Skip to content Skip to footer

Dari Empat Penjuru Pesisir Barat: Cerita Guru Belajar Literasi di TPD 4 KREASI

Mengajar anak membaca bukan sekadar memastikan mereka mengenali huruf dan dapat melafalkan kata. Guru juga perlu memahami kemampuan setiap murid, mengenali kesulitan yang mereka hadapi, serta menentukan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Cara melihat pembelajaran literasi seperti ini menjadi bagian dari proses belajar 90 guru kelas 1–3 dalam Teacher Professional Development (TPD) KREASI pada 20–25 Juli 2026. Selama enam hari, para guru belajar dan berlatih di empat gugus yang tersebar di berbagai wilayah Pesisir Barat.

Dalam pelatihan ini, guru mempelajari berbagai hal yang dapat membantu mereka memahami dan mengembangkan kemampuan literasi murid. Mulai dari membangun kebiasaan membaca dan lingkungan kelas yang kaya literasi, melakukan asesmen membaca, hingga merancang pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid dengan memanfaatkan buku cerita anak.

Materi tersebut kemudian dipelajari melalui praktik. Guru bergantian mengambil peran sebagai guru dan murid saat melakukan asesmen membaca, memetakan kemampuan membaca, menyusun rencana pembelajaran, hingga melakukan simulasi dan memberikan umpan balik kepada rekan. Dengan cara ini, guru punya kesempatan untuk melihat kembali bagaimana konsep yang dipelajari dapat diterapkan dalam pembelajaran.

Dari empat gugus, prosesnya berjalan dengan dinamika yang berbeda-beda. Di Gugus 1 yang diikuti guru dari Karya Penggawa dan Way Krui, praktik asesmen membaca menjadi salah satu pengalaman yang menarik bagi peserta. Guru mencoba mengamati kemampuan membaca secara lebih rinci, mulai dari pengenalan huruf, bunyi huruf, ketepatan membaca kata, kelancaran, intonasi, pelafalan, hingga pemahaman isi bacaan. Hasilnya kemudian digunakan untuk memetakan kemampuan murid dan menentukan strategi pembelajaran yang lebih sesuai.

Bagi peserta, pengalaman ini membantu melihat bahwa murid dalam satu kelas bisa memiliki kemampuan membaca yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang diberikan kepada mereka pun tidak selalu harus sama. TPD juga mempertemukan guru dari berbagai sekolah. Salah satu peserta dari Gugus 1 menyebut kegiatan ini dapat menjadi referensi untuk meningkatkan kemampuan mendidik sekaligus menjadi ruang untuk mempererat hubungan dengan sesama pendidik dari berbagai sekolah dan latar belakang.

Di Gugus 2, guru dari Pesisir Tengah dan Krui Selatan belajar melihat pembelajaran membaca dari konteks murid mereka sendiri. Salah satu pembahasan yang muncul adalah penggunaan bahasa yang sudah akrab bagi murid sebagai jembatan dalam pembelajaran. Guru mendiskusikan bagaimana bahasa sehari-hari dapat membantu anak memahami makna kata dan bacaan, terutama ketika mereka berhadapan dengan kosakata yang belum familiar. Pembahasan seperti ini membuat materi pelatihan tidak berhenti sebagai konsep. Guru diajak menghubungkannya dengan situasi yang mereka temui di kelas.

Di Gugus 3 Ngambur, salah satu peserta menilai materi literasi yang diberikan mudah dipahami dan disampaikan dengan cara yang kreatif. Media dan contoh yang digunakan juga dinilai relevan dengan kebutuhan guru sehingga dapat langsung dipraktikkan. Pengalaman ini menunjukkan pentingnya memberi ruang bagi guru untuk mencoba. Dalam pelatihan ini, guru tidak hanya menerima contoh pembelajaran. Mereka juga menyusun perangkat, melakukan simulasi, dan mendapatkan umpan balik dari fasilitator maupun rekan sesama guru. Bagi guru, kesempatan untuk mencoba langsung membantu menjembatani apa yang dipelajari selama pelatihan dengan apa yang mungkin dilakukan di kelas.

Di Gugus 4 Pesisir Selatan, proses belajar banyak diisi dengan praktik dan simulasi pembelajaran. Guru mencoba mengintegrasikan berbagai komponen literasi dalam satu proses pembelajaran, termasuk kosakata, kelancaran membaca, bunyi huruf, dan pemahaman bacaan. Setelah simulasi, peserta dan fasilitator memberikan umpan balik menggunakan metode 3–2–1.  Di sini, kesalahan atau kekurangan dalam praktik tidak menjadi sesuatu yang harus ditutupi. Justru dari sanalah guru bisa melihat kembali bagian yang perlu diperbaiki. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyusunan Jurnal Belajar Guru dan rencana tindak lanjut selama satu bulan. Tujuannya agar hasil pelatihan dapat dibawa ke pembelajaran di sekolah masing-masing.

Enam hari pelatihan telah usai, para guru kini kembali ke sekolah dengan berbagai hal yang sudah dipelajari dan dicoba bersama selama selama pelatihan. Ada cara baru untuk melihat dan menempa kemampuan membaca murid, serta berbagai macam strategi pembelajaran yang ingin dicoba. Di kelas, guru akan kembali berhadapan dengan anak didiknya dalam situasi yang beragam. Setiap murid memiliki kemampuan membaca dan cara memahami pelajaran yang berbeda. Pengalaman di kelas kemudian menjadi ruang bagi guru untuk mencoba dan menyesuaikan hal-hal yang telah dipelajari selama pelatihan. Dari pengalaman tersebut, guru dapat melihat mana yang sudah berjalan dengan baik, mana yang masih perlu disesuaikan, dan hal-hal apa yang perlu dipelajari lebih lanjut. Pelatihan memang sudah selesai, tetapi proses belajar sebagai guru terus berjalan. Kali ini bersama murid-murid, yang setiap harinya juga sedang belajar.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pesisir Barat dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Yayasan Guru Belajar, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Clara Sidharta | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Clara Sidharta/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children