KREASI Halmahera Utara yang dijalankan Wahana Visi Indonesia menggelar pelatihan bertema pendidikan perubahan iklim dan kesiapsiagaan bencana bagi sekolah-sekolah sasaran Adiwiyata di Kabupaten Halmahera Utara. Pelatihan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 September 2025.
Kegiatan ini menghadirkan fasilitator dari Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana Kemendikdasmen, yakni Yusra Tebe dan Jamjam Muzaki Sidrotul Muntaha. Turut hadir pula perwakilan dari Pemerintah Daerah Halmahera Utara, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, DP3AKB, Kementerian Agama, BAPPEDA, akademisi, kepala sekolah, serta para guru.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Utara, Yudihart Noya, menekankan urgensi integrasi isu perubahan iklim ke dalam kurikulum pendidikan secara interaktif.
“Kita ingin peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, dan mampu menjadi agen perubahan dalam menghadapi krisis iklim. Pendidikan ini harus melahirkan aksi nyata, bukan sekadar teori,” ujarnya.
Noya juga menyampaikan apresiasi kepada Wahana Visi Indonesia atas kontribusinya dalam memperkuat kapasitas sekolah dalam menyusun bahan ajar terkait perubahan iklim, serta mendorong implementasi aksi mitigasi dan adaptasi di tingkat lokal.
Sementara itu, Program Manager KREASI, Rany Monika Purba, menyoroti bahwa dampak perubahan iklim kini semakin nyata dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Cuaca yang tak menentu adalah sinyal bahwa kita perlu beradaptasi dengan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Melalui pelatihan ini, kami ingin sekolah memiliki strategi yang jelas untuk menumbuhkan kesadaran dan partisipasi siswa dalam menjaga lingkungan,” ungkapnya.
Rany juga menegaskan pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan.
“Kami percaya bahwa setiap kontribusi, sekecil apapun, memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim,” tutupnya.
Salah satu peserta pelatihan, Ferlince, seorang guru SD, menyampaikan kesan positifnya terhadap kegiatan ini.
“Pelatihan ini membuka wawasan kami tentang bagaimana mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam pembelajaran yang relevan dan menarik bagi siswa. Saya merasa lebih siap untuk mengajak anak-anak berperan aktif dalam menjaga lingkungan sekolah,” ujarnya.
Senada dengan itu, seorang kepala madrasah ibtidaiyah Ibnu, menambahkan:
“Kami bersyukur di tengah kekurangan sekolah tetapi kami didampingi sebagai Sekolah Adiwiyata. Ini bukan hanya pelatihan, tetapi juga ajakan untuk bergerak bersama menghadapi tantangan nyata di sekitar kita.”
Pelatihan lalu ditutup dengan kunjungan Tim Sekolah Adiwiyata dan Tim Fasilitator Kemendikdasmen ke Sekolah Adiwiyata. Pelatihan ini adalah momentum awal terwujudnya sekolah-sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi pelopor dalam membentuk generasi yang tangguh dan siap menghadapi risiko perubahan iklim serta bencana alam.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI di Halmahera Utara dijalankan oleh Save the Children dan mitra pelaksana lokal Wahana Visi Indonesia didukung Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara Utara, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Tim KREASI Halmahera Utara
Foto: Dok. KREASI/Wahana Visi Indonesia/Save the Children