Skip to content Skip to footer

Membangun Sekolah yang Diimpikan: Perjalanan Transformasi Kepemimpinan bersama KREASI di Pesisir Barat  

Oleh Puryadi

Saat kali pertama saya diangkat menjadi kepala sekolah di SDN 51 Krui, Pesisir Barat, satu hal langsung terasa jelas: meskipun setiap hari saya sibuk, saya belum benar-benar menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran. Tugas-tugas administratif seperti laporan, absensi, dan berbagai dokumen membuat saya terjebak dalam rutinitas. Semua itu justru menjauhkan saya dari hal yang paling penting: pembelajaran yang bermakna.

Waktu itu, sekolah kami terasa stagnan. Tidak ada arah bersama yang jelas. Guru-guru mengajar tanpa banyak refleksi, dan hubungan antara guru, murid, dan orang tua terasa renggang. Saya sering merasa memikul beban tanggung jawab ini sendirian, tanpa cukup dukungan untuk mendorong perubahan nyata. Gaya kepemimpinan saya masih sebatas administratif—belum menyentuh ranah transformasi.

Perubahan mulai terjadi ketika sekolah kami terpilih menjadi mitra program KREASI pada tahun pertama pelaksanaannya. Saya mengikuti Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Sekolah yang diselenggarakan oleh Save the Children bersama mitra lokal mereka, Yayasan Guru Belajar (YGB).

Pengalaman itu mengubah cara pandang saya terhadap peran kepala sekolah. Saya menyadari bahwa kepala sekolah bukan hanya seseorang yang mengelola tugas harian. Kepala sekolah seharusnya menjadi pemimpin yang mendorong kemajuan, menginspirasi, dan membangun budaya kolaborasi di lingkungan sekolah.

Pelatihan tersebut membantu saya memahami pentingnya perencanaan strategis yang berbasis data nyata, dan bagaimana membuka ruang agar guru dan orang tua bisa terlibat secara aktif. Saya belajar untuk memimpin bukan hanya dengan mengatur, tetapi juga dengan mendengarkan, membimbing, dan memberdayakan orang lain. Dengan sudut pandang baru ini, saya mulai mengubah cara saya memimpin sekolah.

Bersama para guru, kami menyusun visi bersama. Kami mengajak orang tua untuk lebih terlibat dalam proses belajar anak-anak mereka—bukan hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai mitra sejati.

Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Namun perlahan-lahan, situasi di sekolah mulai berubah. Energi baru terasa tumbuh. Hubungan antara guru, siswa, dan orang tua menjadi lebih dekat. Proses pembelajaran menjadi lebih reflektif dan kolaboratif.

Sekarang, kami memiliki mimpi bersama: menciptakan sekolah yang tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, serta menumbuhkan kecintaan terhadap belajar dan berinovasi.

Perjalanan saya masih terus berlanjut. Masih banyak yang perlu diperbaiki. Tapi satu hal yang saya pelajari: sekolah impian bukanlah sekolah yang tanpa tantangan, melainkan sekolah yang terus tumbuh, terus belajar, dan terus melangkah maju—siap menghadapi apa pun yang akan datang.


Penulis: Rikson Simanjuntak (KREASI District Representative for Pesisir Barat)
Editor: Laras Sabila Putri (KREASI Communication and Media Manager)