Program KREASI yang dijalankan oleh Save the Children Indonesia menyelenggarakan rapat koordinasi bersama Co-Chairs Mitra Pendidikan Indonesia (MPI) yakni Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Kementerian Agama (Kemenag), serta tujuh Mitra Pelaksana Lokal (MPL) Program KREASI pada Jumat (26/9/2025) di Jakarta.
Forum ini menjadi ruang refleksi untuk meninjau apa yang telah berjalan baik sekaligus mendiskusikan hal-hal yang masih perlu ditingkatkan.
Diskusi berlangsung interaktif, dengan semangat kolaboratif dari berbagai pihak untuk memastikan bahwa program KREASI tidak berhenti pada intervensi jangka pendek, tetapi benar-benar memberikan dampak berkelanjutan bagi anak-anak Indonesia.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Profesor Toni Toharudin menyampaikan apresiasi atas inisiatif dialog ini. Menurutnya, forum seperti ini penting untuk memperkuat koordinasi dan memastikan kesinambungan program.
“Penting memastikan mitra lokal tetap dapat melanjutkan inisiatif meskipun donor sudah tidak ada atau berganti. Kalau ada hal-hal yang perlu dibahas lebih lanjut, mari kita diskusikan bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Profesor Amien Suyitno menilai bahwa ekosistem literasi dan numerasi tidak akan berjalan tanpa keterlibatan semua pihak, terutama guru.
“Ekosistem itu sangat penting, dengan guru sebagai peran utama dalam memperkuat literasi dan numerasi agar bisa memberi kontribusi pada kebijakan pendidikan. Kita juga perlu memastikan skema yang ada masih relevan, kalau tidak maka perlu ada penyesuaian agar dampaknya benar-benar terasa. Daerah sasaran KREASI sudah menunjukkan peningkatan, sehingga penting untuk diperluas dan dipetakan hasilnya,” jelasnya.

Selain apresiasi terhadap kemajuan program, forum ini juga menjadi momentum untuk menegaskan posisi Save the Children di Indonesia. CEO Dessy Kurwiany Ukar menyampaikan transformasi organisasi yang dipimpinnya.
“Pertemuan ini tindak lanjut dari koordinasi dengan Kemendikdasmen. Tahun depan, Save the Children genap 50 tahun hadir di Indonesia dan menandai transformasi telah menjadi Member Office, artinya kami memiliki kemandirian untuk mengambil langkah strategis sesuai kebutuhan dan kepentingan anak-anak Indonesia. Saling percaya dan saling menguatkan adalah kunci keberhasilan program.”
Sementara itu, Chief of Party KREASI, Alifah Lestari, menegaskan kembali bahwa pendidikan adalah urusan besar yang tidak bisa ditangani sendirian. Program KREASI hadir sebagai wadah kolaborasi banyak pihak untuk memperkuat kapasitas guru, kepala sekolah, serta ekosistem pendidikan daerah.
“Melalui KREASI, kami berupaya memperkuat kapasitas guru dan kepala sekolah agar peningkatan literasi dan numerasi benar-benar berdampak pada proses belajar anak” ungkapnya.

Selain itu, forum juga membahas sejumlah catatan lapangan, mulai dari perlunya sinkronisasi program dengan perencanaan pemerintah, beban kerja guru yang harus dikelola dengan bijak, hingga transparansi dalam pengelolaan program. Mitra lokal juga menekankan pentingnya dokumentasi praktik baik agar dapat direplikasi di daerah lain.
Pertemuan ini memperlihatkan betapa pentingnya sinergi lintas sektor. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga mitra pelaksana lokal sepakat bahwa KREASI bukan sekadar program intervensi, melainkan sebuah platform kolaborasi. Melalui KREASI, ekosistem pendidikan di daerah dapat diperkuat, praktik baik dapat menyebar luas, dan strategi keberlanjutan dapat dibangun agar hasil yang sudah dicapai tidak hilang begitu saja ketika program selesai.
Sebagai penutup, seluruh peserta menegaskan komitmen untuk terus membuka ruang komunikasi dan kolaborasi. Dengan cara ini, KREASI diharapkan dapat meninggalkan legacy berupa peningkatan mutu pendidikan yang nyata—bukan hanya dokumen atau laporan, tetapi perubahan yang benar-benar dirasakan oleh anak-anak, guru, sekolah, dan masyarakat.
Hadir dalam pertemuan ini para pimpinan dari 7 organisasi Mitra Pelaksana Lokal KREASI yakni: Article 33 Indonesia, Ikatan Guru Indonesia, Yayasan Guru Belajar, LP Maarif NU, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah; Wahana Visi Indonesia, dan Stimulant Institute.
_____
Penulis: Andika Ramadhan
Foto: Abisola Arfa/KREASI/Save the Children