Skip to content Skip to footer

Inovasi Mia, Dari Tutup Botol Bekas Jadi Bahan Ajar

Mia, seorang guru di salah satu madrasah di Nias Utara telah mengajar sejak 2017. Ia mengajar mata pelajaran matematika untuk kelas 5 dan 6, serta bahasa Inggris untuk kelas 1 dan 2. Meski alat peraga untuk bahan ajar di sekolah terbatas, ia terus mencari cara agar siswa tetap bisa belajar dengan aktif dan menyenangkan. 

Mia adalah salah satu master trainer (MT). Usai mengikuti pelatihan tentang membuat bahan ajar, ia mulai mencoba menerapkannya di kelas tempatnya mengajar.

Menggunakan tutup botol bekas yang ditulisi huruf-huruf, lalu meminta siswa menyusunnya menjadi nama buah dalam bahasa Inggris. Ia uga mengajak anak-anak membuat proyek kecil dengan memilih satu buah favorit, menggambarnya, lalu menyusun namanya dengan bahan dari alam seperti daun, batu, atau ranting. 

Metode ini tidak hanya membuat siswa lebih aktif, tetapi juga membantu mereka lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Mia melihat bahwa saat anak-anak terlibat secara langsung, mereka lebih fokus dalam belajar. Walaupun ada tantangan seperti waktu untuk mengumpulkan bahan atau menjaga suasana kelas tetap kondusif, Mia merasa pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan belajar anak-anak di madrasah. 

“Biasanya anak-anak cepat lelah atau tidak sabar menunggu waktu pulang. Tapi waktu belajar pakai media dari lingkungan sekitar, mereka malah asyik sendiri. Bahkan lupa kalau sudah waktunya istirahat,” ujarnya. 

Sebagai MT, Mia membagikan praktik pembelajaran ini kepada rekan-rekan guru lain. Respons mereka cukup positif, terutama setelah melihat bahwa bahan-bahan sederhana seperti botol bekas, kerikil, pasir, ranting dan daun bisa membantu proses belajar secara nyata. Ia menyarankan agar guru lain tidak perlu membuat media yang rumit. Menurutnya, yang penting adalah menyesuaikan dengan kebutuhan kelas dan karakter siswa. 

Peran Mia yang tidak memandang dirinya sebagai MT adalah sesuatu yang luar biasa. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk membagikan apa yang telah ia pelajari kepada rekan sesama guru. Ia berharap pembelajaran yang memanfaatkan bahan-bahan dari lingkungan sekitar dapat terus dikembangkan. Tidak hanya di madrasah tempat Ia mengajar, tetapi juga di tempat lain dengan kondisi serupa. 


Teks dan Foto: Calvin Telaumbanua/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children