Skip to content Skip to footer

Dari Sampah jadi Media Ajar

Salah satu tantangan dalam mengajarkan literasi dan numerasi bagi anak pendidikan tingkat rendah adalah perlunya metode yang kreatif dalam pembelajaran. Karakteristik anak usia PAUD cenderung aktif dan membutuhkan pengalaman belajar. Maka, media ajar menjadi penting untuk tidak hanya menarik, tetapi juga interaktif agar anak tidak bosan dan memiliki ketertarikan lebih dalam belajar 

Bersama dengan rekan seprofesi di sekolahnya, guru yang biasa dipanggil Indah, memanfaatkan barang-barang di sekitar untuk membuat media ajar, termasuk barang bekas yang dapat dibersihkan dan digunakan kembali seperti botol. 

“Sampah, asal masih bisa dibersihkan bisa bikin jadi sesuatu yang menarik buat anak belajar,” ujar Indah saat ditemui pada Senin (15/9/2025). 

Indah adalah guru di salah satu PAUD di Pesisir Barat. Sekolahnya adalah salah satu intervensi KREASI. 

Bagi Indah, membuat media ajar dari barang bekas adalah salah satu hal yang dapat diupayakan dalam mengurangi dampak buruk perubahan iklim yang dimulai dari diri sendiri. Ia menambahkan, “Selain memanfaatkan yang sudah ada, kita bisa mengurangi dampak buruk sampah di daerah kita.” 

Salah satu yang ia buat adalah media ajar belajar berhitung menggunakan botol bekas, stik es krim bekas, dan sticky notes. Caranya, Indah menyiapkan botol bekas yang sudah bersih, lalu memasukkan stik es krim ke dalamnya dengan jumlah yang berbeda-beda. Anak-anak diminta menghitung berapa stik es krim yang ada di dalam tiap botol, kemudian menuliskan angka hasil hitungan mereka pada sticky notes dan menempelkannya di botol tersebut. 

Aktivitas ini membuat anak-anak tidak hanya belajar berhitung, tetapi juga berlatih mengenal simbol angka secara menyenangkan. Mereka bisa memegang, menghitung langsung, sekaligus melihat hubungan antara benda nyata dengan angka yang tertulis. 

Kegiatan sederhana itu ternyata membuat anak bisa bergerak, bermain, sekaligus belajar huruf dan angka secara menyenangkan.  

Pelan-pelan, Indah menguatkan pesan secara lebih luas bahwa bukan pada alat yang mahal, melainkan pada cara menyajikan pembelajaran secara lebih menyenangkan dan memanfaatkan peralatan yang ada di sekitar. Lewat barang bekas yang masih dapat difungsikan dapat menjadi media ajar yang menarik untuk mengajari anak literasi dan numerasi di sekolah.

_____

Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI di Pesisir Barat dijalankan oleh Save the Children dan mitra pelaksana lokal Yayasan Guru Belajar didukung Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____

Penulis: Putri Lalitaningtyas; Editor: Andika Ramadhan
Foto: Putri Lalitaningtyas/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children