Skip to content Skip to footer

Melvin Mengubah Gabus dan Stik Bekas Jadi Media Belajar 

Pendidikan anak-anak sering kali terkendala oleh metode belajar yang kaku. Melihat kondisi ini, seorang guru di Nias Selatan bernama Melvin menemukan cara sederhana untuk mengatasinya. Ia membuat media belajar yang ia namakan “Gabus dan Stik Ajaib” dari barang-barang bekas yang mudah didapat. 

Melvin melihat bahwa anak-anak akan lebih mudah memahami materi jika mereka bisa berinteraksi langsung dengan objek. Berbekal potongan gabus dan stik es krim, ia mulai merancang sebuah alat bantu yang efektif untuk mengajar pengenalan huruf dan penyusunan kata. 

Melvin memotong gabus bekas menjadi persegi panjang, lalu menggulung salah satu ujungnya hingga membentuk setengah gulungan. Bagian yang digulung ini kemudian dilubangi agar stik huruf bisa berdiri tegak. Pada stik tersebut, ditempelkan huruf-huruf alfabet yang bisa diatur anak-anak untuk membentuk kata. 

Sementara itu, pada bagian gabus yang tidak tergulung, ia melapisinya dengan lakban bening. Lapisan ini memungkinkan guru atau siswa untuk menulis kata di atasnya menggunakan spidol dan menghapusnya kembali dengan mudah, sehingga gabus bisa digunakan berulang kali. 

Metode ini mengubah pembelajaran dari sekadar mendengarkan menjadi sebuah aktivitas langsung. Anak-anak secara fisik menyusun huruf dan menulis kata, yang membantu mereka mengingat dan memahami hubungan antara huruf-huruf tersebut saat membentuk kata. Mereka belajar sambil bermain, sehingga prosesnya terasa menyenangkan. 

Inovasi sederhana Melvin ini efektif. Anak-anak yang sebelumnya merasa kesulitan kini menjadi lebih antusias. Mereka tidak lagi takut salah, karena pendekatan ini mengurangi tekanan dan mengubah belajar menjadi kegiatan yang dinikmati.

Kisah Melvin menunjukkan bahwa dengan kreativitas, alat bantu belajar yang bermanfaat tidak harus mahal atau rumit. Ia membuktikan bahwa bahan-bahan sederhana di sekitar kita bisa dimanfaatkan untuk menciptakan dampak besar dalam dunia pendidikan. 


Penulis: Afnidar Dakhi, Editor: Andika Ramadhan
Foto: Afnidar Dakhi/KREASI/Ikatan Guru Indonesia/Save the Children