Skip to content Skip to footer

Menerapkan Disiplin Positif: Penguatan Kapasitas TPPK dalam Lingkungan Pembelajaran

KREASI Nias Utara mengadakan pelatihan Training of Trainer (ToT) “Disiplin Positif dalam Pengajaran Sehari-hari dan Kebijakan Perlindungan Anak” digelar pada 18–20 Juni 2025 di Kecamatan Lotu, Nias Utara. Kegiatan selama tiga hari ini diikuti oleh 11 peserta dari Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) tingkat sekolah dari 3 kecamatan yakni Lotu, Lahewa dan Afulu, yang sebelumnya telah terlibat dalam pelatihan manajemen kasus dari berbagai institusi pendidikan dan perwakilan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Nias Utara. 

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para guru dan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) mengenai disiplin positif sebagai pendekatan dalam pengelolaan kelas yang suportif dan ramah anak. Selain itu, pelatihan ini juga dimaksudkan untuk memperkuat penerapan kebijakan perlindungan anak di sekolah melalui kegiatan pelatihan yang bersifat praktis dan aplikatif. 

Materi pelatihan disampaikan oleh narasumber nasional, Technical Education Adviser Save the Children dan Rumah Citta Yogyakarta Lusi Margiyani serta Direktur ECCD RC Yogyakarta, Nindyah Rengganis. Materi yang diberikan mencakup: Pengantar Disiplin Positif, Menentukan Jangka Panjang, Memahami Struktur dan Kehangatan, Memahami Masa Perkembangan Anak, Anak dengan Disabilitas, Penyelesaian Masalah dan Praktik. 
PictureMaterinya sangat menarik, terutama tentang kedisiplinan positif terhadap anak dan guru. Kami didorong untuk memberikan kehangatan, perlindungan, dan motivasi agar anak-anak bisa lebih disiplin secara positif,” ungkap guru SDN di Afulu, Faozisokhi yang menjadi peserta. 

Sesi pelatihan berlangsung interaktif dan aplikatif. Melalui diskusi dan studi kasus, peserta diajak memahami konsep-konsep kunci seperti empati dan simpati secara mendalam. Pendekatan yang digunakan narasumber membuat peserta lebih mudah mengaitkan materi dengan konteks pengajaran sehari-hari. 

PicturePicturePicturePictureCaption: Peserta ToT mempraktikkan studi kasus penyelesaian masalah di kelas, dengan mensimulasikan situasi saat seorang anak mengalami sakit perut di tengah proses belajar mengajar. 

Staf Kementerian Agama Nias Utara Hafzi Arbin Gulo, mengungkapkan kesannya terhadap materi pengendalian emosi.

 “Salah satu yang berkesan adalah ilustrasi otak dengan kepalan tangan. Saat emosi, otak berpikir seperti terbuka, sehingga emosi menjadi tidak terkendali. Hanya kita sendirilah yang bisa mengontrolnya,” katanya. 

“Kita harus bisa memahami dan memberi kehangatan kepada peserta didik agar bisa mengontrol emosi. Jangan sampai terjadi kekerasan. Materi ini sangat relevan, baik untuk diterapkan di sekolah maupun dalam keluarga,” kata seorang guru PAUD di Afulu, Rumiati. 

Kegiatan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut, termasuk pengimbasan oleh fasilitator kepada guru-guru di wilayah kerja masing-masing serta dukungan teknis lanjutan di lapangan. 
 
“Saya akan memulainya dari diri saya sendiri. Kehangatan harus muncul dari dalam diri, baik kepada anak-anak, keluarga, maupun rekan kerja,” tambah Hafzi

Sementara itu, Faozisokhi berharap pelatihan ini terus berlanjut. 

 “Jangan hanya untuk kami saja, tapi bisa diperluas, khususnya di Nias Utara, agar seluruh guru bisa belajar tentang disiplin positif ini.” 

Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan sosial-emosional anak di Nias Utara. 


Teks: Adinda Syafira, Calvin S. Telaumbanua (Penulis); Andika Ramadhan (Editor) 

Foto: Calvin S. Telaumbanua/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children