Skip to content Skip to footer

Kerendahan Hati yang Membawa Perubahan: Kisah Juliansyah di Pelatihan Program KREASI

Ada yang menarik yang melekat pada sosok Juliansyah, seorang guru SD yang kini mengemban amanah sebagai Fasilitator Daerah Pengembangan Profesional Guru (Teacher Profesional Development/TPD) semangat belajar yang berapi serta kerendahan hati.

Bagi Juliansyah, belajar bukanlah ajang pembuktian diri, melainkan upaya berkelanjutan untuk memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya. Namun, di balik semangat tersebut, ia adalah pribadi yang rendah hati.

Saat pertama kali mengikuti Pelatihan Fasilitator Daerah Pengembangan Profesional Guru pada Program KREASI, ia sempat merasa canggung berada di antara para pengawas dan kepala sekolah.

“Saya merasa hanya guru biasa,” ungkapnya dengan nada merendah. Namun, justru kerendahan hati itulah yang menjadi kekuatannya. Rasa ingin tahunya yang besar menjadi bahan bakar utama bagi Juliansyah untuk terus menyerap ilmu selama pelatihan berlangsung.

Sikap terbuka Juliansyah membuatnya mampu menangkap esensi pembelajaran dengan jernih. Salah satu pelajaran berharga yang ia petik adalah bahwa mengajar kreatif tidak selalu menuntut teknologi canggih.

“Ternyata saya salah besar. Insight baru yang saya dapat: kreatif itu mulai dari bagaimana kita memahami dunia anak dan memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita,” tuturnya.

Kesadaran ini mengubah pandangannya; bahwa literasi bukan sekadar mengenalkan huruf, melainkan memastikan anak memahami bacaan dengan baik melalui pendekatan yang tepat, seperti mengajarkan kesadaran bunyi huruf.

Program KREASI hadir sebagai wadah yang menghargai ketulusan setiap pendidik. Juliansyah menyambut baik metode pelatihan yang dinamis.

“Untuk kesan yang mendalam saat kegiatan setiap harinya kami dikelompokkan secara berbeda dengan anggota kelompok yang berbeda-beda sehingga suasana setiap hari menjadi lebih penuh berwarna,” jelasnya. Baginya, setiap rekan adalah guru, dan setiap diskusi adalah kesempatan untuk saling berbagi.

Lingkungan pelatihan yang suportif dan inklusif membuat Juliansyah merasa nyaman untuk berpendapat. Keberaniannya untuk aktif di forum pun tumbuh dari dorongan untuk berbagi ide demi kemajuan pendidikan.

“Lingkungan yang aman dan tidak menghakimi itulah yang bikin saya merasa dihargai, jadi saya merasa percaya diri buat angkat bicara,” ujarnya.

Puncak antusiasme Juliansyah muncul pada hari ketiga pelatihan saat fasilitator mendemonstrasikan metode bercerita yang interaktif. Momen tersebut menjadi titik balik penting bagi dirinya.

“Pas saat fasilitator menceritakan cerita dengan metode yang sangat asyik, di kepala saya langsung kebayang wajah anak-anak di kelas. Wah, si Aufa sama si Robi pasti bakal langsung senang dan mau maju untuk memperagakan si Boya kalau saya pakai cara ini!” kenangnya.

Bagi Juliansyah, pelatihan ini bukan sekadar teori, melainkan bekal praktis. Keyakinan bahwa metode yang tepat mampu meningkatkan keterlibatan siswa membuat ia merasa tidak sabar untuk segera menerapkan teknik tersebut di kelasnya.

Kini, Juliansyah telah kembali ke sekolah membawa bekal berharga. Ia tidak hanya membawa metode mengajar baru, tetapi juga membawa semangat untuk terus bertumbuh demi masa depan anak-anak bangsa.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Ketapang dikelola Save the Children dan diimplementasi Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Ketapang dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Afriyandi Nur Huda | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Afriyandi Nur Huda/KREASI/Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah/Save the Children