Pada 29 April—7 Mei 2025, kami melakukan perjalanan ke Maluku Utara. Di sana, kami mengunjungi lokasi program KREASI, bertemu dengan mitra, dan mengumpulkan cerita dari lapangan. Untuk tiba di Pulau Morotai dari Jakarta membutuhkan waktu hampir dua hari. Penerbangan, serta perjalanan darat dan laut kami tempuh. Perjalanan kami memang panjang, namun sesampainya di sana, rasanya seperti tempat yang tepat. Angin sejuk, sambutan hangat, dan percakapan-percakapan yang tulus.
Kunjungan ini merupakan bagian dari transisi kepemimpinan program KREASI. Eusebio Rincón Casado, Chief of Party (sementara) KREASI, datang untuk melihat langsung, mendengar, dan belajar. Ia didampingi oleh Rosianto Hamid, mantan Chief of Party KREASI, yang membawa banyak pengalaman dan wawasan lapangan selama bertahun-tahun. Caroline Keenan, Senior Education Technical Advisor dari Save the Children Australia, juga turut bergabung menawarkan bimbingan dan dukungan teknis. Saya hadir mewakili tim Komunikasi dan Media KREASI, mendokumentasikan cerita-cerita yang seringkali luput dari perhatian.

Kami memulai dengan menghadiri forum di Kantor Bupati Morotai, bertajuk “Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan”. Meskipun namanya terdengar ringan, diskusi yang berlangsung memiliki bobot yang besar. Bersama Save the Children, Stimulant Institute, dan pemerintah daerah, forum ini membahas bagaimana membuat transisi anak dari PAUD ke SD menjadi lebih lancar, lebih menyenangkan, dan mengutamakan kesejahteraan anak. Satu hal yang langsung jadi sorotan adalah kualifikasi guru PAUD. Banyak guru PAUD di Morotai belum memiliki pelatihan formal di bidang pendidikan anak usia dini. Bahkan, saat ini hanya dua guru yang memegang gelar relevan. Kesenjangan ini tentu sangat berpengaruh pada pengalaman belajar anak-anak di usia dini.
Keesokan harinya, kami mengunjungi sekolah dasar di Buho-buho, salah satu sekolah yang teridentifikasi memiliki tingkat literasi rendah. Kami berdialog dengan para guru tentang pengalaman mereka dengan program KREASI yang diimplementasikan oleh Stimulant Institute. Saat berkeliling di lingkungan sekolah, kami menemukan sebuah ruangan dengan fungsi perpustakaan. Namun, ruangan itu dipenuhi perabot lama, barang-barang tak terpakai, dan minim cahaya. Karena keterbatasan ruang, sekolah menggabungkannya dengan area penyimpanan. Ini jadi pengingat nyata betapa lingkungan fisik bisa sangat memengaruhi minat baca anak.
Kami juga mengadakan diskusi terfokus dengan Master Trainers. Mereka adalah para pendidik yang mendukung guru dan kepala sekolah, sekaligus memberikan pelatihan tentang literasi, numerasi, dan kepemimpinan di kelas. Mereka berbagi tentang mendorong perubahan dalam praktik mengajar, tetapi juga menyoroti tantangan yang terus berlanjut. Banyak guru masih kurang percaya diri dalam menerapkan metode baru. Kekhawatiran lain yang muncul adalah masih banyak anak putus sekolah, seringkali karena pernikahan anak dan kesulitan ekonomi.

Di salah satu PAUD, seorang guru berbagi tentang banyak anak yang datang ke sekolah terbiasa memakai bahasa kasar atau tidak pantas yang mereka dengar di rumah. Di kelas, guru tersebut dengan sabar mencontohkan komunikasi yang positif dan saling menghormati, berharap bisa mengubah kebiasaan dan budaya yang ada.
Saat mengunjungi sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI), cerita yang kami dengar juga terasa berat. Para guru mengungkapkan beban emosional yang mereka rasakan saat melihat dampak kekerasan di rumah yang terbawa sampai ke lingkungan sekolah. Dampaknya tidak hanya dirasakan anak-anak, tapi juga sangat memengaruhi para guru.

Perjalanan kami berlanjut ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Tobelo Tengah. Kepala sekolah dengan ramah mengajak kami berkeliling melihat beberapa ruang kelas, terutama untuk kelas 1 hingga 3, serta perpustakaan sekolah. Dalam diskusi lanjutan, para guru berbagi pengalaman mereka dalam pelatihan KREASI tentang literasi, numerasi, kepemimpinan, dan perlindungan anak, yang diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia. Namun, mereka belum mulai menerapkan ilmu yang didapat karena fokus utama mereka saat ini adalah ujian akhir untuk kelas 6. Setelah ujian selesai, mereka berencana untuk berbagi dan menerapkan pengetahuan itu bersama rekan-rekan guru lainnya.
Sebelum mengakhiri kunjungan, kami berkesempatan bertemu dengan Bupati Halmahera Utara, Pit Hein Babua. Ia dengan yakin menyatakan pentingnya pendidikan dalam membentuk masa depan. “Jika kita ingin siswa yang berkualitas, kita harus mulai dengan mendukung guru yang berkualitas,” tegasnya. Selama lima tahun ke depan, pendidikan akan menjadi salah satu prioritas utama di daerahnya. Ia juga menekankan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi itu penting, dan program seperti KREASI punya peran krusial di dalamnya.

Tiga prioritas utama: meningkatkan infrastruktur sekolah, meningkatkan kapasitas guru, dan memastikan sekolah menjadi tempat yang aman dan mendukung bagi setiap anak. Prioritas-prioritas ini sangat selaras dengan misi KREASI untuk memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter sejak usia dini.
Saat perjalanan pulang dari Maluku Utara, saya berefleksi pada orang-orang yang kami jumpai. Para guru yang berusaha keras dengan segala keterbatasan mereka. Anak-anak yang mengemban pengalaman hidup yang terlalu berat untuk usia mereka. Para pemimpin yang berjuang mewujudkan visi mereka di tengah realitas yang ada. Kunjungan ini kembali mengingatkan kami bahwa kemajuan tidak selalu terlihat besar atau bergerak cepat. Kadang, dimulai dari sebuah percakapan. Atau, dari seorang guru yang memilih untuk mengabdi pada kebaikan, bahkan di hari-hari yang paling sulit sekalipun.
Penulis: Laras Sabila Putri (KREASI Communication & Media Manager)