Skip to content Skip to footer

Membangun Pembelajaran Kolaboratif dan Inklusif Lewat Rumah Main KREASI

Tidak semua anak dapat belajar dengan cara dan kecepatan yang sama. Hal tersebut disadari oleh Badriah dan Hilda, dua guru sekolah dasar di Pesisir Barat. Bagi mereka, semangat anak-anak untuk belajar sangat besar meski beberapa kali kerap merasakan kesulitan dalam membaca dan menghitung.  

Badriah dan Hilda merasa bahwa anak-anak tersebut bukan kurang pintar. Akan tetapi, mereka membutuhkan waktu yang lebih dan ruang yang aman untuk belajar. Terutama terkait literasi dan numerasi. 

Lewat berbagai pelatihan yang diadakan oleh KREASI untuk Master Teacher, Hilda dan Badriah terdorong untuk menghadirkan kelas tambahan di luar pembelajaran dengan pendekatan yang lebih humanis dan inklusif di sekolah mereka. Kelas tersebut diberi nama Rumah Main KREASI. 

“⁠Kami ingin membantu anak-anak yang masih kesulitan membaca, menulis, dan berhitung agar mereka bisa belajar dengan cara yang menyenangkan. Rumah Main KREASI menjadi wadah bagi kami untuk meningkatkan literasi dan numerasi secara kreatif, tanpa membuat anak tertekan,” ujar Hilda. 

Rumah Main KREASI merupakan kelas kolaboratif antara Program KREASI dengan sekolah mitra. Inisiasi ini dilakukan secara adaptif dan berkelanjutan untuk membantu siswa-siswa untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan keterampilan dasar mereka dalam membaca, menulis, dan berhitung. Dengan pendekatan kolaboratif dan inovatif ini, kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna, menyenangkan, dan menjangkau semua anak, tanpa terkecuali. 

Untuk mengawalinya, Hilda dan Badriah melakukan asesmen untuk melihat kebutuhan murid sesuai dengan kemampuan dan hambatan yang mereka miliki. Hilda dan Badriah ingin kelas ini hadir secara inklusif dan mendukung anak dengan kebutuhan khusus belajar dengan aman dan nyaman. 

Perjalanan mereka tidak mudah. Beberapa orang tua anak merasa ragu dan menganggap kelas tambahan ini tidak perlu. Akan tetapi, dengan dukungan kepala sekolah dan kolaborasi guru lain, Badriah dan Hilda melakukan pendekatan ke orang tua untuk memberikan pemahaman secara lebih jelas terkait Rumah Main KREASI. 

Badriah menjelaskan “Kami perlu meyakinkan sebagian orang tua yang merasa anaknya sudah bisa membaca. Kami menjelaskan bahwa program ini bukan hanya untuk belajar membaca, tapi juga menguatkan kemampuan literasi, numerasi, dan karakter anak.” 

Setelah melewati berbagai upaya untuk membuat kelas tambahan secara terfokus, Badriah dan Hilda merancang pembelajaran dengan gembira. Badriah dan Hilda merancang pembelajaran dengan pendekatan 5 M, sebuah nilai yang dipegang Yayasan Guru Belajar dalam merancang kegiatan. 

5 M meliputi Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, dan Memberdayakan Konteks. Lewat 5 M ini, pembelajaran dirancang untuk membangun empati dan kepercayaan diri anak. 

Salah satu sesi pembelajaran yang mereka lakukan adalah membentuk kelompok huruf dan kata untuk belajar cerita bergambar. Mereka menggunakan media ajar balok dan biji-bijian. Hal tersebut dilakukan agar pembelajaran dapat secara kontekstual dan menyenangkan bagi anak. Bahwa belajar literasi dan numerasi dapat dilakukan dengan riang dan gembira. 

Kolaborasi dengan guru pun dilakukan lewat berbagai cara. Ada yang menjadi tim pengajar, ada yang merancang lembar kerja, dan ada yang menjadi “Gudang Ide” penuh kreativitas dalam membuat media pembelajaran. Semua bergerak bersama dengan satu tujuan: menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan bagi setiap anak. 

Kini, anak-anak mulai lebih percaya diri untuk cepat belajar mengenali huruf dan angka. Guru-guru pun semakin kreatif dan saling belajar untuk membuat sesi belajar di Rumah Main KREASI dapat bermakna. 

“Melalui Rumah Main KREASI, literasi dan numerasi tak lagi sulit, karena anak belajar sambil bermain dengan hati yang gembira,” ucap Badriah. 

Badriah dan Hilda berharap, semangat untuk memberikan pendidikan secara lebih terbuka tidak berhenti di sekolahnya. Setiap sekolah dapat memiliki rumah mainnya sendiri, dimana anak-anak dapat belajar, bermain, dan bertumbuh untuk belajar.

_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI Pesisir Barat dijalankan oleh Save the Children bersama Yayasan Guru Belajar dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Putri Lalitaningtyas | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Putri Lalitaningtyas/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children