Anetri mulai menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah dampingan KREASI Morotai pada Mei 2025. Sebelumnya ia bekerja sebagai pengelola PAUD, sehingga transisi ini menjadi tantangan baru baginya. Saat mulai bertugas, ia langsung berhadapan dengan kenyataan bahwa banyak siswa, baik di kelas rendah maupun kelas tinggi, masih belum bisa membaca.
“Di awal saya jadi kepala sekolah, saya mendapati hampir di semua kelas masih ada anak yang belum bisa membaca, terutama di kelas atas,” kata Anetri.
Keterbatasan jumlah guru membuat situasi semakin menantang. Tidak cukup tenaga untuk mendampingi seluruh siswa. Menghadapi berbagai tantangan tersebut tidak membuat Anetri berhenti berusaha. Ia tetap aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan KREASI Morotai serta menyampaikan kebutuhan dan tantangan yang ia temui di lapangan. Dari proses ini, dukungan yang diberikan menjadi lebih kontekstual dan sesuai dengan kondisi sekolah.
Perubahan mulai terasa ketika KREASI Morotai hadir dengan pelatihan klub literasi dan numerasi (catch-up club). Dari pelatihan ini, Anetri mulai menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih aktif dan menyenangkan di kelas. Ia menggunakan media sederhana seperti kartu huruf, lembar kerja huruf dan angka putus-putus yang ditebalkan, serta aktivitas menempel huruf dan angka untuk membentuk kata dan bilangan. Anak-anak juga diajak menulis nama mereka sendiri dan mencari susunan huruf dari kartu yang tersedia. Perlahan, suasana kelas berubah menjadi lebih hidup dan anak-anak mulai lebih terlibat dalam proses belajar.
“Dengan metode ini anak-anak jadi lebih antusias. Mereka aktif sekali saat mencari kartu huruf sampai dapat lalu ditempel. Bahkan mereka sering minta langsung untuk belajar dengan cara ini,” kata Anetri.
Dampak paling terasa adalah pada kemampuan literasi siswa. Anak-anak yang sebelumnya belum mengenal huruf mulai menunjukkan perkembangan dan beberapa sudah mampu membaca kata sederhana. Anetri juga menggunakan hasil kerja siswa sebagai bahan evaluasi perkembangan mereka, termasuk untuk dipantau lebih lanjut di rumah.
Di luar kelas, KREASI juga membantu Anetri memperkuat budaya sekolah yang lebih aman dan positif. Melalui pelatihan TPPK (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan) yang diberikan KREASI Morotai, Anetri mulai menanamkan nilai-nilai yang ia pelajari ke dalam rutinitas harian. Setiap pagi, saat apel, ia dan guru-guru mengingatkan siswa hal-hal yang tampak sederhana namun sering diabaikan: tidak bicara kasar, tidak berkelahi.
“Kami setiap hari ingatkan anak-anak saat apel pagi, tidak boleh bicara kasar, tidak boleh berkelahi. Sekarang sudah jauh berkurang kejadian seperti itu dibanding dulu,” katanya.
Meskipun pembentukan Tim TPPK masih menghadapi tantangan karena kurangnya guru, Anetri tetap menjalankan nilai-nilainya perlindungan anak dengan apa yang ia punya. Hingga kini, ia tetap berusaha menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman.
Dukungan KREASI juga hadir melalui Tenaga Dukungan Teknis (TDT) dari lulusan Universitas Pasifik Morotai yang membantu proses pembelajaran di sekolah-sekolah dampingan. Kehadiran mereka membantu mengisi kekosongan tenaga pendidik di sekolah Anetri, sekaligus menjaga agar pembelajaran tetap berjalan lebih terstruktur di kelas.
Seiring waktu, perubahan di sekolah mulai terlihat jelas. Anak-anak menjadi lebih aktif, lebih percaya diri, dan mulai menikmati proses belajar. Dari yang sebelumnya kesulitan mengenal huruf, kini sebagian siswa sudah mampu membaca, sementara suasana kelas menjadi lebih hidup dan interaktif dibanding sebelumnya.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children