Kelompok Kerja (Pokja) Kompetensi Kepala Sekolah yang didukung oleh KREASI Pesisir Barat menggelar penguatan kepada kepala bertema INSPIRA atau Inovasi, Supervisi, Profesional, dan Akademik, dengan fokus pada penguatan kapasitas kepala sekolah dalam menerapkan supervisi modern.
Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan materi tentang teknik supervisi modern, prinsip supervisi yang setara dan kolaboratif, hingga praktik penyusunan Rencana Pelaksanaan Akademik (RPA), Rencana Pelaksanaan Manajerial (RPM), serta instrumen supervisi yang relevan dengan kebutuhan sekolah.
Pelatihan ini juga merupakan implementasi dari solusi dalam proposal penguatan ekosistem pendidikan yang digagas Pokja Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah dan didukung Save the Children melalui Program KREASI. Dengan adanya program ini, upaya peningkatan mutu kepala sekolah dan guru di Pesisir Barat diharapkan lebih terarah, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Menurut salah satu narasumber, Slamet, “Supervisi bukan lagi sebatas penilaian formalitas. Ia harus menjadi proses coaching yang menginspirasi, membuka ruang dialog setara, dan memberdayakan guru agar lebih percaya diri dalam mengajar,” jelasnya.
Selain materi utama, peserta juga berdiskusi mengenai tantangan supervisi tradisional, keterbatasan sarana digital di sekolah, serta strategi membangun supervisi yang humanis. Para kepala sekolah berkomitmen untuk mengimplementasikan supervisi berbasis coaching, digitalisasi, dan inovasi instrumen di sekolah masing-masing.
Seorang peserta pelatihan menyampaikan kesannya, “Selama ini supervisi sering dianggap menegangkan. Namun setelah mengikuti INSPIRA, saya menyadari bahwa supervisi bisa menjadi momen refleksi bersama yang justru memberi semangat baru bagi guru dan kepala sekolah untuk sama-sama tumbuh,” ujar salah satu kepala sekolah peserta kegiatan.
Sebagai tindak lanjut tim Pokja Kompetensi Kepala Sekolah, telah disusun jadwal implementasi supervisi modern yang dimulai Oktober hingga November 2025, termasuk pemanfaatan aplikasi digital, pengembangan instrumen supervisi, hingga sesi monitoring dan evaluasi.
Kegiatan ini mendapat apresiasi positif dari para peserta. Meski masih menghadapi kendala seperti keterbatasan perangkat teknologi dan resistensi sebagian guru, pelatihan INSPIRA dinilai mampu membuka wawasan baru bahwa supervisi adalah sarana membangun budaya mutu pendidikan, bukan sekadar penilaian administratif.
Sementara Ketua K3S Pesisir Barat, Ujar Azwir, menyampaikan, “Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan kepala sekolah di Pesisir Barat semakin siap memimpin proses supervisi yang inspiratif, transparan, dan berkelanjutan demi tercapainya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.”
_____
Penulis: Rikson Simanjuntak; Editor: Andika Ramadhan
Foto: Dok. KREASI/Save the Children