“Setelah ikut pelatihan KREASI dalam pemanfaatan Ruang GTK, saya baru sadar, kenapa sih tidak dari dulu saya tahu cara akses platform ini?” ujar guru salah satu madrasah ibtidaiyah di Morotai, Kasmawati.
Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) adalah platform yang dirancang oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai ruang belajar bagi guru, kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan. Platform ini menyediakan berbagai modul untuk meningkatkan kapasitas guru dalam menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan.
KREASI Morotai kemudian mengadakan pelatihan pemanfaatan Ruang GTK bagi para guru yang masih asing dengan platform ini.
Kasmawati kemudian menggunakan Ruang GTK untuk mempelajari bagaimana cara menciptakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang menyenangkan dengan pendekatan transisi dari PAUD ke SD. Saat menerapkan metode MPLS yang baru ini, ia melihat antusiasme yang tinggi dari anak-anak.
“Setelah pulang, beberapa siswa yang rumahnya dekat justru balik lagi dan bertanya kepada saya, ‘Ibu, besok masuk lagi, ya?’ Bagi saya, itu tanda mereka benar-benar senang berada di sekolah. Dengan suasana yang menyenangkan, anak-anak jadi tidak takut, tidak bosan, dan malah ingin terus datang kembali,” ujarnya.
Tidak hanya MPLS, Kasmawati juga memanfaatkan berbagai modul di Ruang GTK untuk memperkaya metode pembelajaran sehari-hari.
“Dulu, pembelajaran terasa lebih monoton. Mengajarkan membaca dilakukan dengan cara memanggil anak satu per satu, membuka buku, lalu membaca. Sekarang, proses belajar jauh lebih seru bisa lewat lagu, media visual, atau permainan. Biasanya, saya sudah menyiapkan media pembelajaran sehari sebelumnya dengan memanfaatkan Ruang GTK,” ujarnya.

Sebagai master teacher numerasi KREASI, Kasmawati baru menyadari bahwa Ruang GTK telah lama menyediakan metode pembelajaran numerasi yang menyenangkan. Ia pun sudah menerapkannya metode belajar numerasi di kelas satu dan melihat semangat belajar anak-anak meningkat. Kasmawati memperkenalkan bentuk angka dengan mengajak anak menebalkan titik-titik yang membentuk angka. Selain itu, media sederhana seperti kerang dan tutup botol bekas, juga dimanfaatkan untuk mengajarkan konsep numerasi dengan memasukkannya ke dalam wadah telur sesuai angka yang disebutkan.
“Mereka sangat antusias dan senang dengan cara belajar seperti ini. Bagi saya, yang terpenting adalah membangun suasana belajar yang menyenangkan, karena ketika anak-anak senang, rasa ingin tahu mereka akan muncul dengan sendirinya,” ucap Kasmawati.
Tidak hanya numerasi, Kasmawati juga aktif dalam mencari metode belajar literasi yang menyenangkan.
“Sebagai guru kelas satu, saya merasa bertanggung jawab agar anak-anak tidak kaget dengan transisi dari PAUD ke SD. Jangan sampai suasana belajar langsung terasa serius, seperti hanya duduk dan menulis di buku. Karena itu, saya membuat kegiatan circle time setiap pagi selama 15 menit. Anak-anak duduk melingkar, kami mulai dengan cek kesiapan, apakah anak sudah sarapan, mandi, sikat gigi atau belum, lalu dilanjutkan hafalan ayat harian atau mendongeng. Ini membantu mereka merasa nyaman, siap belajar, dan menumbuhkan rasa suka pada literasi,” jelasnya.
Melalui Ruang GTK, Kasmawati menemukan semangat mengajar dan cara-cara baru untuk meningkatkan minat belajar anak. Sebuah langkah kecil yang menjawab tantangan besar dalam dunia pendidikan.
Penulis: Ayutama Putri Jordy; Editor: Andika Ramadhan
Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children