Skip to content Skip to footer

Murniwati Gea, Menata Kembali Pendidikan di Nias Utara

Murniwati Gea mengikuti satu pelatihan pada Maret 2025 yang mengubah cara pandangnya tentang mengajar dan belajar. Selama bertahun-tahun, ia telah mencurahkan hati dan pikirannya di ruang kelas SD Negeri 075089 Sisobahili di Kecamatan Afulu, Nias Utara, Sumatera Utara, selalu mencari cara untuk mendukung siswanya dengan lebih baik. Namun, sebesar apa pun usahanya, selalu terasa ada yang kurang. Murid-muridnya datang dari latar belakang yang beragam dan memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda, dan Murniwati merasa kesulitan untuk menjangkau semuanya.

“Saya punya semangat besar untuk mengajar,” ungkap Murniwati, “tapi kadang rasanya seperti tidak bisa menjangkau semua murid. Saya merasa niat saya sudah benar—tapi pendekatannya belum tepat.”

Titik Balik

Semua berubah ketika ia terpilih menjadi Guru Inti dalam siklus Pengembangan Keprofesian Guru (PKG) melalui inisiatif KREASI oleh Save the Children Indonesia, bekerja sama dengan Article 33 dan Ekosistem Pendidikan Daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Nias Utara. Pelatihan ini menjadi langkah awal dari proses komprehensif untuk memperkuat kapasitas guru dalam menyampaikan keterampilan dasar literasi dan numerasi. Tak hanya memperkenalkan metode dan alat baru, pelatihan ini juga memantik perubahan besar dalam cara pandangnya sebagai seorang pendidik.

Saat mendalami sesi-sesi pelatihan, Murniwati mengalami momen pencerahan. “Seperti lampu yang menyala di kepala,” kenangnya. “Saya sadar selama ini saya mengajar dengan cara yang sama selama bertahun-tahun, tanpa mempertimbangkan bahwa tiap murid belajar dengan cara yang berbeda.”

Satu konsep yang sangat membekas adalah pembelajaran berdiferensiasi—metode yang menyesuaikan pelajaran sesuai kebutuhan unik tiap murid.

“Saya belum pernah terpikir untuk menyesuaikan cara mengajar saya dengan cara siswa memahami pelajaran,” ujarnya. “Pelatihan ini membuat saya sadar bahwa mengajar yang baik bukan sekadar menyampaikan materi—tapi memastikan setiap murid merasa dilihat dan mampu.”

Dari Ragu Menjadi Percaya Diri

Dengan semangat baru, Murniwati kembali ke ruang kelasnya dan mulai menerapkan apa yang ia pelajari. Namun ujian terbesarnya datang tak lama setelah itu, saat ia diminta memimpin sesi pelatihan untuk rekan-rekan guru di Kelompok Kerja Guru (KKG). Awalnya, ia merasa gugup.

“Saya belum yakin bisa melakukannya,” akunya. “Saya sendiri baru saja belajar konsep, keterampilan, dan strateginya. Bagaimana saya bisa mengajarkannya ke guru lain?”

Namun, saat sesi berlangsung, semuanya berubah. “Saya melihat semangat di wajah mereka. Mereka antusias, bertanya, ingin langsung mencoba metodenya di kelas masing-masing,” kenangnya dengan bangga.

Dampak yang Lebih Luas

Yang paling mengejutkannya adalah seberapa cepat dampak pelatihannya menyebar. Para guru yang ia latih mulai menerapkan strategi tersebut, dan perlahan metode itu mulai tertanam di berbagai ruang kelas di Nias Utara.

Pengalaman ini mengubah cara Murniwati memahami perannya sebagai guru. “Sekarang bukan hanya soal membantu siswa menghafal,” katanya. “Tapi soal membantu mereka memahami, terlibat, dan menikmati proses belajar—apa pun latar belakang atau kemampuan mereka.”

Pandangan Baru untuk Masa Depan

Kini, Murniwati memandang ruang kelas dan misinya dengan kacamata baru.

“Saya lebih percaya diri,” katanya. “Saya tahu bagaimana membuat pembelajaran yang inklusif. Saya tahu bagaimana membantu siswa merasa bahwa belajar adalah untuk mereka juga.”

Kisah Murniwati menjadi pengingat bahwa satu kesempatan dapat membawa perubahan yang berkelanjutan; bukan hanya untuk satu guru, tetapi untuk seluruh komunitas. Melalui pembelajaran antar rekan sejawat, pengetahuan terus menyebar, memberdayakan para pendidik dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak di Kabupaten Nias Utara.

“Ketika kita lebih memahami siswa kita,” kata Murniwati, “kita bisa membantu mereka mencapai potensi terbaiknya. Di situlah perubahan sejati dimulai.”


Penulis: Ekali Frida Lumbantoruan (KREASI District Representative for Nias Utara)
Editor: Laras Sabila Putri (KREASI Communication and Media Manager) & Andika Ramadhan (KREASI Communication and Media Support)