Sebagai guru kelas 3 sekolah dasar di Morotai, Oniy memiliki kekhawatiran tersendiri. Ia masih menjumpai beberapa siswa yang belum mengenal huruf, belum mampu mengeja, bahkan belum memahami suku kata. Rendahnya minat belajar anak di sekolahnya menjadi tantangan yang tidak mudah diatasi. Kata Oniy saat ditemui pada Senin (22/9/2025).
Perubahan mulai terasa ketika sekolahnya ditetapkan sebagai salah satu sekolah dampingan KREASI Morotai yang dijalankan oleh Stimulant Institute. Melalui program ini, ia mendapat pelatihan sebagai mentor klub literasi dan numerasi dengan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan kreatif. Saat metode tersebut diterapkan di kelas, Oniy merasakan perubahan, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi dirinya sebagai guru.
“Sejak ada klub literasi dan numerasi, saya merasa lebih kreatif dalam mengajar. Saya bisa membuat gambar-gambar untuk mengajarkan anak mengenal huruf, suku kata, dan menempelkannya di kelas. Ternyata dengan metode belajar seperti ini, anak-anak jadi semangat belajar,” ungkap Oniy saat berbagi perkembangan peserta klub literasi dan numerasi.
Sebelum mengikuti pelatihan, Oniy mengaku masih menggunakan metode belajar yang cenderung monoton, terbatas pada menjelaskan materi kepada siswa, membaca, dan menulis. Kini, dengan pendekatan yang lebih variatif dan interaktif, minat belajar anak-anak tumbuh secara alami tanpa perlu dipaksa. Bahkan di luar jam pelajaran pun, antusiasme mereka tidak surut.
“Saat sudah mau jam istirahat, anak-anak sering berkata, ‘Ibu, jangan dulu istirahat, ayo kita belajar lagi!’” ucap Oniy.
Tak hanya sampai di situ, kepala sekolah yang beberapa kali mengamati langsung suasana belajar di kelas, juga terkesan dengan semangat belajar anak-anak. Suatu hari, saat jam pelajaran hampir berakhir, ia masuk ke kelas dan berkata, “Ibu, jam pelajaran sebentar lagi selesai, sepertinya sudah cukup belajar hari ini.”
Oniy menjelaskan justru anak-anak yang meminta agar kegiatan belajar tetap dilanjutkan. Antusiasme itu menjadi bukti nyata bahwa media pembelajaran yang menarik mampu meningkatkan minat belajar siswa. Keinginan anak untuk belajar tidak berhenti di sekolah saja. Oniy sering menerima kiriman video dari orang tua siswa kelas 3 yang menunjukkan bahwa di rumah, anak-anak terus memperhatikan benda-benda di sekitar mereka dan mencatat nama-nama benda tersebut. Peningkatan motivasi belajar yang pesat ini tidak hanya menggembirakan pihak guru, tetapi juga memberikan kesan mendalam bagi para orang tua atas perubahan positif yang terjadi pada anak-anak mereka.

Program KREASI tidak hanya memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi, tetapi juga turut memperkuat dasar-dasar perlindungan anak di sekolah. Dulu, Oniy masih memegang pandangan lama bahwa “di ujung rotan ada emas”. Namun kini, setelah mengenal dan menerapkan metode pembelajaran dengan media yang menyenangkan, pandangannya berubah. Ia menyadari bahwa mengajar tidak harus dengan kekerasan.
“Ternyata, mengajar memang perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tanpa rotan pun, anak-anak justru lebih mudah dibimbing dan semangat belajar,” ucap Oniy.
Klub literasi dan numerasi yang mulai diterapkan sejak Juli 2025 telah menunjukkan dampak yang nyata. Anak-anak yang sebelumnya belum mengenal huruf, kini perlahan mulai bisa mengeja, memahami suku kata, dan membaca.
Hadirnya program KREASI di Morotai sangat diakui Oniy membantu menghadapi kekhawatiran yang selama ini dirasakannya. Kini Oniy memahami bahwa tidak ada anak yang bodoh, malas, atau menjadi pintar karena metode belajar menggunakan ancaman rotan. Kuncinya adalah menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dengan metode pembelajaran yang menarik, sehingga rasa ingin belajar anak-anak semakin meningkat.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Stimulant Institute dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Pulau Morotai dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Ayutama Putri Jordy, Editor: Andika Ramadhan
Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children