Skip to content Skip to footer

KREASI Nias Utara Tekankan Pentingnya Kemampuan Fondasi Anak Usia Dini 

KREASI Nias Utara melaksanakan Lokakarya Kampanye Kesadaran Perubahan Sosial dan Perilaku yang berfokus pada pendidikan anak usia dini prasekolah. Kegiatan yang berlangsung di Lotu, Nias Utara, pada 16 September 2025 ini dihadiri oleh 30 peserta yang merupakan guru SD, MI, PAUD, RA, pengawas sekolah, serta perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Lokakarya ini bertujuan memperkuat pemahaman bersama tentang pentingnya kemampuan fondasi sebelum anak memasuki pendidikan dasar. 

Lokakarya menghadirkan dua narasumber, yaitu Kabid PAUD Dinas Pendidikan Nias Utara, Abiudin Gea, yang membawakan materi tentang Kemampuan Fondasi Anak Usia Dini, serta ahli Early Childhood Education, Ahmad Zakky dengan topik Inspirasi Praktik Pembelajaran yang Membangun Kemampuan Fondasi. 

Dalam paparannya, Abiudin menegaskan bahwa kesiapan anak masuk SD tidak hanya diukur dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Menurutnya, fokus, regulasi diri, keterampilan sosial-emosional, motorik, serta kemandirian justru menjadi bekal utama. 

“Anak yang mampu mendengarkan instruksi, berinteraksi positif, dan menyelesaikan tugas sederhana lebih siap bersekolah dibanding anak yang hanya bisa membaca,” jelasnya. 

Abiudin juga menyoroti pentingnya asesmen awal untuk memetakan kemampuan anak, sehingga guru dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan masing-masing. 

Melengkapi sesi pertama, Zakky menekankan pentingnya praktik pembelajaran yang menyenangkan, kolaboratif, dan bermakna. Ia mencontohkan metode sentra bermain, diskusi kelompok, hingga kampanye sederhana yang bisa dilakukan bersama orang tua. 

“Ketika anak merasa aman dan dihargai, ia akan belajar dengan semangat. Fondasi belajar harus dikembangkan melalui permainan dan aktivitas yang dekat dengan dunia anak,” ujar Zakky. 

Selain pemaparan materi, lokakarya ini juga menghadirkan poster edukatif mengenai 6 Kemampuan Fondasi Anak sebagai bagian dari kampanye. Poster tersebut menegaskan bahwa kemampuan fondasi tidak terbatas pada calistung (baca, tulis, hitung), melainkan mencakup keterampilan yang lebih menyeluruh dan harus dibina secara konsisten sejak usia 0 hingga 8 tahun. 

Enam kemampuan fondasi tersebut meliputi: 1) Nilai agama dan budi pekerti; 2) Keterampilan sosial dan bahasa; 3) Kematangan emosi; 4) Pemaknaan belajar positif; 5) Keterampilan motorik; dan 6) Kemampuan kognitif. 

Poster menggambarkan perilaku anak sebagai indikator terpenuhinya keenam kemampuan tersebut, baik dalam jangka pendek (di rumah dan sekolah) maupun jangka panjang (sebagai bekal kehidupan di masa depan). Setiap kemampuan dilengkapi perbandingan “jika terpenuhi” dan “jika tidak terpenuhi”, sehingga memudahkan guru, orang tua, maupun masyarakat memahami dampaknya.  

Dalam sesi diskusi, peserta diajak menelaah poster ini sekaligus menghubungkannya dengan praktik pembelajaran di sekolah masing-masing. Narasumber menekankan bahwa poster dapat menjadi alat kampanye efektif untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kemampuan fondasi anak. 

Pada sesi tanya jawab, peserta menyoroti tantangan seperti jumlah murid yang besar, tekanan dari orang tua yang menuntut kemampuan akademik, hingga keterbatasan sumber belajar. Narasumber merekomendasikan penguatan peran orang tua melalui komunikasi rutin dan kelas parenting, serta memperhatikan keterampilan motorik anak sebagai dasar kesiapan akademik. 

Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi terhadap jalannya lokakarya. Mereka menilai kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman praktik yang dapat langsung diterapkan di sekolah. 

Seorang guru TK, Murni menyampaikan rasa syukur bisa mengikuti kegiatan ini. 

“Alhamdulillah, saya sangat beruntung karena memperoleh banyak pengetahuan baru, khususnya tentang kemampuan fondasi anak usia dini. Kegiatan kelompok yang diberikan narasumber juga sangat menyenangkan, membuat kami bisa berkolaborasi dengan rekan guru dari kecamatan lain,” ujarnya. 

Sementara itu, seorang guru SD, Yusra menilai materi tentang enam kemampuan fondasi sangat bermanfaat. 

“Materi tentang enam kemampuan fondasi anak sangat detail. Dari kegiatan kelompok, kami mendapat inspirasi untuk melaksanakan kampanye di sekolah, salah satunya dengan tema Stop Bullying,” jelasnya. 

Hal serupa disampaikan oleh seorang pengawas sekolah, Surdin. Ia menilai metode kelompok sangat membantu peserta lebih aktif. 

“Saya merasa bahagia karena mendapat banyak ilmu baru. Melalui diskusi kelompok, kami bisa mempresentasikan hasil kerja dan saling memberi tanggapan. Ini pengalaman yang sangat berkesan,” ujarnya. 

Lokakarya ditutup dengan pesan bersama dari kedua narasumber. Abiudin menegaskan pentingnya membangun fondasi anak sejak dini, sementara Ahmad Zakky menekankan bahwa pendidikan bermakna hanya bisa tercapai jika guru, orang tua, dan lingkungan bekerja sama. 

“Kemampuan fondasi adalah awal dari langkah panjang manusia sebagai pembelajar sepanjang hayat. Mari kita bangun fondasi ini bersama agar anak-anak tumbuh menjadi generasi masa depan yang berkualitas,” ujar Zakky menutup sesi.
_____

Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Article 33 Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Utara. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Nias Utara dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa. 
_____

Penulis: Calvin Telaumbanua, Editor: Andika Ramadhan
Foto: Calvin Telaumbanua/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children