Di ruang kelas salah satu SD di Tobelo, suara riuh anak-anak kerap pecah ketika pintu terbuka dan seoang guru melangkah masuk. Mereka berebut menyapanya, sebagian bahkan berkata, “Ibu jangan tinggal lagi ya, nanti hadir lagi ya, Bu.” Namanya adalah Juriani, seorang pengajar yang dipandang penuh perhatian.
Juriani sudah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan sejak 2006. Dua puluh tahun lebih ia mendampingi anak-anak di bangku sekolah dasar, menghadapi beragam karakter dan latar belakang keluarga siswanya. Kemudian ia mengungkapkan, salah satu perubahan sebagai pendidik dimulai ketika dirinya bertemu dengan Program KREASI.
“Pertama kali ikut Program KREASI, saya senang sekali. Rasanya luar biasa, karena sebagai guru saya merasa bisa mengembangkan diri, belajar hal baru, dan mendapatkan semangat baru,” ujarnya penuh syukur.
Perubahan yang Dimulai dari Diri Sendiri
Juriani masih ingat betul hari-hari awal mengikuti Program KREASI. Pelatihan itu dimulai sejak pagi hingga sore. Kebetulan saat itu bulan Ramadan, dan ia harus menjalaninya dalam keadaan berpuasa. Namun semangatnya tidak pernah surut.
“Saya paling senang datang sesuai waktu yang ditentukan, padahal kami dari pagi sampai sore belajar. Walaupun puasa, saya tetap semangat, karena saya sadar, kalau mau berubah ya harus dimulai dari diri sendiri,” kenangnya.
Program KREASI perlahan mengubah cara pandangnya. Selama ini, ia sering merasa kurang percaya diri, terutama ketika berbicara di depan banyak orang. Namun setelah mengikuti rangkaian kegiatan, ia lebih percaya diri.
“Saya biasanya minder, kok saya seperti ini ya? Tapi Alhamdulillah, KREASI membuat saya yakin bahwa kita semua bisa kalau mau belajar,” ujarnya.
Rasa percaya diri itu menular ke ruang kelas. Juriani kini lebih berani mencoba metode baru, lebih sabar menghadapi murid, dan lebih telaten dalam memperhatikan detail kecil.
“Saya mulai mengajarkan anak-anak soal huruf kapital, tanda baca, hingga huruf vokal dan konsonan. Dulu mereka bingung, tapi sekarang perlahan mengerti. Itu hal sederhana, tapi bagi saya luar biasa,” katanya.

Anak-Anak yang Semakin Berani
Dampak KREASI menurut Juriani, terlihat pada keberanian anak-anak. Murid-murid yang semula pemalu kini mulai percaya diri. Ada yang dulu tidak pernah mau bicara, kini berani maju ke depan kelas untuk memimpin doa atau sekadar menyampaikan pendapat.
Juriani percaya, perubahan itu tidak terjadi begitu saja. Anak-anak, katanya, selalu mencontoh gurunya.
“Kalau saya sendiri tidak berani atau tidak disiplin, bagaimana anak-anak mau berubah? Jadi saya harus duluan memberi teladan. Baru setelah itu mereka mengikuti,” jelasnya.
Merangkul yang Hampir Tertinggal
Namun perjalanan Juriani bukan tanpa tantangan. Ia sering mendapati murid yang disebut nakal, sulit diatur, bahkan kerap membolos. Alih-alih marah, ia memilih untuk mendekati dengan hati.
“Pernah ada dua anak yang sering tidak masuk sekolah. Saya tahu mereka sebenarnya anak baik, jadi saya ajak bicara empat mata. Rupanya yang satu hanya tinggal dengan bapaknya, yang lain dengan neneknya. Mereka bilang, tidak ada yang membangunkan kalau pagi hari,” kisahnya lirih.
Juriani kemudian tidak lagi menilai anak-anak hanya dari perilaku di sekolah. Ia mencoba memahami kondisi keluarga mereka. Bahkan, ia mengajak murid-murid lain untuk saling peduli.
“Kalau ada teman tidak masuk, kita tanyakan alasannya. Kalau bisa, kita saling ingatkan,” ucapnya.
Hasilnya mengejutkan. Anak-anak yang tadinya sering absen mulai kembali bersemangat sekolah.
“Pernah satu anak telepon saya jam delapan pagi, katanya bangun kesiangan. Dia tanya, Bu, masih boleh ke sekolah? Saya jawab, segera ke sekolah sayang. Dia pun datang dengan gembira, meski terlambat,” ceritanya sambil tersenyum haru.
Guru yang Terus Mau Belajar
Sebagai guru yang juga pernah mengikuti Program Guru Penggerak, Juriani merasa KREASI semakin memperdalam pemahamannya tentang pendidikan. Ia semakin yakin bahwa tidak ada anak yang benar-benar “nakal” atau “tidak bisa”.
“Kadang kita, gurunya, yang salah menilai. Kita menganggap anak ini nakal, anak itu bodoh. Padahal sebenarnya mereka bisa, hanya perlu pendekatan yang tepat. Tugas kitalah untuk menemukan cara itu,” katanya.
Baginya, penghargaan terbesar bukanlah materi, melainkan ilmu dan pengalaman.
“Lewat KREASI kami diajarkan bukan hanya tentang metode mengajar, tapi juga tentang sikap, tentang bagaimana mendidik dengan hati. Itu membuat saya sadar, betapa pentingnya peran guru yang tidak bisa digantikan oleh teknologi,” ujarnya mantap.

Harapan untuk Pendidikan di Halmahera Utara
Juriani menaruh harapan besar agar semakin banyak sekolah di Halmahera Utara bisa bermitra dengan KREASI. Ia yakin, semakin banyak guru yang mendapat pendampingan, semakin besar pula dampaknya bagi anak-anak.
“Saya ingin kepala sekolah peduli, dan menyampaikan kepada guru-guru bahwa ini penting. Suksesnya pendidikan adalah kebanggaan kita semua. Guru tidak selalu harus dihargai dengan uang, cukup dikenang karena kebaikan yang kita berikan. Itu sudah memuaskan,” tegasnya.
Bagi Juriani, menjadi guru adalah jalan pengabdian. Ia percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berhasil, apapun latar belakangnya. Dan setiap guru, katanya, harus terus belajar agar bisa menjadi teladan.
“Selama kita masih ada anak-anak yang menunggu di kelas, tugas guru tidak akan pernah selesai. Saya ingin KREASI terus berjalan, terus semangat, agar pendidikan di Halmahera Utara semakin baik,” pungkasnya.
Penulis: Samsudin AS Kuylo, Editor: Andika Ramadhan
Foto: Samsudin AS Kuylo/KREASI/Wahana Visi Indonesia/Save the Children