saya merasa bahagia karena apa yang kami pelajari selama pendampingan KREASI tidak sia-sia. Pendampingan ini benar-benar berdampak bagi sekolah kami.”
Pengalaman itu pula yang mendorongnya untuk terus berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Pulau Morotai. Pada 2026, Najir mengikuti seleksi terbuka untuk menjadi fasilitator daerah kepala SD/MI yang diselenggarakan KREASI Morotai dan terpilih mengisi posisi tersebut. Setelah mengikuti pelatihan sebagai fasilitator daerah, ia mengimbaskan pengetahuannya kepada 40 kepala SD/MI yang menjadi sekolah dampingan KREASI pada tahun kedua pelaksanaan program.
“Saya merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam peningkatan literasi dan numerasi karena sekolah saya merupakan salah satu sekolah dampingan KREASI. Melalui program ini, saya merasakan langsung berbagai dampak positif, termasuk peningkatan Rapor Pendidikan. Pengalaman ini memotivasi saya untuk terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Pulau Morotai,” kata Najir.
Bagi Najir, perubahan dari merah menjadi hijau bukanlah akhir dari perjalanan. Pengalaman itu justru menjadi bekal untuk mendampingi lebih banyak kepala sekolah agar mampu memanfaatkan Rapor Pendidikan sebagai dasar memperkuat pembelajaran dan mendorong perubahan di sekolah masing-masing.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children