Di sebuah ruang kelas di salah satu di Nias Selatan, suasana belajar membaca tidak lagi terasa kaku dan membosankan. Pustriani, seorang pendidik yang penuh semangat, berhasil mengubah tantangan rendahnya minat baca siswa menjadi petualangan yang menyenangkan melalui inovasi media pembelajaran sederhana namun efektif yang ia beri nama “Berburu Suku Kata”.
Tantangan literasi di ruang kelas bagi banyak siswa kelas rendah: merangkai huruf menjadi suku kata sering kali menjadi beban yang berat. Pustriani menyadari bahwa metode ceramah konvensional tidak lagi cukup untuk menarik perhatian generasi saat ini yang lebih menyukai interaksi visual dan kinestetik. Hal ini sejalan dengan isu pendidikan di Nias Selatan yang sedang berjuang meningkatkan capaian literasi dan numerasi melalui platform digital seperti Ruang GTK.
Inovasi “Berburu Suku Kata” terinspirasi dari semangat kolaborasi dalam pelatihan yang diadakan KREASI Nias Selatan yang dilaksanakan Ikatan Guru Indonesia, Pustriani menciptakan media papan interaktif. Siswa tidak hanya duduk diam, tetapi diajak “berburu” potongan kartu suku kata yang telah disiapkan untuk disusun menjadi kalimat yang bermakna.
“Kunci dari pembelajaran yang berhasil adalah ketika murid merasa dilibatkan dan merasa nyaman,” ujarnya.
Media ini memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan, namun dampaknya luar biasa. Siswa yang sebelumnya pasif kini berebut untuk maju ke depan kelas, mencoba merangkai kata demi kata dengan penuh keceriaan.
Melalui pendampingan dalam lokakarya peningkatan kapasitas pendidik yang diadakan oleh KREASI, ia kini berani mendokumentasikan proses belajarnya dan membagikannya secara luas. Dengan bimbingan narasumber, ia mempelajari cara mengunggah karya digital agar bisa menjadi referensi bagi guru-guru lain di seluruh Indonesia melalui platform Ruang GTK.
Pustriani kini berkomitmen untuk terus melampaui keterbatasan literasi digital demi menciptakan lingkungan kelas yang inklusif. Melalui langkah kecil dari papan suku kata ini, ia berharap mutu pendidikan di Nias Selatan dapat terus meningkat, membuktikan bahwa kreativitas guru adalah kunci utama perubahan mutu sekolah.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education (GPE), dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Kementerian Agama (Kemenag) dalam konsorsium Mitra Pendidikan Indonesia (MPI). KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Ikatan Guru Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Afnidar Dakhi | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Afnidar Dakhi/KREASI/Ikatan Guru Indonesia/Save the Children