Skip to content Skip to footer

Menjahit Masa Depan: Cerita Murniwati, Guru dari Nias Utara 

Di ruang tamu rumahnya yang sederhana di Kecamatan Afulu, Nias Utara, suara mesin jahit sering terdengar ketika menjelang sore. Jarum menembus kain berulang, seperti mengulang ritme keseharian kehidupan kampung. Di sudut ruangan itu, Murniwati duduk, pandangannya lekat pada lipatan kain—baju untuk tetangga, tidak sedikit juga untuk orang yang belum pernah ia temui. Pekerjaan ini ia lakukan sepulang dari sekolah, selepas menuntaskan perannya sebagai guru sekolah dasar. 

Suasana hening di rumah seperti itu, jauh berbeda ketika kali pertama ia mengajar kelas 1 di salah satu SD di Nias Utara.  

“Anak-anak baru masuk sekolah, belum tahu aturan. Saya stres juga. Kadang mereka tarik tas saya, lari ke sana ke mari,” ujarnya menerangkan dengan wajah serius.  

Cara mengajarnya saat itu masih seperti kebanyakan guru lain: ceramah di depan, menulis di papan tulis, murid menyalin seperti orang dewasa yang dibelenggu kewajiban dan aturan.  

“Saya pikir mengajar kelas 1 itu mudah dan enak,” katanya, “ternyata paling sulit, karena saya belum pernah mengalaminya langsung.” 

Perlahan kondisi itu mulai bergeser setelah dia terlibat dalam Program KREASI — sebuah program peningkatan kualitas pembelajaran di Nias Utara yang membekali guru dengan pendekatan baru dalam literasi dan numerasi. Melalui beberapa kali pelatihan, Murniwati dipilih sebagai Master Teacher (MT), peran yang mengharuskannya tidak hanya menerapkan praktik baik di kelas, tapi lebih berdampak lagi, yaitu menularkan cara mengajar yang lebih efektif ke guru lain di sekolahnya. 

“Dulu saya berpikir mengajar ya harus banyak bicara. Tapi setelah mendapat bekal pengetahuan, saya paham bahwa setiap anak itu unik, berbeda kemampuan dan cara belajarnya. 

Saat dua pekan pertama tahun ajaran, dia melakukan asesmen sederhana untuk mengetahui kemampuan dasar murid. Dari situ, disesuaikan lah kegiatan belajar. Dari pelatihan itu pula, dia belajar menilai bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana murid memahami instruksi dan berinteraksi dengan temannya. 

Kelas yang dulu terasa tidak teratur kini lebih semarak dengan tawa dan percakapan. Ia mulai menggunakan serta memanfaatkan benda-benda di sekitar sekolah—daun, ranting, bunga, apa pun yang relevan serta mudah ditemukan—sebagai alat bantu belajar.  

“Anak-anak menyusun daun membentuk angka,” ujarnya. “Mereka tidak menghafal, tapi benar-benar memahami sebagai bentuk respon alami ketika situasi menyenangkan benar-benar tercipta.” 

Anak-anak yang dulu membuatnya stres kini datang memegang tangannya tiap pagi, menyapa ceria, atau meminta dibetulkan ikat tali sepatunya sebelum pelajaran dimulai. 

Pendekatan kontekstual seperti itu bukan hal baru dalam teori pendidikan, tapi di ruang-ruang belajar terpencil seperti Afulu, ia menghadirkan makna yang segar. Di tempat sinyal telepon sering putus dan sumber belajar serba terbatas, kreativitas menjadi bentuk ketahanan.  

“Yang penting mereka senang belajar,” kata Murniwati pelan. “Kalau sudah senang, mereka cepat tangkap pelajaran.” 

Transformasi tidak hanya terjadi di kelas. Murniwati merasakan babak baru pada dirinya sendiri. Ia mengaku menjadi lebih sabar—baik terhadap murid maupun anaknya di rumah.  

