Skip to content Skip to footer

Cerita Ramah dan TK di Nias Utara yang Terlibat Aktif Program KREASI 

Sebelum ada Program KREASI, kegiatan belajar di salah satu TK di Lotu, Nias Utara, masih berfokus pada calistung atau baca, tulis, dan hitung. Anak-anak lebih banyak duduk di kursi, menulis, atau menghafal. Para orang tua pun menganggap TK hanya sebagai tempat persiapan masuk sekolah dasar.  

“Pembelajaran terasa monoton. Anak-anak cepat bosan, dan suasana kelas kurang hidup,” cerita Ramah, seorang guru di TK itu yang mengajar sejak 2016. 

Sejak sekolahnya terlibat dalam program KREASI, Ramah ikut pelatihan sebagai Master Trainer (MT) dan fasilitator pola pengasuhan positif, dan mulai menerapkan cara belajar berbasis sentra. Anak-anak belajar sambil bermain, menyusun pola dari bahan alam, bercerita, dan bereksplorasi sederhana.  

“Sekarang anak-anak lebih berani, lebih aktif bertanya, dan lebih senang datang ke sekolah,” ujarnya. 

Dampak itu juga dirasakan oleh kepala sekolahnya, Kristina, yang melihat guru-guru kini lebih kreatif memanfaatkan media sederhana untuk mengajar, tidak lagi terpaku pada papan tulis. Anak-anak yang dulu cenderung pasif, kini tampak antusias setiap kali kegiatan dimulai.  

“Dulu banyak orang tua yang kurang paham pentingnya TK. Tapi setelah melihat perubahan di sini, mereka jadi bersemangat menyekolahkan anak,” ujarnya. 

Salah satu orang tua murid bercerita bahwa sebelumnya ia menganggap TK hanya sebatas tempat awal anak belajar membaca dan menulis. Namun, setelah melihat anaknya belajar dengan cara yang menyenangkan, ia mulai menyadari bahwa pendidikan di usia dini tidak hanya soal calistung, tetapi juga tentang membentuk keberanian, kemandirian, dan rasa ingin tahu.  

“Sekarang saya melihat anak saya lebih percaya diri dan senang belajar,” kata orang tuaseorang wali murid. 

Perubahan ini berdampak nyata pada jumlah murid. Jika sebelumnya ada orang tua yang ragu, Pada tahun ajaran sekarang, banyak orang tua yang antusias mendaftarkan anaknya, sehingga sekolah menerima lebih banyak pendaftaran. Ada juga orang tua dari desa lain yang sengaja memilih menyekolahkan anaknya di sini karena mendengar cerita positif tentang pembelajaran yang berbeda. 

Bagi Ramah, pengalaman dari KREASI tidak hanya berhenti di TK-nya. Ia juga membagikan ilmu tersebut ke sekolah TK lain yang ia dirikan sejak 2018. Di sana, ia membimbing enam guru agar ikut menerapkan cara belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.  

“Kami masih butuh bimbingan untuk memperdalam kurikulum dan deep learning, tapi perubahan yang ada saat ini sudah membuat kami lebih yakin dengan arah pendidikan di sekolah kami,” tambahnya. 

Perjalanan TK di Nias Utara bersama KREASI ini menunjukkan bahwa ketika guru didukung dengan pengetahuan dan orang tua ikut memahami, suasana belajar bisa berubah: anak-anak lebih senang, orang tua lebih percaya, dan sekolah menjadi lebih hidup. 


Penulis: Calvin Telaumbanua; Editor: Andika Ramadhan 

Foto: Calvin Telaumbanua/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children