Skip to content Skip to footer

Sepekan Meningkatkan Kompetensi Guru di Pulau Morotai

Selama sepekan pelaksanaan Program KREASI Morotai, para guru menunjukkan antusiasme yang tinggi dan berpartisipasi secara aktif dalam setiap rangkaian acara. Dimulai pada tanggal 24-28 Juni 2025, KREASI Morotai melaksanakan pelatihan bagi calon pelatih positif disiplin. 

Pada kegiatan ini, peserta diberikan pemahaman tentang keterkaitan antara kondisi emosional anak dan proses pembelajaran di kelas. Anak-anak cenderung lebih menyukai kegiatan belajar ketika mereka berada dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari tekanan, bukan hanya tergantung pada metode pembelajaran yang digunakan.  

Refleksi para guru saat pelatihan disiplin positif memperlihatkan transformasi pemahaman yang signifikan. Ewilda, guru dari Morotai Timur, menyatakan bahwa ia kini lebih menyadari tanggung jawab besarnya sebagai pendidik. “Saya baru sadar, menjadi guru tidak cukup hanya mengajar. Kita harus memahami tumbuh kembang anak dan bagaimana perasaan mereka memengaruhi belajar,” ungkapnya. 

Hal serupa juga disampaikan oleh Mulyani, guru dari Morotai Utara, mengaku mengalami perubahan pola pikir yang setelah mengikuti pelatihan. “Saya belajar bahwa berpikir positif tidak hanya penting bagi saya sebagai guru, tapi juga bagi anak-anak. Suasana kelas yang kondusif dimulai dari energi positif guru,” tuturnya. 

Sebagai tindak lanjut, Mulyani berkomitmen menerapkan sejumlah strategi baru di kelasnya. Ia akan, memberikan apresiasi kepada semua siswa tanpa diskriminasi, mengajarkan keterampilan mengelola emosi, lebih memahami perasaan siswa dalam berbagai situasi. Pelatihan ini bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang dan strategi praktis di ruang kelas. Para guru menyadari bahwa kesejahteraan emosional siswa sangat bergantung pada kesiapan dan ketenangan emosi guru itu sendiri. Dengan menerapkan prinsip-prinsip disiplin positif, para guru di Morotai mulai membangun ruang belajar yang lebih ramah, inklusif, dan mendukung perkembangan karakter anak secara holistik.  

_____

Pada pekan ini, KREASI Morotai secara paralel melaksanakan kegiatan identifikasi kesenjangan Kurikulum Merdeka pada tanggal 24-25 Juni 2025. Kegiatan ini melibatkan 43 peserta yang terdiri dari kepala sekolah SD dan PAUD, master teacher terlatih, staf Dikdasmen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, perwakilan Kantor Kementerian Agama, serta akademisi dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasifik Morotai (Unipas). 

Akademisi dari Unipas mengapresiasi keterlibatan mereka dalam kegiatan ini. “Biasanya kami hanya mengajarkan teori kurikulum di kelas. Tapi dalam kegiatan ini, kami bisa memahami langsung proses pengembangan modul ajar yang sesungguhnya. Ini sangat membuka wawasan kami,” ujar salah satu dosen peserta dalam diskusi terbatas. 

Pada kegiatan ini, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga dilibatkan secara langsung dalam praktik penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP). Selain itu, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan penyusunan modul ajar dan modul proyek sesuai dengan komponen yang ada di dalam kurikulum merdeka.  

_____

Selanjutnya, pada tanggal 26-27 Juni 2025, KREASI Morotai melaksanakan lokakarya transisi PAUD ke SD yang menyenangkan. Kegiatan ini dihadiri oleh para guru kelas satu dari 20 SD serta pendidik dari 8 PAUD yang menjadi bagian dari intervensi KREASI Morotai. 

Pada sesi materi yang dibawakan oleh Rosita Wondal, fasilitator dari Universitas Khairun Ternate, peserta diajak untuk memahami pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan sebagai langkah awal memasuki jenjang sekolah dasar. Ia mengingatkan bahwa proses belajar pada usia dini tidak seharusnya terlalu serius, karena setiap anak memiliki daya tangkap yang berbeda. “Tidak ada anak yang bodoh, mereka hanya butuh lebih banyak waktu untuk belajar,” tegasnya.  

Sesi berikutnya dipandu oleh Agustan Arifin. Pada sesi ini, peserta diajak untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar anak melalui asesmen. Asesmen awal di kelas dapat dilaksanakan dengan mengumpulkan dan menganalisis hasil pengamatan terhadap perilaku anak, untuk menilai sejauh mana kemajuan atau ketercapaian pembelajaran peserta didik. Dalam sesi ini, peserta juga dilibatkan dalam penyusunan rencana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan pendekatan tiga hari pengenalan, tiga hari pembelajaran, yang bertujuan membantu siswa baru beradaptasi secara bertahap dengan lingkungan sekolah dasar mereka. 

Melalui rangkaian kegiatan selama dua hari ini, diharapkan para guru terdorong untuk menyusun rencana pembelajaran yang mendukung proses transisi secara menyeluruh, bertahap, dan berkelanjutan, sehingga anak-anak dapat menjalani peralihan dengan lancar dan optimal dalam perjalanan pendidikan mereka. 

_____

Rangkaian kegiatan sepekan KREASI Morotai ditutup dengan bimbingan teknis untuk meningkatkan kemampuan teknologi informasi guru dalam menggunakan platform pembelajaran digital. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2025 secara hybrid, menghadirkan master teacher secara luring, sekaligus melibatkan guru dari sekolah intervensi KREASI secara daring. Fokus bimbingan teknis ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam mengakses dan mengoptimalkan platform pembelajaran daring milik pemerintah, Rumah Pendidikan. 

Pada sesi diskusi, pemateri dari Kantor GTK Provinsi Maluku Utara, Hildah Nurmidin, menegaskan peran strategis master teacher dalam memperluas pemanfaatan teknologi pendidikan.  

“Penting bagi master teacher untuk memahami penggunaan platform Ruang GTK agar dapat mengimbaskan pengetahuan ini ke sekolah-sekolah lain,” kata Hildah. 

Kegiatan ini diharapkan memperluas akses dan pemerataan kualitas pendidikan melalui platform Rumah Pendidikan. Guru-guru di Morotai diharapkan lebih mahir menggunakan platform ini agar dapat menerapkan metode pembelajaran terbaru secara efektif. 


Text: Ayutama Putri Jordy (Penulis); Andika Ramadhan (Editor)