“Dulu saya cepat marah,” katanya, “sekarang saya lebih tenang. Kalau anak salah, saya peluk dulu sebelum menasehati.”  

Di rumah pun perubahan terasa: ia kini menasihati anak-anaknya dengan lembut, lebih banyak mendengar daripada langsung menegur. Pendekatan yang hangat itu ia pelajari dari pelatihan KREASI, yang menekankan pentingnya lingkungan belajar yang aman dan penuh kasih. 

Namun perjalanan menjadi Master Teacher seperti pesawangan jalan sunyi yang panjang. Di awal, beberapa rekan guru sempat sangsi. “Mereka bilang, jangan terlalu ikut metode baru nanti anak-anak tidak takut sama guru,” kenangnya. 

Butuh waktu lama hingga rekan-rekannya mulai mencoba pendekatan yang sama. Tapi seiring waktu, hasil di kelasnya mulai terlihat. Murid-murid lebih sopan, lebih aktif bertanya, dan nilai membaca mereka meningkat.  

“Sekarang rekan guru-guru mulai tertarik juga. Mereka kadang curi-curi pandang bagaimana cara saya mengajar, bahkan ada yang bertanya penasaran ingin tahu caranya.” 

Program KREASI sendiri menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan dasar di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Nias Utara tahun 2024, angka partisipasi sekolah di tingkat dasar memang sudah tinggi, tapi kualitas pembelajaran masih menjadi tantangan utama—terutama di wilayah terpencil seperti Afulu yang berjarak lebih dari 45 kilometer dari ibu kota kabupaten dan berhadapan langsung dengan  samudera Hindia yang dikenal memiliki ombak ganas. Di sinilah peran guru seperti Murniwati menjadi penting: bukan hanya mengajar, tapi menumbuhkan budaya belajar yang menyenangkan dari pinggir negara bernama Indonesia. 

Kini, ia kerap menjadi tempat bertanya bagi guru-guru muda di sekolah. Ia membantu mereka menyusun asesmen, berbagi cara membuat alat peraga sederhana dari bahan alam, atau sekadar memberi semangat saat menghadapi murid yang sulit fokus.  

“Saya tidak mau simpan sendiri,” ujarnya. “Kalau saya bisa, guru lain juga harus bisa. Karena kalau guru berkembang, anak-anak juga ikut maju.” Ia berharap cara-cara baru ini tidak berhenti di pelatihan, tapi terus mendapatkan tempat di ruang-ruang kelas. Baginya, langkah kecil yang konsisten lebih berharga daripada metode besar yang cepat dilupakan. 

Sore hari, selepas rapat atau menyelesaikan kewajibannya sebagai tenaga pendidik, Murniwati kembali duduk di depan mesin jahitnya. Di sana, ia kembali menjadi dirinya yang lain—lebih hening, lebih pribadi. Ia bilang, menjahit membuatnya belajar hal yang sama seperti mengajar: ketelitian, kesabaran, dan kesadaran bahwa tiap potongan kain punya bentuk dan waktu untuk disatukan.  

“Mengajar juga begitu,” katanya sambil menekan pedal mesin jahit. “Anak-anak itu seperti potongan kain, tugas saya membantu mereka menjadi sesuatu yang utuh.” 
Ia tahu, tak semua hal di kelas bisa diselesaikan dalam sehari—seperti tak semua jahitan bisa dirapikan dalam sekali tekan pedal. Tapi di situlah letak gelanggang sebuah ketekunan dibuktikan. 

Bagi Murniwati , pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, dan belajar tidak berhenti di bangku sekolah. Ia padukan dua dunia itu dalam ritme harian yang konstan—antara benang dan papan tulis, antara sabar dan keteguhan.
_____

Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Article 33 Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Utara. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Nias Utara dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa. 
_____

Penulis: Adzwari Ridzki | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Adzwari Ridzki/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children